Cinta Gila


Aku mengintai dari celah pintu dan memerhatikan mereka. Sepasang kekasih yang sedang meringkuk di balik selimut. Si wanita, dengan rambut panjangnya yang ikal, tampak bergelung nyaman dalam pelukan si pria yang sedang mendengkur halus. Tubuh-tubuh yang sejak beberapa jam yang lalu telah kuawasi dengan saksama. Beberapa jam yang sudah cukup untuk membuktikan kecurigaanku selama ini, serta membenarkan alasan untuk tindakan yang akan kulakukan sebagai gantinya.

Aku melangkah keluar dari tempat persembunyianku, mengurangi jarak di antara kami – si Yudas beserta komplotannya dan sang malaikat pembalas dendam. Aku berhenti sekitar satu meter dari tepi ranjang dan memandangi mereka.

Wajah si pria tampak damai – tentu saja, belum sampai setengah jam yang lalu ia berkunjung ke surga bersama pasangannya. Sekian lama aku memerhatikan si pria, mencoba mencari hal menarik apa yang menyebabkan si wanita menjatuhkan pilihan padanya. Wajahnya yang tirus, alisnya yang tebal, serta hidungnya yang mancung – mungkin dapat dikategorikan tampan, tapi jelas tidak untuk bibirnya yang agak miring dan telinganya yang sedikit agak terlalu besar.

Aku mengalihkan pandanganku pada si wanita, dan menyadari sesuatu dalam dadaku bagaikan terperas hanya dengan melihat raut wajahnya. Ia sungguh cantik, bahkan tanpa riasan pun ia tetap cantik. Bulu matanya yang tebal dan panjang, yang selalu membuatku tergila-gila, bahkan sampai sekarang, pipinya yang senantiasa merona merah (aku selalu senang menggodanya sedemikian rupa hingga pipinya bersemu – oh Tuhan!). Namun bukan itu yang membuat hatiku seperti tertusuk-tusuk, melainkan bibirnya. Ia tersenyum dalam tidurnya. Ia tersenyum dalam tidurnya dalam pelukan laki-laki brengsek itu. Aku mengeraskan genggamanku pada – .

Si wanita membuka kelopak matanya dan langsung memandang lurus ke mataku.

“Hai, Sayang,” gumamnya dengan nada setengah mengantuk. Namun ia tersenyum. Senyuman munafik yang diwarisinya langsung dari sang iblis. “Aku sudah menunggumu.” Ia duduk.

Aku sama sekali tidak kaget. Bukankan iblis memang selalu penuh tipu daya?

“Menyenangkan, eh?” Aku mengedikkan kepala ke arah si pria, yang sama sekali tidak terganggu dengan percakapan kami – wanita iblis dan malaikat pembalas dendam.

“Kau cemburu?” Ia tersenyum. Nada bicaranya manis dan membujuk, sungguh membuat perutku bergolak.

Melihat aku membisu, ia melanjutkan, “Bukankah sudah kukatakan padamu, bahwa hubungan kita sudah berakhir?” Berhenti sejenak. “Aku sudah tidak menginginkan – hubungan semacam itu lagi,”

“Maaf sekali, Sayang,” ujarku, “tapi kupikir pemutusan suatu hubungan harus mendapat persetujuan dari kedua belah pihak, bukan begitu?”

Kali ini ia yang terdiam. “Tidakkah kau mengerti bahwa – hubungan semacam itu sangat sulit untuk dipertahankan?” Akhirnya ia berbicara.

“Tidak, kalau kita memiliki cukup cinta untuk memperjuangkannya. Dan aku mencintaimu. Tidakkah kau mencintaiku? Tidakkah kau cukup mencintaiku?” balasku.

“Jangan berbuat bodoh. Turunkan benda itu, Sayang,” ujarnya ketika akhirnya melihat benda yang sedang kupegang. “Demi Tuhan, turunkan benda itu!” Si pria bergerak sedikit dalam tidurnya.

“Ah, apakah kau takut?” Gantian aku yang tersenyum. “Sekarang kau sebaiknya diam dan dengar apa yang akan kukatakan,”.

“Hal apa,” aku menunjuk pria itu dengan benda yang sedang kupegang, kudengar ia menahan napasnya, “yang membuatmu memilih pria itu, dan bukan aku?” Aku menepuk dadaku. “Kau tahu aku mencintaimu, dan aku tahu kau juga mencintaiku. Setidaknya seperti itulah keadaannya sebelum pria itu datang dan menghancurkan kebahagiaan kita berdua. Jangan membantah – kau tahu persis keadaannya memang seperti itu.”

“Kau sedang hancur ketika itu, gara-gara pria brengsek seperti dirinya, lalu aku datang dan mengangkatmu dari jurang keputusasaan. Dan kita bahagia. Lalu sekarang, pria brengsek lainnya datang dan kau mencampakkanku begitu saja; di mana rasa terima kasihmu?”

Yes, we were happy,” ia berbisik, “namun itu tidak mengubah kenyataan. Kita tidak akan pernah bisa bersama. Hubungan semacam itu tidak memiliki masa depan. Dan aku tidak mencintaimu lagi. Maaf,”.

Lalu aku menembak. Tepat di dahi si pria yang sama sekali tidak menyadari kejadian yang sedang berlangsung. Aku sedikit menyesal. Kalau saja ia terbangun, mungkin rasanya akan lebih sakit. Kalau saja aku mengenai wajahnya, mungkin ketampanannya akan berkurang dan membuat si wanita kembali berpaling padaku. Sekarang ia hanya berpindah dari satu keadaan tidur ke keadaan tidur lainnya. Sungguh sayang.

Si wanita tidak menangis. “Ia orang yang baik,” gumamnya. Ia lalu menatapku. “Jadi kau mau apa sekarang? Menembakku juga? Karena aku tidak lagi mencintaimu? Sungguh menyedihkan.”

“Tidak, Sayang. Sudah kukatakan, aku mencintaimu. Sekarang, kalau kau mau mengakui kesalahanmu dan kembali padaku, aku berjanji akan melupakan semuanya dan membuatmu menjadi wanita paling bahagia di muka bumi ini. Selain diriku, tentu saja,”

“Aku tidak mau,” ia menundukkan kepala. Ternyata ia wanita yang keras kepala.

Bukan ‘aku tidak bisa’ tapi ‘aku tidak mau’. Ia bisa saja kembali padaku, tapi ia tidak mau. Dan itu membuat darahku mendidih. Mungkin dunia memang tidak adil, tapi aku tidak rela dipermainkan. Aku membuat aturan-aturanku sendiri. Dan aturan-aturanku harus tetap berjalan.

Jadi aku menembak. Berhati-hati agar tidak merusak wajahnya yang indah, aku menembaknya tepat di jantung. “If I can’t have your heart, then no one else will, Sweetheart,” aku berbicara kepada udara kosong.

Setelah itu, hening. Yudas dan komplotannya menolak pertobatan yang ditawarkan, maka sang malaikat pembalas dendam pun menuntut haknya.

Aku beranjak ke depan cermin, dan membenahi riasanku yang sempat luntur. Lalu aku menunduk dan memperbaiki lipatan rokku. Kemudian aku mengeluarkan ponsel dan menelepon 911.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s