Ternyata, Kamu


Lower Screen
Seorang gadis tengah berada di sebuah padang rumput yang penuh dengan hamparan bunga. Berbagai macam bunga – aster, mawar, bahkan dandelion – sepertinya bunga-bunga itu tidak mengenal musim dan tumbuh seenaknya saja, tertata secara tidak rapi namun alami di sekitar sang gadis. Si gadis tampak sedang meniup sekuntum dandelion, dan memekik gembira sembari menyaksikan helai-helai kelopaknya beterbangan ke seluruh penjuru. Beberapa ekor kupu-kupu mendekat dan si gadis menyambutnya dengan sukacita. Kupu-kupu itu sedemikian jinaknya, sehingga mereka tanpa malu-malu mendatangi sang gadis dan hinggap di jari-jemari yang diulurkannya. Mungkin juga karena mereka merasa gadis itu sama sekali tidak berbahaya.
Ia adalah seorang gadis yang jelita, dengan rambut ikal keemasan yang terjurai sampai ke punggungnya. Matanya sewarna laut yang paling jernih, dan bibirnya melengkung sempurna. Rona wajahnya bercahaya, dan seuntai rambut keemasan terjatuh menutupi keningnya. Tampak makhota dari bunga-bungaan bertengger di kepalanya. Jemarinya yang lentik membelai kupu-kupu itu, kemudian ia duduk di sebuah bonggol pohon dan mulai bersenandung perlahan.

Upper Screen
Seorang pria jangkung berdiri dalam kegelapan malam, dalam kesendiriannya. Ia berdiri di tepi sebuah pantai di malam hari, sambil memandangi hamparan bintang yang berkelap-kelip di angkasa. Sesekali, ia menatap ke bawah, ke arah si gadis yang tengah bermain di tengah ladang bunga dengan asyiknya. Ia ikut tersenyum ketika sang gadis tertawa, dan wajahnya ikut murung ketika si gadis bersedih. Namun, kehadirannya tampaknya sama sekali tidak diketahui sang gadis.

Lower Screen
Si gadis tiba-tiba tersentak dari lamunannya. Sepertinya ia mendengar seseorang mendesahkan namanya. Ia mengangkat kepalanya, berusaha mencari sumber suara itu. Kemudian, tiba-tiba disadarinya bahwa suara itu berasal dari atas kepalanya. Ia menengadah.
Dilihatnya seorang pria dengan ekspresi wajah yang sulit dipahami sedang memandang ke arahnya. Matanya yang gelap sekelam malam yang melingkupinya. Pria itu tidak tersenyum, ia hanya menatap sang gadis dengan pandangan yang sulit ditafsirkan. Namun demikian, pandangan itu seolah menghipnotisnya, memandang jauh ke dalam jiwanya, dan membuatnya seakan lupa bernapas. Wajahnya yang sendu, rahangnya yang kokoh, serta postur tubuhnya yang anggun, sangat menyatu dengan bentangan langit hitam yang dihiasi bintang di belakangnya.

Upper Screen
Akhirnya gadis itu melihatnya, menyadari keberadaannya, dan menatap langsung ke dalam matanya. Sang pria seolah tenggelam ke dalam mata berwarna laut itu; ia tidak mampu berkata-kata. Seluruh waktunya dihabiskan untuk memimpikan saat ini, dan saat ini itu akhirnya tiba. Diulurkannya tangannya ke arah si gadis. Ia tidak mampu mengutarakan kata-kata itu, namun matanya telah cukup bertanya. Dengan perasaan tak menentu ia menyaksikan ketika perlahan-lahan, dengan mata yang juga dipenuhi tanda tanya, si gadis menyambut tangannya.

