Hujan Terakhir di Bulan Maret


“Cinta tidak pernah salah, Sayang. Cara kita mencintailah yang menjadikannya salah atau benar.”

Saat itu hujan terakhir di bulan Maret tengah turun, dan kita berdua tengah duduk di sebuah meja di tepi jalan, sembari menyesap minuman dari cangkir masing-masing. Dan mulailah percakapan itu.

“Mengapa kau mencintaiku?” Aku bertanya dengan wajah polos, mencoba menerka-nerka raut wajahmu di balik kacamata hitam yang kau gunakan untuk menutupi jendela hatimu.
“Mengapa? Pentingkah hal itu? It doesn’t matter, Sweetheart. The only thing that does matter is I love you. Tidakkah itu cukup?” jawabmu tersenyum.
Aku menunduk, terdiam. Karena sebenarnya aku pun setuju dengan kata-katamu itu. Aku tidak peduli mengapa kau mencintaiku. Aku hanya tahu bahwa kau mencintaiku, bahkan itu sudah lebih dari cukup. Betapapun, aku tetap penasaran hal apa dari diriku yang membuatmu jatuh hati padaku.
Melihat aku terdiam, kau kembali membentuk lengkungan indah dengan kedua bibirmu.
“Mungkin karena – ah, aku juga tidak tahu pasti – mungkin karena kau begitu polos. Kau begitu – berbeda; kau begitu apa adanya…” dua detik yang singkat, “tapi seperti yang kukatakan tadi, pentingkah hal itu?”

Dan hujan terakhir di bulan Maret mulai bertambah deras, menulikan telinga-telinga yang gila urusan dari percakapan kita. Dan menambah kabut fatamorgana yang menggantung di antara kau dan aku – aku mencoba mengintip sinar matamu.

“Tapi meskipun kau mencintaiku, konsep ‘kita’ tidaklah memiliki masa depan. Bukan begitu?” rasa tercekat mencekik kerongkonganku sementara aku berbicara, “Karena seperti yang kau katakan, aku begitu – berbeda. Mungkin bukan aku yang berbeda. Kaulah yang berbeda. Kita berdua begitu berbeda, sehingga menyatukan kita berdua akan terasa seperti hal yang menggelikan.”
“Dan seperti dua magnet yang berbeda kutub, kita akan selalu saling tarik-menarik,” anggukmu setuju. Kau menundukkan kepala sejenak, memainkan cincin emas mungil yang melingkar di jari manis tangan kirimu. Aku juga ikut menatap cincin emas mungil yang melingkar di jari manis tangan kirimu itu, dan sepercik kepedihan menyeruak dalam hatiku. Ah, mengapa bukan aku yang menyematkan potongan perhiasan itu di jarimu enam tahun yang lalu?

“Aku mencintaimu,” gumamku pelan, lebih kepada diriku sendiri. Syukurlah Tuhan sedang bermurah hati padaku, dengan mengirimkan tetesan-tetesan air hujan yang bersenandung gembira, sehingga kau tidak dapat menangkap nada-nada getir dalam kata-kataku.
Namun kau tersentak. Dan mengangkat kepalamu memandangku. Tapi aku tidak dapat memandangmu, karena kacamata hitam sialan itu membentuk pemandangan satu arah yang kurasa sangat tidak adil.
“Oh,” katamu, lalu kau menutup wajahmu dengan kedua tangan. Dan aku membuang pandangan dari cincin emas mungil yang melingkar di jari manis tangan kirimu. “Jangan mencintaiku. Jangan pernah mencintaiku…”
Dan keberanianku mulai bangkit. “Aku mencintaimu bukan karena kau mencintaiku. Aku tidak butuh cinta berbalas macam itu. Aku mencintaimu karena aku mencintaimu. Aku mencintaimu karena aku memilih untuk mencintaimu.”
“Mungkin kau tidak menyadari betapa indahnya dirimu di mataku, betapa mudahnya dirimu untuk dicintai…” aku merenung sejenak. “Kau tahu, aku tidak akan pernah menuntut apa-apa darimu. Meskipun kau tidak mencintaiku dan tidak memandangku barang secuil, aku akan tetap mencintaimu. Aku sadar kita tidak akan pernah bersama, dan aku menerima hal itu sepenuh hatiku. Aku tahu suatu saat kau akan pergi dariku, dan kembali padanya. Aku tahu saat itu akan tiba. Dan aku sedang mempersiapkan diri untuk saat itu.” Tapi aku belum tahu apakah aku akan siap ketika saat itu tiba, tambahku dalam hati.

Waktu terus berlalu, hujan terakhir di bulan Maret tetap jatuh ke bawah mengikuti gaya gravitasi bumi. Namun, kini kaulah yang menanyakan pertanyaan itu padaku.

