Akankah Kau Menangisi Makamku, Sayang?


Akankah kau menangisi makamku, Sayang?
Setelah jutaan belati yang kutikamkan di jantungmu, setelah ribuan umpatan yang kuteriakkan padamu, setelah ratusan cibiran yang kualamatkan padamu?

Akankah kau menangisi makamku, Sayang?
Ketika jasadku perlahan diturunkan ke liang lahat oleh orang-orang tak dikenal yang diupah untuk mengangkut renik duniawiku dari bangunan yang kusebut rumah?
Ketika bongkahan demi bongkahan tanah mulai dijatuhkan ke dalam lubang menganga yang mereka bilang tempat peristirahatan terakhirku?
Ketika satu demi satu kacamata hitam mulai ditenggerkan di batang hidung para pelayat, ketika isakan demi isakan mulai disuarakan oleh orang-orang yang menyebut diri mereka teman dan keluarga?

Akankah kau menangisi makamku, Sayang?
Jika seandainya aku tidak dikubur, melainkan dikremasi, dimasukkan di dalam tempat pembakaran logam berjendela kecil di mana semua orang memalingkan muka dengan alasan air mata?
Ketika tubuhku di dalam sana mengalami api penyucian, ataukah itu api neraka, jauh sebelum jiwaku bahkan mencapai tempat pengadilan terakhir?
Dan ketika akhirnya, seperti mereka bilang, dari abu kembali ke abu, dari tanah kembali ke tanah, dan sisa-sisa molekulku diterbangkan angin untuk menyuburkan tanaman-tanaman yang pada akhirnya akan digunduli untuk membuat jalan raya
Akankah kau menangisi makamku?

Akankah kau menangisi makamku
Setelah semua hal yang kulakukan padamu
Dan tumpahan kebencian membuncah di antara kita
Akankah?

Akankah kau menangisi makamku
Setelah aku mengotori diriku sendiri
Berkubang di dalam lumpur duniawi
Bermandikan dosa, berjubahkan harta, dan bermahkotakan nista?
Akankah?

Akankah kau menangisi makamku
Setelah bahkan orang-orang yang berdarah sama denganku
Mengutuk darahku, membuang namaku, dan menghapus keberadaanku dalam sejarah mereka
Sehingga aku bahkan tidak tahu di mana kusimpan jiwaku
Akankah?

Lalu kau ini siapa?
Setelah jutaan belati yang kutikamkan di jantungmu, setelah ribuan umpatan yang kuteriakkan padamu, setelah ratusan cibiran yang kualamatkan padamu?
Kau, yang datang di saat-saat terakhir, saat para pelayat mulai menanggalkan topeng duka mereka dan saling mengurut dada dengan perasaan lega
Kau, yang datang dalam diammu, tanpa pakaian berkabung, tanpa kacamata hitam, tanpa air mata
Kau, yang berlutut di tanah di samping makamku, membersihkan debu dan dedaunan dari nisanku, mencabuti rumput liar yang mulai mengotori gundukan tanahku, lalu meletakkan setangkai mawar dan memanjatkan doa?
Kau siapa, hah?
Siapa?

Aku berlutut
Menjatuhkan diri dan merendahkan hati
Lalu aku menangisi makamku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s