Orang-Orang Berbaju Kuning


Beberapa waktu yang lalu saya mengikuti sebuah bakti sosial yang diselenggarakan oleh suatu badan pemerintah bekerja sama dengan sebuah organisasi di mana saya adalah salah seorang anggotanya. Untuk kami yang bergerak di bidang kesehatan, program yang kami jalankan ialah pemeriksaan kesehatan, sirkumsisi (sunatan) massal, serta pemeriksaan kesehatan gigi. Singkat cerita, saya membantu dalam program sirkumsisi.

Untuk itu saya perlu menjelaskan sedikit; perlengkapan untuk menyirkum dikelompokkan ke dalam dua bagian: steril dan nonsteril. Jadi, masing-masing “meja operasi” memiliki dua buah wadah – dalam hal ini kami menggunakan piring – untuk menampung peralatan-peralatan tersebut. Kami menyebutnya “piring steril” dan “piring nonsteril”. Lebih lanjut lagi, untuk dalam proses sirkumsisi kami biasanya terdiri dari dua orang, operator, yaitu “pekerja” utama dalam proses menyirkum tersebut, dan asisteren, atau “pembantu” dari operator.

Kegiatan tersebut melibatkan banyak pihak, antara lain para dokter dari badan pemerintah tertentu, saya dan rekan-rekan saya dari sebuah organisasi di kampus, serta beberapa orang dari organisasi lain – yang akan saya sebut sebagai “orang-orang berbaju kuning” – karena memang pada saat kegiatan bakti sosial tersebut mereka mengenakan baju dengan dress code berwarna kuning.

Ketika kegiatan akhirnya dimulai, kami pun bersiap di meja masing-masing, menunggu pasien datang ke meja kami. Pada awalnya segala sesuatunya berjalan lancar-lancar saja (tanpa memperhitungkan jeritan dan tangisan anak-anak yang sedang kami sirkum). Kira-kira pada siklus ketiga saya, saat saya sedang berperan menjadi asisteren dan sedang sibuk mengerjakan sirkumsisi, tiba-tiba dari sudut mata saya menangkap seseorang dengan baju kuning (tentu saja kita selalu dapat mengenali baju kuning yang mencolok mata itu) mendekati meja saya – lalu dengan seenak perutnya mengangkat piring nonsteril saya, “membuang” semua isinya ke dalam piring steril (ya! Dari piring nonsteril dimasukkan ke dalam piring steril!) kemudian melenggang kangkung membawa pergi piring nonsteril saya.

Anda tidak dapat membayangkan betapa marahnya saya. Saya hampir mengumpat dan meneriakinya saat itu juga, tetapi saya diam saja. Diam-diam, saya menghafal wajahnya. Saya mencoba kembali berkonsentrasi pada pasien yang sedang saya tangani, tetapi jujur saja, saya tidak bisa. Saya merasa terlalu marah untuk dapat memusatkan perhatian pada pasien saya. Akhirnya, ketika saya melihat operator saya tampaknya dapat meng-handle si pasien dengan cukup mudah, saya “minta izin” padanya untuk pergi mendamprat si baju kuning.

Saya tahu bahwa dengan demikian saya telah melalaikan tanggung jawab saya terhadap pasien – dan hal tersebut sangatlah menyimpang dari etika kedokteran. Tetapi saya juga tahu bahwa jika saya tidak pergi mengatakan pada si baju kuning bahwa saya melihatnya melakukan hal itu, saya akan menyesal seumur hidup saya. Maka saya pun pergi mendatangi si baju kuning.

Ketika saya sampai di sampingnya, ternyata ia sedang mengisi piring nonsteril saya dengan peralatan steril untuk dirinya sendiri. Saya harap ia sudah sempat mensterilkan piring tersebut lebih dulu. Saya langsung berkata, “Ibu, di mana piring saya yang tadi Ibu ambil?”

