Garis Batas


Aku menatap ke bawah, jauh ke bawah. Dari ketinggian ini, jalan raya hanya tampak seperti sebuah garis tebal yang dipadati oleh semut-semut berwarna-warni. Dari ketinggian ini, hingar-bingar suara lalu lintas dan makian para pengemudi takkan mampu menyakiti telingaku. Dan dari ketinggian ini, aku akan melakukan hal yang dibisikkan oleh gagasan gilaku.

Aku mengangkat pandanganku, dan menatap kekelaman malam di hadapanku. Tidak ada bintang di sini. Apakah lampu-lampu kota besar telah menciutkan nyali bintang-bintang untuk memamerkan gemerlapnya? Ataukah kehidupan kota yang serba instan sudah tidak membutuhkan keajaiban permohonan bintang jatuh, sebagaimana yang diam-diam diharapkan oleh anak-anak kecil dan gadis-gadis yang tengah jatuh cinta di jendela kamar mereka?

Sebuah suara berseru memanggil namaku. Aku berbalik, dan melihatnya berdiri di sana – dengan napas tersengal-sengal sehabis berlari, rambutnya acak-acakan. Betapapun, semua itu takkan mampu memudarkan pesonanya di mataku. Pesona yang tidak manusiawi. Pesona yang tidak berasal dari dunia ini.

Aku menatapnya tepat di mata, dan dalam sekejap itu kurasa ia memahami maksud dan tujuanku. Ia menggeleng perlahan, matanya dipenuhi rasa tidak percaya dan permohonan – memelas, mengiba. Aku menggeleng pelan-pelan. Tidak, jangan memohon padaku, pintaku dalam hati.
Bukankah aku yang seharusnya memohon padanya? Karena dirinyalah tempat permohonan-permohonan dihantarkan, dirinyalah tempat orang-orang berharap, dan adalah sebuah kesalahan baginya untuk mengajukan permohonan padaku. Karena aku tidak pantas untuk itu.

Kami berdiri seperti itu untuk beberapa saat. Gaun putih dan mantel ungu tua yang kukenakan berkibar-kibar ditiup angin, begitu pula halnya dengan kemeja putih yang dikenakannya. Rambutku sudah berantakan, namun aku tidak peduli. Tidak ada hal yang lebih penting bagiku selain dirinya, dan aku harus menyelamatkannya.

Jadi aku berbalik lagi. Dan melompat. Aku hanya mendengar samar-samar ketika ia meneriakkan namaku dengan napas tertahan. Kuharap ia mengejarku. Sebab kalau tidak, seluruh rencanaku akan gagal. Dan itu tidak lucu.

Dan ia memang mengejarku. Tubuhku meluncur ke bawah, jatuh semakin jauh. Aku memejamkan mata dan merentangkan tangan. Apapun yang terjadi, terjadilah.
Aku mengenang saat pertama kami bertemu, kemustahilan kejadiannya, ketidakpercayaanku, dan pengakuannya. Lalu aku menerima semua itu, dan kami bahagia.
Sampai aku tahu bahwa dengan demikian, ia takkan abadi. Ia melemah dengan cepat, karena ini bukan dunianya. Dan ia merelakannya. Karena aku. Karena ia jatuh cinta padaku, dan karena ia mencintaiku. Jadi bukankah seharusnya aku yang bertanggung jawab dalam hal ini?
Sesuatu dalam hatiku terasa remuk.
Apapun yang terjadi, terjadilah.

Tiba-tiba kusadari jatuhku melambat. Perlahan aku membuka mata, dan memandang langsung ke dalam mata birunya yang secerah langit pagi.
“Kau datang,” Aku tersenyum.
“Mengapa kau melakukan ini?” tanyanya sedih.
“Aku harus.”
“Oh, Sayangku,” Ia mendekapku lebih erat selama beberapa saat.

Kemudian gerakan kami semakin pelan, sampai akhirnya kulihat sayap-sayap putih mulai tumbuh dari balik punggungnya. Perlahan namun pasti, sayap-sayap itu membesar dan membentang dengan kokoh. Indah sekali. Aku mengulurkan tangan dan menyentuhnya. Nyata. Aku tidak bermimpi.
Ia membelai wajahku perlahan. “Annie. Annie, Annie, Annie, Annie…”
Aku tersenyum, lalu mengecup ujung-ujung jarinya.
“Pulanglah,” bisikku, “Aku mencintaimu, dan akan selalu mencintaimu. Kau tahu itu.”
Lalu aku menambahkan, “Mungkin kita akan bertemu lagi kelak, di sana, di mana kau seharusnya berada, tempat yang akan kutuju nantinya. Meskipun mungkin aku nantinya sudah tua,” aku mencoba bercanda.
Dan tanpa kusangka-sangka, sebutir air matanya jatuh. Air sebening embun yang mengalir di pipinya yang indah, dan membentuk tirai air di mata birunya yang mampu melihat menembus jiwaku.
“Hei,” aku menghapus air matanya, “bukankah malaikat tidak pernah menangis?” suaraku sedikit bergetar, namun kuharap ia tidak memerhatikannya. “Tersenyumlah, Sayang,”

Lalu kurasakan kakiku menjejak sesuatu, dan ternyata kami telah sampai di sebuah balkon kosong di gedung tua. Ia melepaskan pelukannya padaku, dan menatapku – lama.
Sementara itu, perlahan kulihat tubuhnya mulai mengabur, pecah menjadi jutaan partikel-partikel cahaya yang berkelap-kelip di langit malam.
“Aku – “ ia terdiam sejenak, “Aku akan menunggumu. Sampai kapanpun.”
Aku memandangnya penuh sayang.
“Dan setua apapun.” Kami berdua tersenyum.

Lalu, dengan sisa-sisa bayangannya yang berkilau, ia mencondongkan tubuh dan mengecupku. Aku memejamkan mata.

Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya aku membuka kedua mataku. Tidak ada siapa-siapa di sana. Ia sudah pergi. Kembali ke dunianya, ke dunia ke mana aku akan pergi suatu saat nanti. Ke tempat yang akan kudatangi dengan penuh sukacita, sebab kutahu ia akan ada di sana, menungguku, dan akan menyambutku selayaknya seorang sahabat lama.

Aku berjongkok di tempat itu, memeluk lututku, dan menangis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s