Monolog Dua Arah (Hujan Terakhir di Bulan Maret II)


Satu tahun telah berlalu; saat ini bulan Maret kembali datang. Saat ini pun hujan sedang turun. Namun tak ada déjà vu. Tidak tanpa kau di sisiku.

“Jadi akhirnya kau meninggalkannya?”
Aku mengangguk sedih. Memang aku tersenyum. Namun senyum itu tidak sampai ke hatiku.
Ia menghela napas dan menatapku.
“Kau tidak bahagia, ya?” Ia membuat gerakan di udara dengan tangannya. “Tidak menyesal, namun tidak bahagia.”

Ah, sahabatku tersayang. Siapa lagi yang mengerti diriku sebaik dirimu? Ingin rasanya aku memelukmu dan menumpahkan air mataku di pundakmu, namun sisa-sisa egoku rupanya belum menyerah. Aku kembali tersenyum.

“Oh, sayangku…” Ia menatapku penuh sayang.
Aku berdeham, mencoba menelan rasa sesak yang menyumbat kerongkonganku.
“Tolong jangan katakan bahwa aku beruntung. Orang-orang berkata betapa beruntungnya aku, menghentikan hubungan tersebut tepat pada waktunya,” aku menatap cincin emas mungil yang kini melingkar erat di jari manis tangan kananku – bukan lagi di tangan kiriku. “Mereka memuji betapa logisnya aku.”
“Tahukah kau,” aku menunduk, enggan menatap langsung ke matanya, “aku sama sekali tidak merasa beruntung. Logis, mungkin. Tapi tidak beruntung.”
“Mereka tidak pernah tahu betapa sulitnya masa-masa itu, ketika aku menyadari bahwa hubungan kami harus dihentikan. Kau tahu? Rasanya bagaikan memandangi seseorang yang dihubungkan ke alat bantu kehidupan, dan kaulah yang ada di sana. Kau yang harus mencabut ventilatornya, mematikan alatnya, dan mengumumkan pada keluarganya bahwa ia sudah meninggal. Ia sudah meninggal, tapi jantungnya masih berdetak, paru-parunya masih bernapas. Ia tampak hidup, tapi jiwanya sudah tidak ada. Bisakah kau bayangkan? Kau hanya perlu menguatkan hati dan memutuskan kapan kau akan mencabut alat itu dari tubuhnya.” Aku memandangi kedua tanganku, tidak mampu melanjutkan.

Aku yang mencabut alatnya. Aku yang memutuskan nasibku sendiri. Jadi mengapa aku tidak bahagia? Bukankan kendali penuh berada dalam kekuasaanku? Sumbatan itu kembali muncul di kerongkonganku.
Aku masih melihat wajahnya saat aku memejamkan mata. Aku masih mengingat bunyi tawanya saat mengejekku. Dan saat ia tersenyum dalam kepalaku, aku juga ikut tersenyum dalam kehidupan nyata.

“Apakah kau masih mencintainya?”
Apakah aku masih mencintainya? Aku mengangkat bahu.
“Kau tahu mengapa mereka menyebutnya broken heart? Because when someone breaks your heart, he only breaks your heart, but your love for him will still be there.” Aku tersenyum lagi. “I only broke my heart, not the love.
Ia ikut tersenyum.
“Kau memang orang yang romantis,” gumamnya. “Time heals, Sweetheart. Time will heal.
But the scar will always be there.” Lagi-lagi aku membalasnya. Aku memang keras kepala. Tapi lagi-lagi ia kembali tersenyum. Sungguh, entah apa jadinya diriku tanpa dirinya.
“Mungkin, jauh di dalam hatiku, aku memang tidak percaya pada cinta. Mungkin sebenarnya aku sudah tahu bahwa tak ada cinta yang abadi – bahwa semua cinta pasti berakhir dengan air mata dan perpisahan. Mungkin sebenarnya aku sudah siap.” Katakan, Sayang, mengapa dulu kau tidak berjuang demi aku? Mengapa dulu kau melepasku begitu saja, menyerah terhadap keputusanku? Apakah karena kau juga menyadari cinta kita tidak memiliki masa depan? Apakah karena kau juga sama logisnya dengan aku? Atau apakah karena aku tidak pantas untuk diperjuangkan?
Ia tersenyum penuh pengertian, lalu diraihnya tanganku dan digenggamnya perlahan.
“Sayang, belajarlah mencintai dirimu sendiri. You deserve it.

Aku mengangkat wajahku dan memandangnya lurus-lurus. Kami bertatapan selama beberapa detik. Beberapa detik yang sudah cukup baginya untuk mengerti semua kata-kata yang takkan pernah mampu kuucapkan, semua sakit hati yang takkan pernah mampu kusembuhkan, semua penjelasan yang bahkan diriku pun takkan pernah mampu untuk memahaminya.
Dan aku menangis. Beberapa butir air mata meluncur di pipiku. Aku memejamkan mata, berharap seorang pria dari masa laluku akan datang lalu menghapus air mataku dengan jarinya, tanpa menghiraukan tumpukan tisu yang tergeletak di atas meja. Aku membuka mata. Tidak ada pria itu. Hanya seorang sahabat. Sahabat yang baik. Sahabat yang benar-benar baik.
“Maaf,” aku mengusap buliran air di pipiku.
Ia memelukku lembut. “Belajarlah mencintai dirimu, Sayang. Menolehlah ke belakang, tersenyumlah. Lalu balikkan badanmu dan melangkahlah ke depan dengan berani. Kau tahu aku akan selalu ada di sisimu.”
Aku balas memeluknya. Aku memejamkan mata, mencoba menghayati setiap detik keberadaannya, dan kebersamaan kami. Aku melihat pria itu lagi, ia berjalan ke arahku, mengecupku dengan lembut, dan tersenyum. Senyum yang dulu selalu tersungging di bibirnya, saat pertama kami berjumpa, saat kami bersama, dan saat perpisahan kami. Dan aku melepasnya. “Selamat tinggal, Sayang. You will always be in my heart.

Aku membuka mata. Tidak ada siapa-siapa. Aku menatap kekosongan itu. Dan tersenyum. “I’m gonna miss you,” gumamku pelan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s