“Mengapa kau mencintaiku?”
Aku tertawa geli, merasa menang atas nasib untuk waktu sedetik yang singkat.
“Tentu saja karena kau pantas dicintai, Sayang. Tidakkah kau sadar?” dan karena aku orang yang humoris, maka aku menambahkan, “It doesn’t matter why I love you, Sweetheart. The only thing that does matter is I love you. Tidakkah itu cukup?”
Dan akhirnya kau membuka kacamata hitammu. Mata yang tetap indah, meskipun kini digenangi kilauan air yang lebih murni daripada air hujan terakhir di bulan Maret.
Kau berusaha untuk tertawa menanggapi leluconku, tapi akhirnya suaramu pecah dan satu butir air mata bergulir turun di pipi kirimu. Betapa saat itu aku iri padamu – karena sebagai wanita, kau dapat menangis kapanpun dan di manapun kau inginkan tanpa ada yang mencibir – bahkan tidak peduli apapun alasan untuk tangismu itu.
Dan aku, seorang pria tolol yang mencintaimu dan berusaha bersikap seperti gentleman di hadapanmu, bukannya menawarkan tisu yang bertumpuk-tumpuk di atas meja, melainkan mengulurkan tangan untuk mengusap air matamu dengan jemariku.
“Tapi ini salah…” katamu getir.
“Ya,” kataku, “ini memang salah. Kita berdua tahu hal itu. Mungkin kita akan dibuang ke neraka karena hal ini. Tapi tahukah kau, seandainya waktu bisa terulang kembali dan aku bisa memilih lagi, aku akan tetap memilih untuk mencintaimu. Aku akan tetap memilih cintamu, dengan segala keindahan dan sakitnya, dengan segala dosanya. Karena aku mencintaimu.”
Akhirnya kau tersenyum. Aku senang karena kegombalanku akhirnya mengembalikan lengkung indah di bibirmu itu. Aku suka sekali melihat kau tersenyum, entah kenapa. Mungkin karena saat kau tersenyum, kau membuatku ikut tersenyum tanpa aku harus mengetahui apa yang sedang kau senyumkan. Maka aku pun ikut tersenyum.

Satu menit yang panjang. Kelihatannya hujan terakhir di bulan Maret ini enggan untuk berhenti. Mungkin karena ia tahu bahwa inilah kali terakhirnya membasahi bumi untuk satu musim yang singkat, maka digunakannya kesempatan terakhirnya ini untuk menumpahkan segala kerinduannya pada tanah bumi.

“Aku benci cerita Romeo dan Juliet karya Shakespeare. Mereka hanya perlu mati untuk mempertahankan cinta mereka. Bukankah itu justru cara yang paling mudah?” satu helaan napas, “Atau mungkin aku hanya iri karena mereka tetap bersama hingga akhir cerita. Pada akhirnya, tidak ada satu hal pun yang dapat memisahkan mereka. Bahkan kematian sekalipun.”
“Itu judulnya ‘Love Story’, my dear,” tanggapku. “Yah, mungkin kau benar. Semua cerita cinta yang kita tahu hanya menceritakan sisi-sisi indah dari cinta. They don’t tell us the hurt, the pain, the break up, and the emptiness you’d feel long after you read ‘The End’…

Kami terdiam selama beberapa saat, memerhatikan tetes-tetes hujan terakhir di bulan Maret yang menabrak permukaan tanah dengan ribut.

“Kau harus kembali,” kataku akhirnya, “kembalilah padanya, pada kehidupanmu yang nyata. Karena cerita antara kita berdua hanyalah sepotong mimpi dalam tidurmu yang indah. Kau harus bangun, jangan hidup dalam mimpi ini. Dan kau tidak perlu melupakan mimpimu, karena semakin kau berusaha melupakannya, ia akan semakin berakar dalam hatimu. Kenanglah saja. Kenanglah, bahwa kita pernah bersama, suatu saat dalam hidup kita. Kenanglah, bahwa kita pernah saling mencintai, suatu saat dalam kehidupan kita. Kenanglah, bahwa kita pernah begitu bahagia karena mencintai satu sama lain. Demikianlah aku akan mengenangmu kelak.”