Upper Screen
Kini sang gadis dan si pria berada bersama-sama. Mereka berdiri di tepi sebuah pantai di malam hari, sambil memandangi hamparan bintang yang berkelap-kelip di angkasa. Si gadis tampak takjub dengan keadaan di sekitarnya. Ia, yang selama ini hanya dikelilingi cahaya matahari, padang rumput, dan bunga-bungaan, belum pernah sekalipun menyaksikan indahnya malam, deru ombak di bibir pantai, serta kerlap-kerlip bintang di angkasa. Matanya melebar karena kagum, sinar matanya menjadi lebih bercahaya. Menyaksikan hal ini, sang pria hanya bisa tersenyum dalam diamnya; ia tidak ingin mengusik keasyikan si gadis.
Tiba-tiba sebuah komet melintas di hadapan mereka berdua. Si gadis, yang tentunya belum pernah melihat komet, berseru penuh kekaguman. Selama beberapa saat lamanya mereka hanya berdiri seperti itu, sang pria di belakang si gadis – sambil menikmati keindahan komet yang melintas di kaki langit. Kemudian, si gadis berbalik menatap si pria, dan untuk pertama kalinya dalam hidup si pria, gadis itu tersenyum padanya. Senyum yang sangat indah; bukan senyum menggoda maupun senyum ramah-tamah, melainkan suatu senyuman polos yang penuh dengan kegembiraan dan kekaguman. Detik itu juga, sang pria tidak menyesal telah membawa si gadis ke sana – ke dalam dunianya.

Upper Screen
Si pria menyadari bahwa waktunya telah habis. Dengan lembut diraihnya tangan sang gadis lalu dituntunnya gadis itu kembali ke bawah, ke padang rumput beserta hamparan bunga-bungaannya yang berwarna-warni. Dan, tanpa sepatah pun kata perpisahan, mereka berpisah.

Lower Screen
Si gadis yang telah kembali ke padang rumputnya mulai menceritakan pengalamannya kepada siapa saja yang ditemuinya. Dikisahkannya petualangannya itu pada kupu-kupu, kelinci, burung-burung gereja yang bertengger di pangkuannya – bahkan dibisikkannya kisahnya itu pada ilalang-ilalang liar yang tengah bergoyang dihembus angin musim semi. Sepanjang waktu dihabiskannya dengan bersenandung mengenai pengalamannya di atas sana, dan senyumnya terbawa hingga ke dalam mimpi.

Lower Screen
Beberapa saat telah berlalu, kini si gadis mulai melirik ke atas tiap beberapa waktu, mencari-cari bayangan pria pemilik dunia itu. Ia merindukan pantainya, bintangnya, dan kegelapannya yang menentramkan. Oh, ke mana pria itu pergi? Ia sungguh ingin diajak lagi ke sana….
Akhirnya, diputuskannya untuk membuat sebuah tangga ke atas. Dikumpulkannya ranting-ranting serta batang pohon, kemudian dirangkaikannya menjadi sebuah tangga sederhana dengan bantuan sulur-sulur pepohonan yang liat. Ketika akhirnya tangga itu selesai, sang gadis pun mulai memanjat ke atas.

Upper Screen
Si gadis tiba di tepi pantai. Dilihatnya tak ada seorang pun di sana. Tanpa bermaksud melanggar privasi pemilik tempat itu, didudukkannya dirinya di sana, di hamparan pasir di tepi pantai, lalu ia mulai menikmati suasana pantai di malam hari itu. Deburan ombaknya menyatu dengan irama napasnya, kerlip bintang seolah menggodanya; ia menarik napas panjang dengan perasaan puas. Tapi – tunggu – sepertinya ada sesuatu yang kurang. Apa itu? Si gadis tercenung, berusaha menemukan hal yang masih kurang itu. Oh ya! Tentu saja – komet itu! Dengan penuh harap dialihkannya pandangannya ke atas, menantikan komet yang diharapkannya akan melintas sebentar lagi.
Namun komet itu tidak muncul. Bahkan setelah sang gadis tertidur dan terbangun lagi, komet itu belum muncul juga. Dengan perasaan sedih si gadis akhirnya kembali ke dunianya, tetapi dalam hati ia berjanji untuk datang lagi dan menunggu melintasnya komet.

