Istriku dan Aku – Pada Saat Terakhir Kami


“Kau menangis?”

Ia tersentak menatapku, kemudian menyunggingkan sebuah senyum penyesalan.

“Ya, sedikit. Akhir ceritanya sedih,” Ia menunjuk halaman buku yang sedang dipegangnya.

Ah. Aku mendesah. Bagaimana harus kukatakan bahwa aku sudah bangun sejak tadi, dan sudah memerhatikannya sekian lama? Bahwa aku tahu ia tidak sedang benar-benar membaca buku? Bahwa aku melihatnya mengusap dua butir air mata yang mengalir turun di pipinya? Bahwa aku tahu akulah yang sedang ditangisinya?

Ia bangkit dari kursinya di depan jendela, lalu beranjak ke sisiku.

How do you feel?” senyumnya, kali ini lebih lebar.

Much better.” Aku ikut tersenyum.

Ia menarik sebuah kursi lain lalu mendudukkan dirinya di sisi tempat tidurku. Aku mengulurkan tangan kiriku, perlahan menyentuh pipinya yang mulai mengeriput. Ia menyambut tanganku dengan tangannya yang juga mulai mengeriput, dan kami berpegangan tangan layaknya sepasang remaja yang tengah dimabuk asmara. Lama aku memerhatikan wajahnya, guratan-guratan usia yang mulai muncul di sisi mata dan bibirnya, kedua pupilnya yang memancarkan kelembutan, segurat senyumnya yang menenangkan, dan akhirnya turun ke tanganku yang sedang digenggamnya. Tanganku yang, setelah bertahun-tahun kebersamaan kami, juga sudah mulai mengeriput.

“Mengapa kau masih tetap mencintai aku dengan keadaanku yang seperti ini?” Aku bertanya. Sedetik kemudian aku menjawabnya sendiri, “Karena cinta itu buta, ya?” Aku ingin tertawa, namun yang keluar hanyalah beberapa suara aneh dari kerongkonganku.

Ia tersenyum, lalu menjawab, “Tidak, Sayang, cinta itu tidak buta. Cinta itu hanya sedemikian sederhananya sehingga ia tidak memerdulikan fisik, penampilan, maupun kondisi luar semata. Cinta membuat kita tidak peduli apakah ia balas mencintai kita, apakah ia ada di sisi kita, atau apakah ia sudah menghancurkan hati kita atau tidak.” Ia menarik napas. “Cinta hanya membuat kita ingin mencintai orang itu lebih dan lebih lagi, selalu ada untuknya kapanpun dan di mana pun, tanpa peduli apakah cinta itu berbalas atau tidak. Dan semua itu hanya karena – hanya karena kita mencintai orang itu. You see, it’s as simple as that.” Ia tertawa. Ia menggantikanku tertawa, dan aku suka hal itu.

“Kau pasti bisa melaluinya – tanpa aku,” kataku lembut. “Kau tahu aku akan selalu ada di sana, di mana pun dan kapanpun kau membutuhkanku. Aku akan selalu ada. Aku berjanji.”

Ia menggelengkan kepala perlahan, “Jangan berjanji,” ujarnya, “jangan menjanjikan sesuatu yang seabstrak itu.” Aku tersenyum, mengingat betapa realistisnya ia.

Kami diam sejenak, menikmati kesunyian yang perlahan mengendap di sekitar kami. Keheningan menyejukkan yang membuatku sangat enggan meninggalkan bagian kehidupanku bersamanya.

“Apakah kita akan bertemu lagi nanti, setelah – kau tahu – “ aku tidak mampu melanjutkan kata-kataku, namun aku tahu ia pasti mengerti. Dan ia memang mengerti.

“Hei, bukankah kau akan menungguku di sana?” godanya. Tapi suaranya pecah, dan sudut-sudut bibirnya sedikit bergetar.

Aku terkekeh. “Tentu saja, Sayang, kalau aku naik ke atas dan bukannya jatuh ke bawah.” Lalu kami berdua tertawa geli. Aku senang karena telah berhasil mengembalikan tawanya yang biasa, meskipun hanya untuk beberapa detik, meskipun aku sedang dalam kondisi seperti ini.

“Aku mencintaimu.” Aku menatapnya. Betapa inginnya aku mengucapkan kata-kata itu berulang kali, sepanjang sisa waktu yang kumiliki. Kalau boleh, aku bahkan ingin memohon sedikit perpanjangan waktu, khusus untuk mengatakan padanya betapa aku mencintainya, betapa dia sangat berharga untukku, dan betapa aku sangat menikmati tahun-tahun kebersamaan kami berdua.

Ia tersenyum. Cantik sekali. Aku ikut tersenyum.

“Aku akan kesepian tanpamu,” sahutnya.

Oh! Betapa aku ingin menghiburnya, mengatakan padanya untuk jangan khawatir, bahwa aku yakin ia pasti bisa, bahwa ia masih dapat mengenangku kelak lewat foto-foto kami, kenangan-kenangan kami, dan terlebih lagi, lewat anak-anak dan cucu-cucu kami. Namun di sisi lain, aku tahu bahwa ia tidak butuh dihibur. Ia sudah tahu, dan ia wanita yang tabah. Maka aku pun menyerah berpura-pura jadi tegar dan menjawab, “Aku juga akan kesepian tanpamu.”

Dengan susah payah aku meraih tangannya, menggenggamnya, dan membawanya ke bibirku. Aku mengecup tangan yang mulai mengeriput itu.

Tiba-tiba aku merasa sangat lelah. Aku butuh istirahat. Sebuah istirahat yang panjang. Kuharap, saat kelak aku membuka mataku lagi, ia akan ada di sisiku, menatapku dengan penuh cinta, dan menyunggingkan senyum lebar yang sangat kusukai. Ia akan menyambutku, mungkin berkata, “Akhirnya kau bangun; lama sekali aku menunggumu,” dan aku pun akan tersenyum padanya, seperti setiap hari dalam tahun-tahun kebersamaan kami.

Aku lelah. Maka aku mengendurkan genggamanku pada tangannya, menatap matanya yang cokelat, dan tersenyum. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.

Lalu aku memejamkan mata.

 

Ia memejamkan kedua matanya. Lima detik berlalu sebelum aku memanggil namanya, mengguncang tubuhnya perlahan. Namun ia begitu lelap dalam tidurnya sehingga tidak menghiraukanku. Lima detik lagi berlalu sebelum akhirnya – dengan tangan gemetar – aku memberanikan diri menyentuh lehernya, berusaha meraba denyut nadi karotis yang seharusnya ada di sana.

Lima detik berlalu. Aku terdiam.

Setelah keheningan yang terasa bagai setahun, aku menarik tanganku dari lehernya, lalu dengan kedua tanganku yang keriput, aku meraih tangan kirinya yang juga keriput. Tiga buah tangan keriput yang saling menggenggam dengan penuh cinta. Hangat.

Aku menghapus sebutir air yang bergulir turun di pipi kananku; setetes air jernih yang berhasil lolos dari benteng pertahananku. Ia tidak akan suka melihat aku menangis.

Aku mengecup tangannya – untuk yang terakhir kali.

Aku membungkuk untuk mengecup keningnya – untuk yang terakhir kali.

Lalu aku mengecup bibirnya – juga untuk yang terakhir kali.

Kemudian aku meraih tombol yang terdapat di sisi tempat tidur, dan memencetnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s