Kontrol Diri


Setelah selesai ujian…

A     :   We, tadi saya nyontek gang. Sa salin buta-buta dari jawabannya si D. Padahal pengawasku nyangar, tapi kutunggui sampe dia balik belakang baru sa nyontek. Pastima lulus ini hohoho…

B     :   Edd, biasanya ji. Saya iya, pengawasku bilang ke kita, ‘nyontekmako de’, tapi jangko ribut-ribut nah, supaya nda kentara dari luar’ pastimi kita semua langsung baku kerja sama…

C     :   Ih, enaknya kalian… saya kodong, sekke’ skali pengawasku. Nda bisa goyang orang. Curang… cobanya sa juga di ruangannya kalian di’…

B     :   Io io. Baru itu si E toh bodo’ skali. Masa pengawasnya sudah bilang begitu, dia tetap nda mau nyontek. Tolo-tolonya. Sok suci skali…

Ada yang aneh? Atau wajar-wajar saja?

Sebagai manusia, apalagi siswa dan mahasiswa, tentu saja akan berkata “wih, sa juga biasa ji begitu dengan teman-temanku”. Itu pastilah merupakan jawaban refleks bila kita dihadapkan pada situasi tersebut. Tetapi jika direnungkan lebih dalam, ternyata memang ada yang aneh.

Sebegitu bangganya kah kita dengan ‘berhasil nyontek’? Dan sebegitu kecewanya kah kita dengan ‘tidak berhasil nyontek’?

Memang benar bahwa kalau kita nyontek, lebih besar kemungkinan untuk memperoleh nilai yang memuaskan. Apalagi tanpa perlu pakai capek-capek belajar. Kalau kita belum belajar dan mendapat kesempatan nyontek (dari orang yang jawabannya ‘terjamin’) wuihhhh, kayak menemukan ruang ber-AC di tengah terik matahari. Perasaan lega, bersyukur, dsb dsb berkecamuk di dalam hati kita. Bahkan mungkin ucapan terakhir kita sebelum mengerjakan soal ujian adalah “semoga ntar sa bisa nyontek…” OMG, tidak munafik tapi ini betul-betul sering terjadi, dan sejujurnya saya sendiri pun pernah berkata seperti itu.

Mungkin kita bertanya-tanya, apa bedanya nyontek dengan tidak nyontek kalau nilai akhirnya sama saja? Baik orang yang nyontek maupun tidak nyontek pun bisa mendapatkan nilai sepuluh. Ditinjau dari segi usaha pun saya rasa cukup adil. Kalau orang yang tidak nyontek harus bersusah payah belajar semalaman untuk memperoleh nilai sepuluh, maka orang yang nyontek pun harus bersusah payah memutar otak mencari cara bagaimana mengelabui pengawas, bagaimana melirik kertas tetangga tanpa menggerakkan bola mata, bagaimana menyembunyikan doku yang paling strategis, dan bagaimana berkelit jika terlanjur kedapatan. Dan tentu saja risiko yang ditanggung si penyontek sangat besar, belum lagi rasa deg-degan saat mau menjalankan ‘tugasnya’.

Jadi, perihal nyontek ini tidak adil jika diceramahi dengan kata-kata ‘orang yang tidak nyontek capek-capek belajar sementara orang yang nyontek enak-enak saja melirik kiri kanan’. Semua orang yang pernah menjadi siswa tentu tahu betapa sulitnya menyontek. Kita mesti berpikir cepat, bertindak licik, dan memasang tampang tak berdosa secara bersamaan. Sulit kan?

Sekarang ini ada istilah baru yang keren. Katanya, untuk memperoleh nilai ujian yang bagus, selain ditentukan oleh usaha (alias belajar), juga ditentukan oleh 4P, yaitu Posisi, Pengawas, Peluang, dan Pray alias berdoa. Nah nah nah… betapa benar sekaligus ironis.

Permasalahan sebenarnya adalah, kita sendiri yang menentukan apakah kita menyontek atau tidak menyontek. Kalau bicara soal ‘mau’, mungkin 90% orang yang ditanya akan menjawab “ya mau lah”. Jadi intinya adalah, apakah kita bisa mengontrol diri kita sendiri untuk tidak menyontek dan bekerja secara jujur?

Sebenarnya apa sih salahnya menyontek? Apakah menyontek merugikan orang yang dinyonteki? Bisa ya bisa tidak. Ya jika mereka merasa dirugikan atau ditangkap pengawas gara-gara dikira kerja sama. Namun dari segi ilmu, tidak sama sekali. Orang yang tidak nyontek akan terus menyimpan ilmu di dalam memorinya, karena ia belajar, sedangkan yang nyontek hanya ‘menyontek tanpa mengetahui apa yang dinyontekinya’. Dari segi nilai? Lagi, bisa ya bisa tidak. Lalu, apakah menyontek merugikan orang yang menyontek? Dari segi nilai justru mereka diuntungkan. Ilmu mereka lah yang kosong.