Upper Screen
Berhari-hari telah berlalu, sang gadis datang setiap hari ke tepi pantai itu, menantikan datangnya si komet. Bintang-bintang muncul dan tenggelam, bulan berubah-ubah dari bulan sabit, bulan purnama, dan bulan sabit lagi, tapi toh tidak ada tanda-tanda munculnya si komet.
Si gadis merasa sedih dan kecewa – apakah komet itu hanya datang sekali seumur hidupnya? Baiklah, ia akan datang satu kali lagi – hanya satu kali lagi – dan jika sang komet tidak muncul juga, ia berjanji akan melupakan bahwa ia pernah menyaksikan apa yang dinamakan komet.
Maka datanglah si gadis di hari terakhir itu. Malam itu lebih gelap daripada malam-malam sebelumnya, sebab bulan tidak ada dan bintang-bintang pun hanya bersinar redup. Sang gadis duduk seorang diri di tepi pantai, menatap ke kaki langit dengan perasaan bercampur aduk, setengah berharap namun ragu-ragu: akankah si komet muncul malam ini?
Lalu, dengan tiba-tiba, seolah menjawab pertanyaan bisunya, sebuah komet yang besar dan bercahaya – jauh lebih besar dan lebih bercahaya daripada yang dulu disaksikannya – melintas tepat di hadapannya. Sang gadis memekik penuh kekaguman: akhirnya doanya terjawab!
Secara otomatis ditolehkannya ke belakang, berharap menemukan seraut wajah sendu yang memandanginya dengan tatapan yang sulit ditafsirkan, bibirnya bersiap-siap membentuk sebuah senyuman yang diperuntukkan bagi pria pendiam yang memperkenalkannya pada semua keindahan itu.
Dan ketika matanya menatap kegelapan kosong yang pekat, ia terpaku. Senyum yang baru setengah terbentuk di bibirnya perlahan memudar. Seraya menatap hampa pada kegelapan di hadapannya, ia akhirnya menyadari: yang dicarinya selama ini bukanlah kegelapan pekat yang menentramkan itu, yang ingin ditemuinya selama ini bukanlah deburan ombak di pantai pada malam hari, dan terutama lagi, yang dirindukannya selama ini bukanlah komet yang megah dan bercahaya itu – melainkan sang pria, yang telah merenggutkannya dari dunia padang rumputnya yang dipenuhi kehangatan cahaya matahari dan angin musim semi, yang telah memperkenalkannya pada keindahan pantai, bintang, malam, dan komet, yang telah memandang jauh ke dalam jiwanya dan meninggalkan sebagian dirinya di sana. Ia merindukan pria pemilik dunia itu….
Maka, dengan hati yang patah disandarkannya kepalanya ke kedua lututnya, sambil memeluk dirinya ia menggigil kedinginan. Baru sekali itu ia merasakan kedinginan – suatu sensasi aneh yang tak pernah dijumpainya di dunia padang rumputnya yang indah, dan yang tak pernah disadarinya sebelumnya, ketika sang pria masih berada di sisinya untuk menemaninya menantikan komet.
Kemudian, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menitikkan setetes air mata. Setetes air mata kepedihan yang diperuntukkan bagi sang pria yang entah kapan baru akan dijumpainya lagi….
Dan begitulah, sang gadis tinggal seorang diri di tepi pantai pada malam hari, terpekur memandangi bintang-bintang muncul dan tenggelam, bulan berubah-ubah dari bulan sabit, bulan purnama, dan bulan sabit lagi, sambil menantikan sang pria yang tak kunjung datang….

Advertisements

2 thoughts on “Ternyata, Kamu

  1. maap lupa menjelaskan. ini maksudnya pake settingan kyk layar TV gt, jadi anggaplah layar TVnya terbagi 2, ada layar sebelah atas, ada layar sebelah bawah. dunianya beda tapi saling berhubungan.
    err.. bmana mau djelaskan.. pakelah imajinasimu untuk mengembangkannya. heheheeeee

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s