Terima Kasih, Tuhan, Mama Saya Tidak Seperti Itu


Saat itu, saya sedang dalam perjalanan pulang ke rumah setelah jaga siang di rumah sakit. Untuk menghabiskan waktu, saya asyik memerhatikan keadaan di kanan-kiri sepanjang jalan. Di salah satu jalan yang saya lewati, saya melihat seorang perempuan setengah baya tengah membungkuk membelakangi jalan. Karena saat itu lalu lintas tengah merayap pelan-pelan, maka saya memiliki cukup waktu untuk mengamatinya. Saya melihat bahwa ternyata ia sedang membungkuk di atas tumpukan gelondongan kayu. Ia mengangkat gelondongan kayu tersebut satu per satu, lalu meletakkannya di atas sebuah gerobak dorong.

Saya hanya sempat melihat sampai di situ, karena pada saat itu lampu hijau sudah menyala dan kami melanjutkan perjalanan. Namun, pemandangan tersebut sangat berkesan bagi saya. Entah mengapa, hal pertama yang terlintas di kepala saya saat melihat perempuan tua itu adalah, “Terima kasih, Tuhan, mama saya tidak seperti itu.”

Terima kasih, Tuhan, mama saya tidak seperti itu. Perempuan itu mengenakan daster lusuh dan sarung yang diikat di pinggangnya. Rambutnya yang sudah mulai beruban tampak terurai tak beraturan di sekeliling wajahnya yang penuh debu. Dari jarak sekian, saya memang tidak dapat melihat ekspresi wajahnya, namun dari gerak-geriknya memindahkan gelondongan kayu ke atas gerobak, saya dapat menebak bahwa ia sudah letih. Dan meskipun saya tidak melihat adanya keringat yang bercucuran di keningnya, namun pandangannya yang kosong serta bibirnya yang tidak tersenyum membuat saya merasa trenyuh.

Terima kasih, Tuhan, mama saya tidak seperti itu. Bahkan pada jam sembilan malam perempuan itu masih bekerja keras. Tumpukan kayu yang mesti dipindahkannya masih banyak; siapa yang tahu jam berapa ia akan selesai bekerja? Padahal saya sudah bersungut-sungut karena baru pulang pada jam sembilan malam. Padahal sepulangnya di rumah, saya hanya tinggal mandi, makan, dan tidur, sedangkan perempuan tua itu masih harus bekerja, entah sampai kapan.

Terima kasih, Tuhan, mama saya tidak seperti itu. Terima kasih, mama saya tidak perlu bekerja sedemikian kerasnya seperti itu. Terima kasih, mama saya bisa tinggal di rumah dan bukannya bekerja di jalanan, pada jam sembilan malam. Terima kasih, karena membuat saya menyadari hal tersebut. Terima kasih, Tuhan, mama saya tidak seperti itu.

Saya bersyukur karena telah melihat perempuan setengah baya yang masih bekerja memindahkan gelondongan kayu pada jam sembilan malam itu, dan berhasil memetik sesuatu darinya. Saya melanjutkan perjalanan dengan suasana hati yang sama sekali baru, penuh syukur sekaligus iba kepada perempuan itu. Saya harap ia akan berbahagia sepanjang sisa hidupnya.

Terima kasih, Tuhan, mama saya tidak seperti itu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s