Sebuah Cerita Yang Berakhir Bahagia


“Kau masih memikirkannya, kan?” Itu pernyataan, bukan pertanyaan, dan diucapkan dengan nada sedikit menuduh. Yah, bagaimanapun juga, dia berhak untuk menuduh. Bahkan, dia berhak untuk marah. Hanya saja, dia tidak marah.
“Aku tidak tahu,” jawabku jujur.
Ia menghela napas, lalu tersenyum sedih.
Well, sepertinya apapun yang kulakukan tidak akan mampu menghapus dirinya dari dalam hatimu, bukan begitu? Bahkan setelah beberapa bulan terakhir ini…” Ia tidak melanjutkan kata-katanya.
Kami berdua terdiam. Aku tidak tahu harus menjawab apa, sebab memang aku tengah mencari-cari jawaban yang tersembunyi jauh di dasar hatiku.

It was a long time ago… benarkah itu baru enam bulan yang lalu? Saat pertama aku dan dia bertemu, saat dia mengatakan bahwa dia menyukaiku, dan aku mengaku bahwa aku masih belum membuka hatiku bagi siapapun.
Dan waktu itu, dia mengerti. Dia mengerti semua masa laluku, ketakutanku yang paling dalam, dan lukaku yang belum sembuh.
Time heals, Darling. Time heals. Dan sementara itu, aku akan menemanimu.” ucapnya waktu itu.
Dan itu enam bulan yang lalu. Enam bulan yang panjang, namun toh aku belum memberinya jawaban apapun. Tapi dia tetap bersabar. Hingga saat ini.

“Aku akan pulang,” gumamnya pelan seraya mengangsurkan selembar kertas ke atas meja di hadapanku. Aku melirik sedikit. Sebuah printout tiket pulangnya, dengan waktu keberangkatan dua jam lagi. Aku terkesiap, namun tidak bereaksi.
Ia masih berdiri di sana, menatapku, mungkin setengah berharap aku akan mencegahnya pergi. Aku tidak mencegahnya. Mungkin dia sudah tahu, karena seperti halnya aku, dia pun mengetahui bahwa aku ini orang yang angkuh, yang kadangkala bertindak bukan berdasarkan logika maupun hati, melainkan ego. Sekian menit ia hanya terdiam seperti itu, kemudian akhirnya ia memungut kembali helaian kertas itu, kemudian melangkah menuju pintu dan keluar. Tanpa pernah berbalik sekalipun.

Dan selama itu, aku hanya diam. Lagi-lagi, egoku menang. Padahal, aku ingin sekali mengatakan bahwa aku tidak ingin dia pergi, aku ingin sekali mengambil lembaran printout itu dan membuangnya ke keranjang sampah, aku ingin sekali dia tetap di sini dan menemaniku. Ada sesuatu yang terasa salah dengan kepergiannya.
Bukannya dengan kepergiannya berarti aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Kami kan masih bisa saling mengirim e-mail, telepon, bahkan aku bisa saja menyusulnya kalau aku mau. Hanya saja, apakah egoku akan mengizinkanku melakukannya? Apakah aku akan mampu memberanikan diri untuk meneleponnya duluan, mengiriminya e-mail duluan, menanyakan kabarnya duluan? Karena sepanjang pengetahuanku tentang diriku sendiri, jawabannya adalah tidak. Dan sepanjang pengetahuanku tentang dirinya, ia mungkin sudah merelakan aku yang tidak mampu untuk menerimanya hanya gara-gara sebuah luka di masa lalu yang belum mampu kusembuhkan.
Jadi, mengapa aku merasa seakan ada sebuah batu besar yang menyumbat kerongkonganku? Mengapa aku merasa seperti ingin menangis, yang sudah bertahun-tahun tidak kulakukan, sejak aku mengerti bahwa cinta juga bisa menghancurkan? Mengapa aku ingin berlari menyusulnya, mengatakan aku tidak ingin dia pergi, memohon padanya untuk memberiku satu kesempatan lagi?