Saya merasa hampir meledak ketika ia menjawab dengan entengnya, “Piring apa ya? Saya tidak tahu, tuh.” Dan ia sengaja menghindari pandangan mata saya. Seandainya saya terbiasa, saya pasti sudah memakinya saat itu juga. Pencuri ketangkap basah kok tidak mau mengaku. Pura-pura tidak tahu lagi. Dalam hati saya berpikir, ini orang punya moral nggak sih?

Dengan jengkel saya membalas, “Lho, tadi kan Ibu yang ambil piring saya. Tadi saya lihat kok, Ibu ambil piring nonsteril dari meja saya.” Lalu dengan manisnya ia menjawab, “Aduh, saya tidak tahu ya. Sudah dulu ya, pasien saya sudah menunggu di sana.” lalu melenggang meninggalkan saya.  Sungguh suatu perkataan yang penuh tanggung jawab! Sangat bertolak belakang dengan saya yang pergi meninggalkan pasien saya demi mendampratnya. Hanya saja bedanya, saya jujur sedangkan ia tidak.

Jadi saya meneriakinya dari jarak sekian meter, “Oh iya Bu, soalnya itu kan piring nonsteril saya, saya juga mau pakai. Tadi kan Ibu ambil.” Dan (aduh) saya menyesal mengapa saya tidak menambahkan “Lain kali jangan begitu ya, Bu. Kalau Ibu minta pasti saya kasih, tidak perlu diambil diam-diam seperti itu.”

Maka saya pun kembali ke meja saya dan melanjutkan sirkumsisi tersebut. Memang sih, saya masih agak kesal, tetapi setidaknya sudah saya lampiaskan sedikit dengan mendampratnya. Berhubung meja si baju kuning itu agak dekat dengan meja saya, jadi tiap ada kesempatan saya selalu menyempatkan diri berkata dengan suara keras, “Iya, kan ada orang yang ambil piring diam-diam.” Entah dia mendengar atau tidak, tetapi saya sungguh berharap ia mendengarnya. Haha.

Suasana hati saya tetap tidak bagus sampai beberapa saat ke depan, ketika saya menceritakan hal tersebut kepada salah seorang teman saya sambil menggerutu (juga dengan suara keras). Saya menjadi lebih kesal lagi ketika mengetahui bahwa ternyata orang-orang berbaju kuning lain pun melakukan hal yang sama terhadap beberapa teman saya. Sayangnya, teman saya tidak mengenali wajahnya. Banyak barang-barang yang hilang dari meja mereka tanpa diketahui siapa pelakunya, mereka hanya melihat “orang-orang berbaju kuning”. Ada juga salah seorang teman saya yang berkerja bersama salah seorang “si baju kuning”, lalu ketika si baju kuning melihat temannya datang, ia pergi meninggalkan teman saya begitu saja di tengah-tengah proses sirkumsisi yang sedang berjalan. Dan tanpa disangka-sangka, teman saya (yang ditinggalkan itu) berkata pada saya, “Yah sudahlah, toh dia kan juga sudah membantu dalam baksos ini.”

Ah! Saya bagaikan tersadar mendengar kata-kata itu. Itu betul sekali! Meskipun dia sudah menjengkelkan saya, tetapi secara keseluruhan dia sudah membantu terselenggaranya baksos ini. Tanpa si baju kuning (dan teman-temannya), kami mungkin masih harus bekerja selama satu atau dua jam lebih lama. Bukankah manusia memang tidak ada yang sempurna? Dan bukankah tadi saya juga sudah melampiaskan kekesalan saya padanya?

Dan dengan satu kalimat sederhana itu, kekesalan saya pada orang-orang berbaju kuning langsung berkurang drastis, kalau tidak bisa dikatakan hilang sama sekali. Karena itu memang benar. Saya seharusnya berterima kasih pada mereka. Bahkan teman saya yang ditinggalkan oleh si baju kuning di tengah-tengah sirkumsisi (yang notabene pasti lebih mengesalkan dibandingkan hanya diambil piringnya) saja bisa melihat hal itu sedemikian jelasnya, jadi mengapa saya harus tetap marah? Saat itu saya merasa agak malu pada diri sendiri, dan hanya bisa menjawab, “Iya ya, kamu benar.”