Menurut saya, pembeda terbesar dari penyontek dan orang yang tidak nyontek adalah pribadinya. Kita semua tahu betapa sulitnya menahan godaan untuk nyontek. Tidak diberi kesempatan pun kita berusaha, apalagi kalau kesempatan itu diumpan-umpankan di depan mata kita. Godaan untuk nyontek lebih menggiurkan dibanding godaan tidur di kelas saat pelajaran siang hari. Ini lebih seperti oase di tengah gurun pasir.

Jadi, kalau kita sudah memahami betapa besar godaan untuk menyontek, tentunya mudah bagi kita untuk mengagumi orang-orang yang memilih dan berhasil tidak nyontek. Mereka pun pasti mengalami godaan yang sama, merasakan keinginan yang sama, namun mereka berhasil menolaknya. Mereka berhasil mengendalikan dirinya untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak mereka setujui.

Kendali atas diri sendiri merupakan tingkatan tertinggi dalam kehidupan kita sebagai manusia. Kedewasaan seseorang bukanlah ditentukan dari usianya, melainkan seberapa mampu mereka mengenal dan mengendalikan dirinya sendiri untuk dapat bertindak sesuai dengan lingkungannya. Kendali atas diri sendiri meliputi memikirkan, merencanakan, memilih, memutuskan, dan akhirnya melakukan tindakan-tindakan yang benar-benar mereka inginkan.

Orang yang memiliki kendali atas dirinya jarang merasa kecewa ataupun menyesal atas tindakan yang telah dilakukannya. Ini dikarenakan mereka jarang bertindak berdasarkan emosi maupun kecerobohan semata. Jika mereka mendapati sesuatu hal tidak berjalan sebagaimana mestinya, mereka berkata “Ini adalah keputusanku, yang telah kupertimbangkan baik-baik, dan aku siap untuk menerima segala kemungkinan dan konsekuensi yang mungkin terjadi, karena hal itu pun telah kupikirkan.”

Untuk menjadi orang yang memiliki kendali atas diri sendiri, langkah pertama yang perlu kita ambil ialah mengenali dan menerima diri kita dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Carilah kelebihan-kelebihan kita dan kembangkanlah hal itu agar kita menjadi orang yang ‘berbakat’. Temukanlah kekurangan-kekurangan kita dan perbaikilah, atau gunakanlah kelebihan-kelebihan kita untuk menyeimbangkannya. Karena tidak ada seorang pun yang tidak memiliki kekurangan. Terimalah diri kita apa adanya, bahwa kita adalah kita karena itulah kita, dan karena itulah kamma kita. Jangan menolak diri sendiri, karena jika kita sendiri pun tidak mau menerima diri kita, apalagi orang lain.

Setelah mengenali dan menerima diri sendiri, belajarlah untuk membuat keputusan sendiri berdasarkan siapa kita, apa yang seharusnya kita lakukan, bagaimana disesuaikan dengan kelebihan dan kekurangan kita. Dan yang terpenting ialah, laksanakanlah keputusan itu. Tidak ada gunanya membuat keputusan yang nantinya kita langgar sendiri. Semakin banyak kita melanggar keputusan yang kita buat, maka semakin rendah apresiasi kita terhadap diri sendiri. Hargailah diri kita, dan keputusan yang dibuatnya.

Jika kita telah memutuskan untuk tidak menyontek, maka taatilah itu. Apapun godaannya, apapun risikonya. Jika kita belum berani mengambil risiko mendapat nilai jelek karena malas belajar tapi ogah nyontek, maka jangan dulu mengambil keputusan untuk tidak menyontek. Ibarat tentara yang akan pergi berperang, persiapkan dulu amunisi sebaik-baiknya sebelum terjun ke garis depan. Misi bunuh diri yang ‘tiba masa tiba akal’ mungkin kadang berhasil, tapi ingatlah bahwa dalam 99% kepastian, tetap masih ada 1% peluang untuk gagal.

Kesimpulannya, untuk menjadi orang yang memiliki kendali atas diri sendiri bukanlah hal yang instan. Jalan yang ditempuh harus dilalui selangkah demi selangkah, namun setiap langkah yang kita lakukan akan membuat kita mengenal jalanan itu dengan baik, dengan setiap goresan dan lubang-lubangnya. Jangan takut terjatuh atau tersandung, karena jika kita takut tersandung berarti kita tidak pernah melangkah maju. Dan kelak, saat kita telah tiba di akhir perjalanan, kita dapat berbalik ke belakang, memandangi seluruh jalan berkelok yang telah kita lalui, langkah demi langkah, dan berkata dengan bangga, “Aku berhasil melalui perjalanan ini, dan aku melakukannya dengan usahaku sendiri.”

Janganlah hidup di masa lalu, karena masa kini tidak akan menunggu hingga kita kembali
Janganlah hidup di masa depan, karena kita tidak akan melihat kesempatan-kesempatan yang ada di masa kini
Hiduplah di masa kini, karena masa kini adalah buah masa lalu dan bibit masa depan
Belajarlah dari masa lalu, gunakanlah apa yang kita pelajari untuk masa kini, dan persiapkanlah diri kita untuk masa depan

Advertisements

One thought on “Kontrol Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s