Tragedi Buah Ceri (based on a true story)


I saved my cherry for the last bite
I left my blackforest on the white cupboard, and went for a glass of water
Then, when I turned back, I saw him eating my cherry, showing me what remained, and with a big grin on his face, asked “Can I eat your cherry?”
AAAAARRRGGGHH!!!

Ceri terakhir itu ada di piringku!
Piringku!
Dan dia tahu bahwa itu piringku, itu blackforest-ku, itu ceriku!
Tolong deh, orang macam apa yang seenaknya mencomot dari piring orang lain, memakannya, baru kemudian meminta izin?
Seolah-olah dia berkata “Tidak peduli kau mengizinkan atau tidak, toh aku sudah memakan cerimu. Bodo amat.”
Orang model “Sudah terlanjur, jadi kau mau apa?” yang menganggap minta izin hanyalah formalitas dan dunia berjalan seenak perut mereka.
Kampret.
Sial.
Aku benci.

Ayu tertawa, “Hahahaha…”
Rian mengejek, “Cerimu, cerimu dimakan sama salam sejahtera!”
Adri tergelak, “Ngehehehe,” lalu melanjutkan main laptop.
Naldi menasihati, “Biarmi kodong, kasihan itue.”
Taci bilang, “Itumi kau kualat ko, tadi ko pilih memang yang bagus cerinya.”
Wira sih tidak tahu, mungkin dia sedang main game, tapi (pasti) dia (akan) berkata, “Kasian deh lu. Wahahahaha…”
Diriku yang satu lagi menjawab, “Memangnya kau sendiri bagaimana?”
JDERRR!!!

Memangnya aku sendiri bagaimana?
Mungkin, tanpa kusadari, aku juga pernah mencomot dari piring orang lain, memakan ceri terakhir mereka, lalu kemudian berkata, “Cerimu sudah kumakan, jadi kau mau apa?”
Pernah tidak, ya?
Adakah di antara kalian yang pernah kuambil cerinya tanpa izin?
Kalau ada, aku minta maaf.
Karena itu, pada kesempatan ini, aku ingin meminta maaf untuk semua ceri-ceri milik kalian yang telah kumakan, untuk semua jatah-jatah kalian yang telah kucomot, dan semua alasan-alasan yang kugunakan untuk menutupi keserakahanku…
Mungkin aku tidak dapat mengganti ceri-ceri kalian, karena mungkin itu adalah ceri terakhir yang ada di blackforest itu, yang kalian simpan dengan sepenuh hati, karena prinsip “Save the best for the last”…
Dan aku tahu ceri-ceri itu takkan bisa digantikan dengan anggur, apel, pisang, atau bahkan ceri lain di lain kesempatan sekalipun.
Karena itu adalah ceri terakhir kalian.
Yang kalian simpan untuk suapan terakhir.
Yang kalian tunggu-tunggu sepanjang suapan blackforest untuk memakannya…

Jadi, aku sungguh-sungguh minta maaf
Untuk semua ceri-ceri kalian yang telah kumakan

Even if they say “Nothing lasts forever”
And even cherries don’t last forever
But I hope by apologizing for the cherries
Maybe I could bring back your smile….

Memang sih, ini bukan hari Lebaran
Tapi tidak ada salahnya kan, saling bermaaf-maafan…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s