Epilog


“Akhir kisah yang indah, ya?” Kami berdua sedang duduk di sebuah kafe di pinggir jalan; saat itu senja hari dan langit tengah memamerkan arak-arakan jingganya yang megah di angkasa. Si lelaki yang melontarkan komentar tadi duduk di hadapanku sambil menyesap kopinya; pandangan matanya menerawang entah ke mana, dan segurat senyum tipis tampak di bibirnya.

“Ya, indah – secara ironis.” jawabku. Entah mengapa aku merasa perlu untuk membalas komentarnya. Mungkin aku hanya ingin memecah keheningan di antara kami. Atau mungkin aku hanya mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku. Atau mungkin aku memang mengatakan kebenaran. Kebenaran yang sungguh-sungguh terjadi, namun sayangnya kebenaran itu bukanlah untukku.

Ia terkekeh sejenak, lalu kemudian beralih menatapku.

“Jadi Sang Pangeran telah menemukan Sang Putri, menjemputnya dengan kuda putih, lalu mereka hidup berbahagia selamanya,” ia kembali meneguk kopinya. “And they live happily ever after…” lalu menambahkan, “… without knowing that they had left two broken hearts behind…” tepat saat aku menggumam sendiri, “Dan tinggallah dua anak manusia yang menyesali diri mereka.”

Kami berpandangan sejenak, lalu aku tertawa getir. “Tidak apa-apa, jangan hiraukan aku. I’m not in a very good mood anyway.

“Tentu saja.”

Kami kembali terdiam. Lama setelah itu, ia mulai menyenandungkan sebuah lagu perlahan.

“Maafkan aku. Maafkan dia. Maafkan kami, karena kami telah masuk di kehidupanmu dan mencuri sumber kebahagiaanmu.” aku menggumam, lebih kepada diriku sendiri.

“Hei, untuk apa kau minta maaf? Terlebih lagi, kau meminta maaf untuk kalian berdua,” ia tidak mampu menahan tawanya, dan berhenti sejenak untuk mengambil napas.

“Yah, tapi bukankah memang seperti itu kejadiannya? Kau sudah bahagia bersamanya, sampai kemudian kami datang dan…” aku tidak melanjutkan ucapanku.

Well, aku tidak bisa memungkiri hal itu, tapi bukankah tidak ada yang salah dalam cinta? Lagipula, ini bukan kesalahanmu sama sekali.” Ia menatapku. “Kita berdua adalah korban, bukan begitu?”

Aku merasa terusik dengan pernyataannya. “Aku bukan korban. Aku… dia sama sekali tidak tahu bahwa aku mencintainya,”

“Ah, jadi itulah sebabnya kau meminta maaf juga untuknya? Aku sama sekali tidak mengerti.” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. “Wanita,” gumamnya.

“Apakah kau tidak menyesal bahwa kau tidak pernah mengatakan perasaanmu padanya? Maksudku, hanya dengan satu tindakan kecilmu itu saja, kita mungkin akan mendapatkan hasil yang berbeda. Kalau kau mengatakannya, mungkin ia tidak akan pergi darimu. Kalau kau mengatakannya, kita mungkin tidak akan duduk berdua di sini, saling menatap seperti orang dungu. Dan mungkin, kita bahkan tidak akan pernah bertemu. The butterfly effect.” Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.

“Dengan sebuah kepakan sayap kupu-kupu di suatu belahan bumi, akan dapat menciptakan angin topan di belahan bumi yang lain,” sambungku.

Ia tersenyum. “Setidaknya aku mencoba dan gagal, sedangkan kau tidak mencoba dan menyesal.”

Apakah aku menyesal? Ya, mungkin aku memang sedikit menyesal. Seperti yang dia katakan barusan, aku kerap bertanya-tanya, seandainya dulu aku mengatakannya, mungkinkan hasilnya akan berbeda? Harapan kosong itu kadang menghantuiku, namun tidak kalah besarnya dengan ketakutan akan penolakan yang mungkin akan kudapatkan, seandainya aku mengatakannya.

Aku mengangkat dagu. “Aku tidak mau menyesali hal yang sudah terjadi,”

“Dan seperti yang telah kukatakan, tidak ada hal yang salah dalam cinta. Aku telah mencoba dan gagal, namun aku tidak menyesal. Kau juga tidak mencoba, namun kau juga tidak menyesal. Kau tahu kenapa? Karena kita mencintai mereka berdua. Kita terlalu mencintai mereka untuk merusak kebahagiaan mereka dengan keegoisan kita sendiri. Meskipun kita sadar bahwa mungkin saja kau lebih baik daripada wanita yang aku cintai, dan mungkin saja aku lebih baik daripada pria yang kau cintai, namun apakah hal itu penting? Karena cinta tidak menuntut kesempurnaan, tidak menuntut orang yang terbaik dari semua orang. Cinta itu begitu – bagaimana kita menyebutnya – begitu sederhana, sehingga ketika kita berusaha memahaminya dengan pemikiran manusia kita yang rumit, kita tidak akan mampu.”

Dan ketika itulah aku sadar, bahwa di balik penampilannya yang sedemikian tak acuh, sebenarnya luka yang ditinggalkan cinta terhadapnya sama besar dengan luka yang ditorehkan cinta padaku, bahkan mungkin jauh lebih besar. Aku, yang tidak pernah mencoba, tidak pernah membuka pintu hatiku untuk cinta, sehingga luka yang kuperoleh hanyalah luka-luka memar – luka luar. Mungkin tampaknya hatiku remuk dan tak berbentuk, tapi setidaknya aku tetap melindungi isinya, karena aku tidak membuka pintu hatiku. Sedangkan dia, yang telah membuka lebar-lebar pintu hatinya dan menerima cinta dengan penuh pengharapan, pada akhirnya juga harus menerima kekalahan. Mungkin, jika diumpamakan, kekalahannya bagaikan disebabkan oleh kuda Troya yang menyusup masuk dan menghancurkannya dari dalam.