Soalnya, tidak mungkin, kan, aku jatuh cinta pada orang yang baru kukenal enam bulan yang lalu. Tidak mungkin, kan, aku jatuh cinta pada orang yang setiap hari menanyakan kabarku, setiap hari menemaniku ngobrol, curhat, ataupun hanya sekadar mengirimkan SMS selamat pagi dan selamat malam. Orang yang mengenalku lebih dari diriku sendiri, tahu apa makanan kegemaranku, warna kesukaanku, dan film favoritku. Orang yang selalu menjawab teleponku bahkan pada jam tiga subuh, yang selalu berhasil membuatku tersenyum dengan lelucon-leluconnya bahkan ketika aku sedang sedih dan ingin menangis, lalu dengan bangga berkata, ”You see, I can always make you smile, right?
Maksudku, apa sih, yang spesial dari semua itu? Tidak ada, kan? Jadi, mengapa aku merasa tidak nyaman seperti ini?
Aku mengumpat dalam hati, menyambar kunci mobilku, lalu berlari keluar.
Semoga saja pesawatnya terlambat. Semoga saja antrian check in-nya panjang. Mungkin tampangnya agak mencurigakan, mungkin namanya agak berbau teroris, mungkin bagasinya tertahan oleh petugas keamanan…. Aku setengah berharap pisau cukur termasuk salah satu benda tajam yang dilarang untuk dibawa….

Satu jam kemudian, aku sudah berlari menembus kerumunan orang, menjulurkan kepala ke layar monitor yang menunjukkan keberangkatan, memanjangkan leher untuk mencari-cari seseorang yang memakai kemeja hitam dan celana panjang berwarna khaki. Tidak ada.
Dengan putus asa aku memandang ke arah monitor, melihat bahwa jadwal keberangkatan pesawat yang ditumpanginya sudah berkedip-kedip, bertuliskan “boarding”. Aku mengumpat lagi dalam hati. Selama sepuluh menit berikutnya aku tetap berkeliaran tak tentu arah, hingga akhirnya kudengar bunyi bising, menandakan pesawat yang ditumpanginya sudah lepas landas.
Aku mengerjapkan mata, berusaha menahan air mata yang hendak jatuh. Soalnya, orang dengan ego sepertiku dilarang menangis di depan umum, kan? Meskipun sepertinya hatiku ingin menjerit, dan langkah-langkahku semakin berat. Perlahan, pandanganku dikaburkan oleh air mata yang mulai mengambang. Aku merogoh ke dalam tas dan menyadari bahwa aku lupa membawa kacamata hitamku. Mengapa hari ini sepertinya sial sekali bagiku? Aku mencoba mengingat-ingat tanggal dan hari; apakah hari ini Jumat tanggal 13?

Lalu tiba-tiba, seseorang di belakangku memanggil, “Hei,”
Sebuah suara yang sudah sangat kukenal, suara milik seseorang yang selalu menjawab teleponku bahkan pada jam tiga subuh, yang selalu berhasil membuatku tersenyum dengan lelucon-leluconnya bahkan ketika aku sedang sedih dan ingin menangis, lalu dengan bangga berkata, ”You see, I can always make you smile, right?

Dengan rasa takut dan tidak percaya, aku berbalik.
Dan di sanalah dia berdiri, tersenyum padaku, pria dengan kemeja hitam dan celana panjang berwarna khaki.
Aku tidak sadar melangkah ke arahnya hingga jarak yang memisahkan kami tinggal beberapa meter. Aku menatapnya tidak percaya, dan sialnya, air mata yang sejak tadi susah payah kutahan akhirnya jatuh juga. Namun anehnya, aku tidak peduli. Aku benar-benar tidak peduli. Saat itu, semua orang di sekitar kami, dan kenyataan bahwa kami sedang berada di bandara, dan aku sedang menangis di depan umum, sama sekali terlupakan olehku. Yang ada hanya dia. Dan aku. Yang ada hanya kami.
Dia tersenyum lagi, dan mengangkat bahu. “I’ve changed my mind,
Aku ikut tersenyum, dan tertawa serak.
Lalu dia membuka kedua lengannya. Dan aku berlari ke arahnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s