Soul Mate


I never believed in soul mates. Then you came, and broke all my theories about love.

Aku selalu menyangka cinta itu harus sempurna; saat di mana kamu bertemu dengan cinta sejatimu, kamu akan menatap langsung ke matanya dan tahu, bahwa orang itulah yang ditakdirkan untukmu. Aku selalu menyangka cinta itu berarti kamu berdebar-debar sejak pertemuan pertama, dan saat kamu beradu pandang dengannya, nuansanya akan seperti kisah-kisah romantis dalam drama remaja.

Tapi kamu nggak begitu. Aku butuh waktu untuk mengenalmu, aku butuh waktu untuk terbiasa denganmu, dan aku butuh waktu di mana aku merasa biasa-biasa saja denganmu. Dan setelah sekian lama, aku benar-benar nggak pernah menyangka aku akan jatuh cinta padamu. Soalnya, kamu sama sekali bukan tipeku. Kamu nggak seperti pangeran berkuda putih yang selama ini aku impikan.

Jadi kenapa, setelah sekian lama aku mengenalmu dan merasa biasa-biasa saja denganmu, aku tiba-tiba bisa berkata dengan yakinnya bahwa kamu adalah soul mate-ku?

Finding you is like coming home after long time wandering around…

Perasaan yang belum pernah aku rasakan selama ini; rasa akrab yang aneh. Seolah-olah aku akhirnya menemukan sesuatu yang selama ini aku rindukan, yang membuatku ingin berkata, “I’ve finally found you,” pada kamu. Dan ini bukan cuma cinta atau sayang semata; ini adalah perasaan ketika kamu akhirnya menemukan hartamu yang paling berharga di dunia ini. Itu nggak ternilai. Sesuatu yang membuat mimpi-mimpimu yang paling kamu impikan sekalipun rasanya nggak terlalu penting, because you’ve finally found someone you want to spend your lifetime with.

But you are the right guy at the right place in the wrong time…

Kenapa? Kenapa aku harus menemukanmu dalam situasi seperti ini? Ini bagaikan harus mencabut mesin ventilator dari seseorang yang hidupnya hanya tinggal bergantung pada benda itu. I know it’s already dead, but seeing its chest moving, I have no courage to turn off the machine. Biarpun aku tahu perasaan ini nggak mungkin terealisasikan, tapi aku nggak punya keberanian untuk menghentikannya. Sebab kalau aku berhenti, mungkin saja aku nggak akan pernah menemukan orang sepertimu lagi. It’s like hurting myself, seeing the blood run out and doing nothing. It’s killing me inside; I’m dying and I have nothing to do.

Tapi setelah kupikir-pikir lagi, kalau aku harus mengorbankan perasaanku supaya kamu bahagia, apa sih artinya? Itu cuma satu hal kecil yang bisa kulakukan untuk menyatakan perasaanku setulusnya. Lagipula, in this life we have to make sacrifices. Dan jika aku mengorbankan kebahagiaanku demi kamu, mudah-mudahan itu akan mengurangi sakitnya. Karena kamu adalah soul mate-ku. Dan jika soul mate-ku bahagia, bukankah aku juga seharusnya berbahagia? Because you don’t have to be with your soul mate to be happy, or to make him happy. Ya kan?

Apa menurutmu aku ini pengecut? Karena nggak berani memperjuangkan sesuatu yang aku yakini? Meskipun aku mungkin saja nggak akan pernah lagi bertemu orang lain yang bisa membuatku merasa seperti ini? Aku nggak tahu. Aku juga sedang berjuang, mengumpulkan keberanian untuk meninggalkan kamu, mengumpulkan keberanian agar aku nggak hancur saat kamu akhirnya pergi. Karena kamu pasti pergi.

Apakah aku akan pernah bertemu denganmu lagi? Sesuatu dalam hatiku berkata ya, tapi apakah aku sedang memupuk harapan-harapan kosong? Apapun itu, aku cuma ingin kamu mengingatku. Kelak, aku ingin kamu sekali-sekali teringat padaku; dan jika saat itu tiba, aku harap kamu akan mengingatku sambil tersenyum. Aku tahu kamu nggak tahu tentang perasaanku. Aku tahu kamu nggak akan pernah merasakan apa yang sedang aku rasakan saat ini. Kamu nggak akan pernah nggak bisa makan atau tidur gara-gara aku. Kamu nggak akan pernah tersenyum dalam tidurmu karena memimpikan aku. Kamu nggak akan pernah merasa I’m the one you’re destined to be with. Kamu nggak akan pernah tahu. Tapi sekali lagi, kalau aku harus mengorbankan kebahagiaanku demi kamu, apa sih artinya itu?

Aku hanya ingin mendengarmu sekali saja berkata padaku, “Kamu pasti bisa melaluinya tanpa aku.” Entah dalam konteks apapun, entah apapun topiknya. Aku akan mengingatnya dalam konteks ini; kapanpun aku merasa nggak sanggup atau menyesal karena melepasmu, aku akan mengingat kata-kata itu untuk menguatkanku.

Who knows what the future will be? Aku harap kita bisa bertemu lagi, entah di kehidupan ini atau di kehidupan lainnya. Kapanpun itu, aku harap jika saat itu tiba, aku bisa sekali lagi berkata, “I’ve finally found you.” Karena entah sejak kapan, aku yakin bahwa kamu adalah soul mate-ku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s