Garis Batas (scene version)


Seorang gadis berdiri di atap sebuah bangunan kosong. Ia sendiri dalam kegelapan malam yang mencekam. Dengan perlahan ia melangkah ke tepi atap, lalu mengintip ke keramaian lalu lintas di bawah. Dari tempatnya berdiri, yang terlihat hanyalah deretan lampu kendaraan yang berbaris tidak rapi. Tak terdengar suara klakson mobil, makian para pengemudi, serta nyanyian para gelandangan mabuk yang tengah menghabiskan malam dengan satu dua botol wiski murahan.

Sang gadis menggigil. Dirapatkannya mantel beludru ungu tua yang membungkus tubuhnya, lalu ia menghirup napas dalam-dalam, mungkin untuk menjaga keutuhan nyalinya, sebab ia tahu sebentar lagi ia akan melakukan sesuatu yang tak pernah disangkanya akan dilakukannya. Rambut gelapnya yang panjang berkibar-kibar ditiup angin, menciptakan bayangan-bayangan aneh pada dinding gedung.

Tepat pada saat itu, ia mendengar sesuatu dari belakangnya. Ia berbalik. Di sana, di pintu atap itu, berdiri seorang pria. Rambut ikalnya berwarna pirang, dan matanya sewarna langit di hari cerah tak berawan. Serupa dengan gaun putih yang dikenakan si gadis, kemeja putihnya pun berkibar-kibar dihembus angin malam. Wajah dan tubuhnya bercahaya dalam kepekatan malam; pesona yang tidak manusiawi menguar dari dalam dirinya.

Mereka berdua – si gadis dan sang pria – berpandangan untuk beberapa waktu. Sorot mata si pria memancarkan permohonan; memelas, mengiba – sedangkan sorot mata si gadis ialah sorot mata seorang martir; rupanya keputusannya telah bulat. Namun demikian, bahkan orang paling bodoh sekalipun akan dapat melihat adanya pancaran kasih sayang yang tak dapat dibantah dalam pandangan mereka berdua. Ya, mereka – si gadis dan sang pria – saling mencintai.

Si pria mulai berjalan perlahan ke arah si gadis, yang juga sedang melangkah mundur dengan tenangnya. Si pria berhenti. Sekali lagi, pandangannya memohon, namun si gadis menggeleng perlahan; ia terus berjalan mundur hingga ke tepi atap. Kemudian ia memejamkan kedua matanya, tersenyum, dan menjatuhkan dirinya ke belakang. Si pria meneriakkan nama kekasihnya lalu segera melompat ke arah sang gadis.

Si gadis jatuh dengan cepat. Gaun putih dan mantel beludru ungu tuanya membuat jatuhnya agak terhambat; rambut gelapnya berkibar-kibar di belakangnya. Ia memejamkan mata. Ia tersenyum. Ia tahu bahwa sang pria menyusulnya. Rencananya berhasil.

Dengan sedih dikenangnya masa-masa indahnya bersama sang pria – bagaimana mereka berjumpa, bagaimana ketika akhirnya ia mengetahui identitas asli pria itu, dan bagaimana ia jatuh cinta pada si pria, bukan karena identitasnya, bukan karena rupanya, melainkan karena si pria mampu memahami hatinya dan mampu memandang jauh ke dalam jiwanya. Dan ia pun demikian. Ia tahu bahwa sang pria akan mengejarnya karena ia mencintainya, tetapi akankah si pria memahami bahwa ia sendiri pun melakukan hal ini karena ia mencintai pria tersebut?

Perlahan dirasakannya sepasang tangan kokoh merengkuh tubuhnya. Bersamaan dengan itu, ia menyadari kecepatan jatuhnya mulai berkurang. Ia membuka mata, dan memandang langsung ke dalam sepasang mata jernih berwarna biru yang sangat indah, yang selama beberapa minggu terakhir ini telah dipandanginya hampir setiap hari. Mata biru laksana sumber air kehidupan yang telah menyelamatkan jiwanya dari kegersangan padang gurun kehidupan…. Ia tersenyum lagi. Namun si pria tidak tersenyum. Pandangannya sedih, bertanya-tanya.

Melihat gadisnya tersenyum, si pria mencoba tersenyum. Namun senyum itu tidak mencapai matanya, karena saat memandang sepasang mata itu si gadis bisa merasakan kepedihan yang dialami sang pria. Si pria mendekapnya erat. Perlahan si gadis mengulurkan tangan dan dengan lembut menyentuh sepasang sayap putih yang tumbuh di punggung sang pria. Nyata. Ia tidak bermimpi. Didengarnya si pria menggumamkan namanya. Ia senang. Ia berharap, jika kelak sang pria kembali ke dunianya, ia tidak akan melupakan namanya. Bagaimana pun wajah si gadis berubah, berapa pun uban putih yang menghiasi kepalanya, ia sungguh berharap si pria takkan melupakan namanya.

Si gadis mengangkat kepalanya, memandang si pria. Tanpa disangka-sangka, sebutir air mata turun bergulir di pipinya yang bercahaya. Gadis itu mengangkat tangannya, menghapus tetesan air itu. Ia tersenyum ketika si pria membelai wajahnya. Dikecupnya ujung-ujung jari sang pria.

Beberapa saat kemudian kaki mereka menjejak sesuatu. Si gadis memandang sekeliling; mereka berada di atas balkon di sebuah gedung lain. Mereka kembali berpandangan – lama. Pandangan yang penuh cinta, penuh dengan kata-kata perpisahan yang tak terucapkan – karena mereka takut untuk mengucapkannya.

Lalu, perlahan, tubuh bercahaya sang pria mulai mengabur. Bagian-bagian terujung dari dirinya mulai memecah menjadi jutaan partikel bercahaya yang memperindah langit malam. Si gadis tersenyum sedih. Ia mengangkat tangan ingin melambai, kemudian mengurungkan niatnya. Dan akhirnya, dengan sisa-sisa bayangannya yang berkilau, sang pria menunduk lalu mengecup si gadis. Si gadis memejamkan mata. Oh, seandainya waktu dapat dihentikan….

Ketika sang gadis membuka matanya kembali, ia memandang kegelapan yang kosong di hadapannya. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana. Si pria sudah pergi, kembali ke dunianya. Sang gadis kini  sendiri. Ia termangu sejenak. Kemudian, dalam kesendiriannya, di atas balkon di sebuah gedung tua, ia berjongkok, memeluk lututnya, lalu menangis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s