Realita Kehidupan Yang Lucu


Dalam agama Buddha, kita diajarkan untuk senantiasa berbuat kebajikan, di mana kebajikan-kebajikan yang kita lakukan ialah untuk mengumpulkan kamma baik yang akan berbuah baik bagi kita dan orang lain. Oleh karena itu, kita tentunya mengupayakan untuk berbuat baik di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja.

Persoalannya adalah, ada saat-saat ketika perbuatan baik yang kita lakukan justru dianggap aneh oleh orang lain. Sebagai contoh, jika kita memungut sampah yang berceceran dan membuangnya ke tempat sampah, biasanya kita akan menerima komentar seperti “Bodohnya inie, kan adaji cleaning service nanti yang bersihkan.” Contoh lainnya, kita kadang mendengar komentar “Si Anu itu sabar sekali kodong. Kasihanku lihat dia.”

Nah lho, lalu lari ke mana semua ajaran-ajaran moral dan budi pekerti yang sudah dijejalkan ke kepala kita sejak SD, bahkan sejak kita mulai bisa mengerti apa yang dikatakan orang lain kepada kita? Bukankah dulu saat pelajaran PPKn dan kita ditanya “Anak-anak, apa yang harus kita lakukan jika kita melihat sampah yang berceceran?” kita selalu menjawab “Dipungut dan dibuang ke tempat sampah, Ibu Guruuu…” Jadi, apa yang sebenarnya telah kita peroleh selama pelajaran PPKn itu? Apakah kita menjawab demikian hanya untuk memperoleh nilai sepuluh di raport kita? Esensi dari pelajaran itu sendiri sama sekali tidak digubris. Makna dari nilai sepuluh itu, yaitu kita diharapkan agar benar-benar membuang sampah yang berceceran ke tempatnya, gagal mencapai tujuannya.

Kalau dihitung-hitung, jika seluruh pendidikan moral dan perilaku yang sudah kita terima selama ini tidak kita terapkan alias tidak berguna, maka kita telah membuang-buang waktu sekitar 15 tahun x 9 bulan x 4 minggu x 2 jam = 1080 jam alias 1,5 bulan, dengan asumsi kita sudah belajar PPKn selama 15 tahun (SD – kuliah), waktu efektif pembelajaran 9 bulan/tahun, 4 minggu/bulan, dan pelajaran PPKn yang kita terima adalah 2 jam setiap minggunya!

Mungkin waktu 1,5 bulan itu tidak terlalu bermakna jika diukur dengan rutinitas kita saat ini, namun yang jelas, 1,5 bulan adalah waktu yang sangaaaaaaaaaaat panjang jika digunakan untuk menyia-nyiakan sesuatu. Jadi, itu adalah pilihan yang harus kita putuskan, apakah waktu 1,5 bulan yang telah kita jalani, akan kita jadikan berarti atau tidak.

Yang lebih aneh lagi adalah komentar “Sabarnya si Anu kodong”. Hal ini menurut saya sangatlah rancu. Lha wong sabar itu kan sifat yang baik, kok malah pakai ‘kodong’ alias dikasihani? Kenapa tidak dipuji karena orang itu sabar? Apakah kesabaran itu sedemikian mengibakannya di mata kita? Mengapa?

Mungkin hal ini disebabkan karena sabar berarti meredam ego, menekan emosi, untuk bertindak sesuai dengan insting atau naluri. Sabar berarti meredam kemarahan atau kejengkelan dan menerimanya dengan lapang dada, sehingga tidak sampai melampiaskannya kepada orang lain. Karena kita ‘menahan’, maka dianggap ‘sulit’ oleh orang lain, karena kita ‘tidak melepaskan apa yang seharusnya kita lepaskan’. Karena dianggap sulit, maka kita pun dikira ‘setengah mati menahan diri’.

Apakah benar demikian? Tidak selamanya. Apa yang dianggap sulit oleh orang lain, belum tentu sulit bagi kita. Jika kita telah melatih diri untuk meredam emosi dan menomorduakan ke-aku-an, maka saya kira tidak sesulit yang dibayangkan orang. Apalagi jika kita telah memahami penyebab ketidaksabaran itu, dan kita mampu menerimanya dengan sepenuh hati, maka ketidaksabaran itu akan hilang dengan sendirinya. Kita cukup berkata “Saya marah karena hal itu, dan saya menerima bahwa saya marah karena hal tersebut” Maka, plop, hilanglah kemarahan itu.

Kebanyakan orang tidak mampu meredam kemarahannya karena mereka tidak mampu menerima penyebab kemarahan itu; mereka belum mampu untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Kadang setelah kita renungkan, penyebab dari kemarahan itu justru berasal dari dalam diri kita sendiri. Orang-orang yang menerima bahwa mereka marah, lebih mudah untuk menanggulangi kemarahannya dibanding dengan orang-orang yang tidak mau menerima kemarahannya.

Jika ditinjau dari sisi demikian, maka orang yang sabar rasanya agak aneh kalau disebut memprihatinkan. Justru mereka telah mencapai tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan orang-orang yang kurang sabar. Stigma ‘sabar itu lemah’ juga salah, karena kesabaran justru membuktikan bahwa mereka lebih kuat, lebih tahan banting dalam mengontrol emosinya dibandingkan mereka yang meledak-ledak. Inti dari kesabaran ialah kontrol atas diri sendiri, sehingga apa yang kita lakukan benar-benar kita lakukan atas kehendak sendiri alias tidak lepas kontrol.

Sebagai penutup, perlu saya tambahkan bahwa semua ajaran Sang Buddha berpusat pada kontrol penuh atas diri sendiri baik ke dalam (pikiran) maupun ke luar (perbuatan). Oleh karena itu, kesabaran pun salah satu hal yang dituju dalam agama Buddha. Kita tidak perlu takut dicap negatif apabila bersikap sabar, karena cap-cap negatif dari pihak lain pun merupakan salah satu sarana untuk melatih kesabaran kita.

Alkisah ada seorang filsuf yang memiliki istri yang sangat cerewet. Sepanjang waktu di setiap hari istri sang filsuf mengomeli suaminya tentang ini-itu, dan melampiaskan kejengkelannya pada suaminya. Semua orang yang menyaksikan hal tersebut sangat prihatin akan keadaan filsuf tersebut.
Suatu hari, sang istri jatuh sakit. Semua orang diam-diam mensyukuri hal itu, karena dengan demikian berarti ia tidak akan bisa mengomeli suaminya yang baik hati untuk sementara waktu. Anehnya, sang filsuf justru tampak murung dan tidak gembira sama sekali.
Karena penasaran, seorang muridnya memberanikan diri bertanya kepada sang filsuf, “Guru, mengapa Anda tampak bersusah hati? Maafkan saya, tetapi bukankah seharusnya Anda merasa lega karena tidak lagi diomeli oleh istri Anda yang cerewet itu?”
Sang guru kemudian menjawab, “Justru dengan demikian berarti aku telah kehilangan kesempatan untuk melatih kesabaranku.”

Advertisements

One thought on “Realita Kehidupan Yang Lucu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s