Duniaku


Pintu-pintuku telah kubuka
Bahkan jendela pun kubuka lebar-lebar
Dan aku berdiri di tengah-tengah semuanya
Siap menyambut mereka dengan hati berdebar

Dan tamu-tamu pun berdatangan
Ada yang kuundang, ada yang sekadar lewat, dan sebagainya
Dengan berbagai alasan
Mereka ada di sana

Aku menyambut mereka yang kuundang
Dan kami berbincang
Aku menerima mereka yang hanya lewat
Dan kami saling melihat

Entah kenapa, aku menyukai ini
Semua terasa begitu damai
Aku bahagia
Dan mereka bahagia

Dan tiba-tiba aku tersadar
Bahwa kau ada
Dan kau pun tersadar
Bahwa aku juga ada

Inilah awal dari segala bencana
Karena kita baru saling menyadari
Sehingga kita menjadi buta karenanya
Karena yang nampak hanyalah ilusi

Kau tegak di pusat segalanya
Dan segalanya mengelilingimu
Bagaikan matahari di tengah tata surya
Cahayamu telah menutupi pendarku

Ilusi itu begitu indah
Begitu terasa nyata
Bahkan olehku yang begitu resah
Segala kuasa menjadi tak bermakna

Dan akhirnya
Retaklah sang mimpi
Keping-kepingnya berguguran
Dan jatuh ke bawah awan

Kita mengiris hati
Kita melukai jiwa
Kita menuai benci
Kita membunuh rasa

Dan kau keluar melalui pintu
Ataukah aku yang mengusirmu?
Tak tahu harus merasa lega atau galau
Karena kita telah kacau

Dan ketika semuanya reda
Aku kembali menyadari
Bahwa ternyata mereka masih ada
Tamu-tamuku, mereka masih tetap di sini

Kau hanyalah mimpi
Nyata pun, tiada berarti
Karena semua itu hanyalah ilusi
Aku telah berfantasi

Namun ternyata ada yang berbeda
Ilusi itu telah meninggalkan rasa
Rasa yang aku tak tahu pernah ada
Namun anehnya betapa akrab terasa

Aku mengumpulkan sisa-sisa pendarku
Berjuang untuk kembali bercahaya
Meskipun harus berjuang sekuat tenaga
Hanya untuk berkerlap-kerlip di tengah gulita

Pendarku tak sama seperti dulu
Tak lagi secerah dulu
Tak lagi sejernih dulu
Tak mampu menerangi seluruh duniaku

Pelita itu kini kugenggam erat-erat
Takkan lagi kulepaskan
Takkan lagi kuberikan walau sekerat
Karena tanpanya aku akan tertelan

Kini aku tetap berdiri di tengah-tengah sini
Bersiap menyambut tamu yang datang
Namun kini aku berdiri di dalam tirai
Bersembunyi di balik selubung

Pandanganku menjadi lemah
Telingaku pun menjadi setengah tuli
Ingin berkata namun hanya mampu melenguh
Semua karena dibatasi tirai ini

Lanjutkan hidupku
Tegarkan pandangku
Waktu terus melangkah
Meskipun aku hanya setengah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s