Jadi, demikianlah kisah orang-orang berbaju kuning. Inti dari cerita ini bukanlah tentang siapa yang benar dan siapa yang salah, bukan tentang kekuranghati-hatian kami menjaga kesterilan peralatan, bukan juga tentang moral dan etika kedokteran yang sesungguhnya. Yang ingin saya sampaikan ialah bahwa akan ada banyak “orang-orang berbaju kuning” dalam kehidupan kita. Mereka akan berperan serta dalam merusak suasana hati kita, mengambil “piring-piring” kita, mereka akan meninggalkan kita di saat kita justru paling membutuhkan mereka, dan yang paling parah ialah mereka takkan merasa bersalah karenanya.

Namun, tak dapat dipungkiri, mereka juga turut membantu dalam “program bakti sosial” kita, atau dalam hal ini, kehidupan kita. Mereka adalah orang-orang, yang dengan cara tertentu, ikut membentuk kehidupan kita, tetapi dengan peranan sebagai “orang jahat”. Tanpa mereka, kita tidak akan pernah belajar bagaimana  menghadapi suatu masalah. Dan sebagaimana pula halnya dalam game-game RPG (role playing game), semakin tinggi level kita, maka semakin kuat pula “musuh”-nya. Karena itu, berbahagialah jika kita mendapatkan cobaan hidup yang lebih sulit dibandingkan orang lain, karena itu menandakan bahwa “level” kita sudah lebih tinggi dibandingkan mereka.

Pertanyaan yang sesungguhnya ialah: apakah kita masih mampu menenangkan hati, memaafkan mereka, serta memetik hikmah dari semua pelajaran itu setelah semuanya berlalu? Masih mampukah kita kembali “berkonsentrasi kepada pekerjaan kita” dan “melakukan segala yang terbaik bagi pasien kita”? Berdasarkan pengalaman saya di atas, saya mendapati bahwa saya ternyata belum mampu. Saya masih menganggap mereka sebagai “orang-orang jahat” yang kerjanya hanya mengganggu kehidupan saya. Padahal, di balik peran antagonis maupun protagonis yang mereka jalankan, sesungguhnya mereka semua ialah “alat-alat” dari alam untuk menguji kita. Dan bukan tidak mungkin bahwa kita pun memegang suatu peranan antagonis maupun protagonis dalam kehidupan orang lain. Sebab, memang demikianlah, manusia ada untuk saling membantu satu sama lain, baik secara sadar maupun tidak sadar.

Mungkin Anda adalah “orang-orang berbaju kuning” dalam kehidupan saya, mungkin pula saya adalah “orang-orang berbaju kuning” dalam kehidupan Anda. Apapun itu, baik disadari maupun tidak disadari, ketahuilah bahwa semuanya itu memiliki satu tujuan universal yang baik, yakni membantu kita semua melatih diri untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan sejati.

Akhir kata, saya memohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan maupun menyinggung suatu pihak tertentu. Bukan maksud saya untuk menyulut perselisihan maupun membuka aib, saya hanya ingin membagi sebuah pengalaman dari sudut pandang saya, serta hikmah yang dapat saya petik dari kejadian tersebut. Sekian dan terima kasih.

Advertisements

6 thoughts on “Orang-Orang Berbaju Kuning

  1. ternyata kejadian itu begitu membekas ya.. s rasa biasa ji.. hahaha.. s baru buka ini blog mu..
    ini termasuk karangan apa ya?? opini bukan?

    Like

  2. hahaha…merasa nih krn catgut ku jg diambil..hehehe…
    jadi ingat salah satu postingan teman dlm grup angkatan…
    perawat bekerja asal2, tp dokter yg bertanggungjawab…
    aduh,soalx sa liat mereka pegang telpon pake handschoen yg masih berlumur darah bla…masih dlm proses sirkumsisi lagi iya…
    cepat sih cepat, tp sangat tdk lege artis…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s