Kau memandangku dengan mata coklatmu yang besar. Dan karena kacamata hitam itu sudah tidak bertengger di sana, aku dapat membaca segurat kepedihan di sana. Mungkin bukan aku yang polos. Mungkin sebenarnya kaulah yang sangat polos. Sangat naïf. Dan sangat rapuh. Sekaligus sangat kusayangi
“Kau akan meninggalkanku?” tanyamu.
“Ya, Sayang, ya. Bukan karena aku tidak mencintaimu, melainkan karena aku sangat mencintaimu, sehingga aku tidak ingin kehidupanmu hancur hanya gara-gara aku.”
Aku menggenggam tangannya. Mungkin genggaman terakhir yang dapat kuberikan sebelum perpisahan terjadi. Dan aku membungkuk mengecup keningnya, seperti yang sudah kulakukan hampir tiap hari selama kebersamaan kami. Mungkin ini juga adalah kecupan terakhir. Kenanglah ini baik-baik, pintaku pada memori otakku.
“Pergilah, Sayangku. Lanjutkanlah kehidupanmu yang nyata, dan jangan rindukan aku. Cukup kenang aku saja. Kenang aku dengan indah, ya?” aku menambahkan sebuah senyuman untuk menambah efek.
“Tapi aku mencintaimu…” ternyata memang bukan aku yang polos. Kaulah yang polos. Dan – ah – itu semakin menambah kepedihanku karena harus meninggalkanmu. Seandainya kau hanya seperti wanita lain yang – yang – yang bukan seperti dirimu, mungkin keadaannya tidak akan sesulit ini.
Aku menghela napas.
“Dengar aku baik-baik,” aku menatap lurus ke matanya – mata yang kini penuh dengan tanda tanya dan sakit hati karena penolakan, “bukankah kau membenci Romeo dan Juliet karena mereka memilih mati? Kau benar, itu memang jalan yang termudah. Namun kita tidak serendah itu, bukan? Kau dan aku tidak selemah itu. It takes a zap of courage to commit suicide like they did, but it requires a lifetime bravery to keep living on your own… dan aku tahu kau memiliki keberanian itu…. Jangan kecewakan aku.”
“Dan kau?”
Aku tertegun sejenak. “Aku? Kau mengkhawatirkanku?” aku terkekeh. “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, Sayang. Aku punya cukup keberanian untuk mencintaimu, maka aku pun punya cukup keberanian untuk meninggalkanmu. Lagipula, apa kau lupa kalau aku ini seorang playboy?” kekehan lagi.
“Kau bohong. Kau tidak setabah itu. Aku tidak akan mencintaimu kalau aku tidak mengenalmu dengan baik.” Lalu kau kembali mengeluarkan senyuman sedih yang nyaris membuat pertahananku runtuh. “Tapi kau benar – kau selalu benar. Konsep ‘kita’ memang tidak punya masa depan. Mungkin ini saatnya aku kembali menjadi realistis.”
“Ah, karena itulah aku mencintaimu. Salah satunya.” Aku mengeratkan genggamanku pada tangannya dan membawa tangan bercincin emas mungil itu ke dadanya. “Ingatlah, bahwa cinta memang tidak pernah salah, namun ada beberapa hal yang harus kita letakkan di atas cinta, yaitu,” aku menatapnya, “nurani, dan tanggung jawab. Kau memiliki keduanya, dan aku mengagumimu untuk itu. Cinta memang butuh pengorbanan, bukan?”

Dan kami pun kembali terdiam. Keheningan yang mendamaikan. Keheningan yang aku ingin agar tidak pernah berakhir. Karena dalam keheningan itu, kami saling menerima apa adanya. Karena dalam keheningan itu, kami saling memahami tanpa harus berkata-kata. Karena dalam keheningan itu, kami saling mencintai dengan sepenuh hati.

Lalu ponselmu berbunyi. Kau meliriknya sejenak lalu menatapku. Dan kita tidak perlu mengucapkan apa-apa, namun kita sudah saling mengerti. Aku mengangguk singkat. Kita menatap langit dan melihat bahwa hujan terakhir di bulan Maret mulai mereda, akhirnya menyerah pada hukum musim dan waktu. Namun tetes-tetesnya masih terasa basah dalam paru-paruku, meninggalkan kenangan yang tidak mungkin kulupakan seumur hidupku.

Kau pun beranjak bangkit dari kursi, dan menatapku untuk terakhir kalinya.
“Jangan ucapkan selamat tinggal,” candaku, “cukup ucapkan saja ‘Selamat jalan dan semoga beruntung’,”
Dan kau menghadiahiku satu senyuman terindah yang pernah kau buat, lalu membungkuk mengecup keningku dan bergumam, “Aku mencintaimu…”
Lalu kau pun berlalu.

Aku mengalihkan pandangan ke atas meja – dan mendapati bahwa kau telah tidak sengaja meninggalkan kacamata hitammu di sana. Atau mungkin kau sengaja – karena kau begitu memahamiku sehingga tahu aku akan membutuhkannya saat kau sudah pergi. Karena kau tahu aku takkan menumpahkan air mata milikku di hadapanmu. Maka aku pun mengambil kacamata hitam itu dan memakainya. Dan aku menangis.

Pergilah, Sayang, pergilah. Ketahuilah bahwa aku tidak akan pernah melupakanmu. Mungkin suatu saat nanti kita akan bertemu kembali, dan mungkin saat itu kau telah kembali berbahagia, dan mungkin aku pun telah menemukan seseorang untuk berjalan di sisiku. Namun kita tidak akan pernah membandingkan mereka dengan kita; kau tidak akan pernah membandingkan aku dengan lelakimu, dan aku pun tidak akan pernah membandingkan kau dengan wanitaku. Karena kita begitu tak tergantikan bagi satu sama lain. Karena kau mencintaiku. Dan karena aku mencintaimu.

Demikianlah kisah kita diawali oleh hujan pertama di bulan November, dan kini diakhiri dengan hujan terakhir di bulan Maret. Begitu singkat, begitu menyegarkan di tengah gersangnya musim kemarau, namun toh akhirnya harus mengikuti aturan musim dan berlalu….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s