Aku tersenyum sendiri memikirkan perumpamaan itu. Lukaku adalah luka akibat benda tumpul – tampak parah dari luar, namun tidak terlalu dalam. Di sisi lain, lukanya adalah luka akibat benda tajam – luarnya tidak terlalu parah, namun menusuk sedemikian dalamnya. Sungguh ironis.

“Hei, berbagilah padaku kalau kau menemukan sesuatu yang lucu,” guraunya.

Aku menatapnya dan berkata, “Kau tahu tidak? Seandainya hidup ini adalah sebuah film, dan kita berempat adalah para pemerannya, kau tahu apa yang seharusnya terjadi sekarang?”

Ia mengangkat bahu. “Salah satu dari kita bunuh diri?”

“Tidak. Kau lihat, ini seperti akhir dari sebuah film. Akhir yang bahagia – untuk kedua pemeran utamanya. Sedangkan kita – kau sebagai pemeran pembantu pria dan aku sebagai pemeran pembantu wanita – kita bertugas untuk memastikan pemeran utama pria dan pemeran utama wanita saling bertemu, jatuh cinta, dan dan hidup berbahagia selamanya. And they live happily ever after…

Without knowing that they had left two broken hearts behind,” sambungnya tergelak. “Kau benar. Akhir dari film-film itu tidak pernah menceritakan betapa mereka yang ditinggalkan akan merasa patah hati. Mereka tidak pernah membahas kesedihan para pemeran pembantu setelah ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka cintai. Semua hanya terfokus pada para pemeran utama – mereka bahagia, akhir dari cerita. Dan kita adalah para pemeran pembantu yang malang itu,” ia kembali terkekeh, lalu melanjutkan dengan getir, “Hanya saja, hidup tidak sesederhana itu. Akhir dari sebuah kisah, merupakan awal dari sebuah kisah yang lain. Tidak ada ‘The End’ dalam kehidupan nyata, kecuali jika kau mati.”

“Dan di sinilah kita, di bagian epilog cerita. Dalam skenario seorang sutradara yang baik, semua tokohnya akan berakhir bahagia. Jadi, seharusnya saat ini kau dan aku tengah berbincang, dan menyadari bahwa ternyata kita memiliki suatu kecocokan yang sama, lalu dalam hitungan jam, patah hati kita perlahan akan terobati dengan kehadiran satu sama lain, dan di akhir cerita, kau dan aku akan berjalan keluar kafe sambil bergandengan tangan, menyadari bahwa kita telah menemukan cinta yang baru.”

Kami berdua terkekeh geli, menyadari kelucuan skenario yang kuciptakan. Dan aku mendengus, “Hah, memangnya cinta bisa berganti secepat itu,” lalu kami berdua kembali tergelak. Tanpa terasa mataku mulai basah; dan ia, dengan sopan, mengalihkan pandangannya.

“Tidak apa-apa,” gumamku, “setidaknya aku merasa lebih baik sekarang.”

Ia tersenyum, pandangannya masih tetap dialihkan.

“Menangislah jika kau ingin. Kadang kita memang perlu menangis, untuk membersihkan luka-luka dalam hati kita. Untuk itulah air mata diciptakan. Untuk melindungi kita terhadap kotoran yang berasal dari luar, maupun yang berasal dari dalam.” Ia terdiam sejenak. “Itu yang dikatakannya padaku.”

“Kau sendiri tidak menangis,” gurauku dengan nada menuduh, “Jadi, apakah kau ini seorang playboy yang tidak pernah terluka oleh cinta?”

“Yah, tidak semua tangisan harus dikeluarkan dalam bentuk air mata, kau tahu?” Ia tersenyum getir.

“Ah, sudahlah. Mari tinggalkan saja bab itu dan mulai dengan bab kehidupan kita yang baru. Bagaimanapun, ini adalah akhir dari filmnya, kan?”

Aku tersenyum, merasa terhibur dengan optimismenya.

Di luar, matahari telah terbenam, meninggalkan semburat-semburat merah tua yang perlahan mulai menghilang.

“Jadi, mari kita tinggalkan kedua pemeran utama yang telah berbahagia. Sekarang, kedua pemeran pembantu akan memulai kisah baru mereka masing-masing. When a door is closed, another door will be opened; but sometimes we’re too busy crying for the closed door to notice that another door has been opened for us.

And I’m exactly not too busy at the moment,” timpalnya. Akhirnya ia kembali tersenyum, dan aku ikut tersenyum melihatnya.

“Kau tahu restoran yang baru dibuka di seberang jalan itu? Aku suka es krim-nya. Ayolah, kali ini aku akan mentraktirmu makan malam. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih karena telah memberiku kata-kata bijak sore ini,”

“Yah,” ia mengangkat bahu, “bagaimana aku dapat menolak?”

Lalu kami berdua tersenyum.

Dan kami pun bangkit dari kursi kami masing-masing lalu berjalan keluar kafe; tidak bergandengan tangan, dan cinta kami yang lama pun belum sepenuhnya hilang. Namun kami tahu bahwa sesuatu yang lebih baik telah diperuntukkan untuk kami – hanya saja saatnya belum tepat. Kelak, jika saat itu tiba, kami pasti akan kembali mengenang saat ini, bukan dengan berlinang air mata, namun dengan segurat senyum di bibir, karena kami tahu, tanpa hari ini, saat itu tidak akan pernah datang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s