Ambivalensi


Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Betapa menakjubkannya bahwa hanya dua kata itu sudah mampu membuatku melayang ke surga dan terhempas ke neraka. Tahukah kau, sejak kapan aku mencintaimu?
Aku menyadari bahwa aku mencintaimu justru pada saat aku telah memutuskan untuk melupakanmu. Ya, saat menyendiri dan menatap langit berbintang itulah aku untuk pertama kalinya bisa mengatakan “Aku mencintainya”.

“Aku mencintaimu. Rasa cinta yang kurasakan padamu adalah jenis cinta yang paling tinggi yang bisa kurasakan terhadap orang lain. Dengan rasa cintaku, aku belajar untuk melupakanmu, karena aku tahu bahwa kau tidak mencintaiku; jadi apakah aku harus memaksakan cintaku padamu? Aku mencintaimu. Karena itulah maka aku harus melupakanmu. Karena kau menyukai orang lain, bukan diriku. Karena aku mencintaimu, maka aku harus merelakanmu keluar dari hatiku, agar kau bisa berbahagia dengan orang lain yang kau cintai. Karena aku mencintaimu, maka aku akan berusaha untuk membuatmu bahagia, meskipun itu berarti aku harus merelakanmu dengan orang lain. Karena aku mencintaimu, maka aku akan bahagia kalau kau juga bahagia. Aku akan bahagia dan bisa tersenyum jika melihatmu bahagia dengan orang yang kau cintai, meskipun hatiku sakit seperti ingin mati. Aku mencintaimu.”

Andai kau tahu
Aku ada
Apa yang akan kau lakukan?

“Aku takut, sekaligus marah dan bahagia. Aku takut, karena di saat aku ingin melupakanmu, kau malah datang dan mengacaukan semuanya. Aku marah, karena mengapa baru sekarang, di saat aku ingin berhenti mengharapkanmu, kau justru datang dan memberiku harapan? Namun di atas semua itu, aku bahagia karena akhirnya kau menyadari bahwa aku ada.”

Now I know that fairytales do exist…

“Saat-saat itulah aku mengalami satu kebimbangan besar dalam hatiku. Manakah yang harus kupilih, antara cinta yang menyakitkan atau kebahagiaan tanpa cinta? Jika aku memilih cinta yang menyakitkan, berarti aku memilihmu, karena aku mencintaimu, meskipun itu menyakitkan karena ketidakjelasan perasaanmu terhadapku. Sampai kapankah aku harus menunggumu? Sebaliknya, jika aku memilih kebahagiaan tanpa cinta, maka berarti aku akan melupakanmu dan membuka hatiku untuk orang lain, yang meskipun tidak kucintai namun aku bisa belajar untuk mencintainya. Hidup ini cuma sekali, jadi mengapa tidak kubiarkan saja diriku mengecap sedikit saja kebahagiaan dari cinta yang diberikan orang lain kepadaku, meskipun aku tidak mencintainya? Aku sadar, itu berarti aku akan menipu dia, namun apa salahnya belajar untuk mencintai seseorang? Aku bingung. Aku tidak tahu mana yang harus kupilih. Setelah lama berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk memilihmu, memilih untuk bertahan pada cintaku, karena aku mencintaimu.”

Because my mind isn’t that stupid, but my heart isn’t clever enough…

“Aku membencimu, begitu membencimu. Dan seperti kata Claudia kepada Louis, ‘Ukuran kebencianku adalah rasa cintaku kepadamu’. Ya, demikianlah halnya. Aku begitu membencimu sekaligus mencintaimu, sehingga manapun yang kulakukan akan terasa sangat menyakitkan bagiku. Mencintaimu adalah menyakitkan, karena kau terus menyakitiku dan aku terus menyakitimu. Kita berdua saling menyakiti satu sama lain, dan tak seorang pun di antara kita yang ingin menghentikan penderitaan ini. Namun, membencimu adalah lebih menyakitkan karena aku begitu mencintaimu sehingga aku tidak tahu bagaimana harus membunuh cintaku.”

And so on…
We met another, we were saying love to each other, and the feeling grew up.
Until one day, we began to fight each other, we began to hate each other, and we were killing our love.

Thus, I end this story.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s