Sesederhana Cintaku Padamu


Masih ingatkah kau, waktu kita pertama bertemu pada suatu senja di tempat itu?
Aku masih ingat semuanya; sapaanmu, kata-kata pertamamu, jabat tanganmu, kemeja putih lengan panjang yang kau kenakan; aku masih ingat itu.
Mungkin kesan pertamaku tentangmu tidak berarti apa-apa, tidak se-spesial itu, cuma sekadar angin lalu saja.
Soalnya, waktu itu aku kan belum mengenalmu.
Dan aku belum tahu akan jadi seperti apakah kisah kita nanti.
Oh, itu memang hanya sebuah pertemuan yang sederhana.

Masih ingatkah kau, waktu kau pertama kali tersenyum padaku?
Aku masih ingat; lengkung bibirmu, gigi putihmu, matamu yang sedikit menyipit, dan rasa hangat yang terpancar dari sunggingan bibirmu yang ramah; aku masih ingat, kok.
Kalau dipikir-pikir lagi, itu betul-betul hanya sebuah senyuman yang biasa.
Sekadar senyuman basa-basi yang biasa dilemparkan seseorang pada saat perkenalan pertama mereka dengan orang lain.
Dan bagaimanapun juga, tentu saja aku harus membalasnya dengan senyuman juga.
Maka aku pun balas tersenyum.
Dan lagi-lagi, itu memang hanya sebuah senyuman yang sederhana.

Masih ingatkah kau, waktu kita pertama kali mulai berbincang?
Aku masih ingat dengan jelas; topik diskusi kita, candaanmu yang membuatku kesal, gerakan tanganmu ketika berbicara, dan kadang-kadang kau berhenti sedetik untuk berpikir; aku masih ingat.
Waktu itu, aku mulai berpikir, ‘hei, orang ini kelihatannya menarik juga’ dan aku sungguh-sungguh menikmati percakapan kita.
Tapi, yah, seperti yang sudah kubilang tadi, apa sih yang spesial dari itu semua?
Itu kan hanya sebuah percakapan yang biasa. Sangat sederhana.

Masih ingatkah kau, waktu kita akhirnya mengakui bahwa kita saling menyukai satu sama lain?
Tentu saja aku masih ingat; semburat merah di pipimu, kata-kata cintamu, rasa kikuk yang kita berdua rasakan, mata kita yang sekali-kali saling mencuri pandang, dan perasaan ingin berteriak saking bahagianya; aku sungguh masih ingat.
Dan, hei, aku benar-benar tidak menyangka hal itu akan terjadi di antara kita berdua.
Rasanya aneh saja, bagaimana dua orang yang sebelumnya tidak saling mengenal, tiba-tiba menemukan kecocokan yang menentramkan dan memutuskan untuk berbagi kebersamaan itu lebih lama.
Apalagi, hal seperti itu kan sering kita lihat di film-film dan novel-novel remaja.
Jadi, seharusnya itu semua hanyalah pernyataan cinta yang sederhana, bukan?

Masih ingatkah kau, waktu pertama kali kita bertengkar?
Aku masih ingat; aku cemberut dan tidak mau berbicara padamu, kau pun tidak menggubrisku, dan kita tidak saling berkata-kata selama satu jam penuh; aku masih ingat perasaan sakit hati itu.
Tapi, kau tahu tidak?
Selama satu jam itu, aku selalu berusaha mencuri pandang ke arahmu; aku ingin tahu kau masih marah padaku atau tidak.
Soalnya, aku ingin sekali minta maaf, karena sifat kekanak-kanakanku yang menyebabkan kita bertengkar. Tapi, aku takut kau masih marah, jadi aku diam saja dan mengintipmu dari balik bulu mataku.
Dan kau tahu, sebenarnya aku juga tersenyum dalam diamku, karena tiap kali aku mencuri pandang ke arahmu, kudapati bahwa kau juga sedang berusaha mencuri-curi pandang ke arahku; dan aku senang mengetahui hal itu.
Dan ketika akhirnya kau minta maaf padaku, aku menangis, kau ingat tidak?Soalnya, aku merasa akulah yang bersalah, tapi justru kau yang meminta maaf.
Jadi aku bertanya, kenapa?
Dan kau menjawab, “Sederhana saja, karena aku mencintaimu,”
Maka jadilah itu sebuah peristiwa yang sederhana.

Dan sekarang, saat kita berdua duduk bersama di tempat ini dan mengenang kebersamaan kita selama ini.
Aku mulai berpikir, dan merangkai seluruh kejadian yang kita alami bersama, mulai dari awal perjumpaan kita, pernyataan cinta kita, pertengkaran-pertengkaran kita yang manis, sampai akhirnya setelah sekian lama dan kita masih bersama; aku menyusunnya menjadi sebuah rangkaian kisah yang indah.
Dan dengan takjub aku mendapati; bahwa semuanya ternyata sederhana saja!
Karena memang begitulah cinta; begitu sederhana dan begitu indah!
Maka ketika kini kau bertanya padaku, mengapa aku mencintaimu dan mau tetap bersamamu setelah sekian lama, aku hanya bisa menjawabnya dengan sederhana.
“Itu, Sayang, adalah sesederhana cintaku padamu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s