Saya (Calon) Dokter: Idealisme Masa Muda


Saya seorang (calon) dokter. Meskipun dulunya saya masuk Fakultas Kedokteran lebih karena saran dari berbagai pihak serta kesempatan dan keberuntungan dibandingkan dengan motivasi pribadi – toh, di sinilah saya berada sekarang, kurang lebih satu tahun dari gelar “dr.” di depan nama saya. Menjadi seorang dokter ialah cita-cita saya sewaktu masih kecil – zaman di mana saat ditanya mengenai cita-cita, seorang anak akan dengan bangga dan spontan menjawab, “Dokter!” atau “Pilot!” atau bahkan “Presiden!” Namun, seiring berjalannya waktu, cita-cita itu berubah dari hari ke hari, hingga akhirnya realita hidup dan kesempatanlah yang menentukan cita-cita seseorang.

Saat ini, mau tidak mau saya harus memikirkan, apa yang akan saya lakukan setelah menjadi seorang dokter? Akan jadi dokter yang bagaimanakah saya nanti? Jujur, saya memilih profesi kedokteran bukan dikarenakan faktor ekonomi. Melihat semakin melambungnya biaya konsultasi dokter sekarang ini, saya merasa maklum, sebab saya merasa biaya itu masuk akal jika dibandingkan dengan waktu bertahun-tahun yang dihabiskan untuk memperoleh “dr.” itu, belum lagi biaya buku, alat, serta biaya kuliahnya. Tetapi jauh di dalam lubuk hati saya, saya berharap saya tidak menjadi seorang dokter yang seperti itu.

Idola saya dalam bidang kedokteran bukanlah seorang profesor maupun Ph. D. Dia adalah Albert Schweitzer, seorang dokter berkebangsaan Jerman. Sebelumnya ia mempelajari teologi, musik, dan filsafat, namun setelah membaca mengenai kondisi kesehatan masyarakat Afrika, ia memutuskan untuk menjadi seorang dokter dan masuk Fakultas Kedokteran pada usia 30 tahun. Motivasinya menjadi seorang dokter ialah untuk mengamalkan ilmu kedokterannya untuk mengobati penduduk di Afrika, di mana kondisi kesehatan masih sangat terabaikan. Cita-citanya ialah “belajar dengan baik hingga usia 30 tahun, setelah itu mempergunakan ilmu yang dimilikinya dan mengabdikan hidup untuk menolong sesama manusia”. Albert Schweitzer menerima Nobel Perdamaian pada tahun 1952, untuk pengabdiannya kepada masyarakat dan semboyannya untuk “menghargai kehidupan”.

Ketika pertama kali membaca mengenai Albert Schweitzer saat masih duduk di Sekolah Dasar, saya merasa biasa-biasa saja. Tetapi, seiring berjalannya waktu, saya melihat realita kehidupan yang ternyata berbeda dengan pandangan saya sewaktu masih kanak-kanak; dengan sendirinya saya merasa kagum sekaligus hormat pada Albert Schweitzer, sebab ternyata masih ada orang yang memiliki niat sedemikian mulia sepertinya. Setelah saya memilih Fakultas Kedokteran, saya pun memutuskan bahwa jika saya harus memilih satu orang sebagai teladan, saya akan memilih Albert Schweitzer; dan jika saya kelak menjadi seorang dokter, semoga nantinya saya dapat bersikap seperti itu.

Jika membayangkan masa depan saya sebagai seorang dokter, saya sering membayangkan beberapa skenario. Kadangkala saya membayangkan diri saya duduk di belakang meja, menganamnesis pasien, mendiagnosis penyakitnya, menuliskan resep, menerima pembayaran, lalu menghadapi pasien berikutnya. Saya cukup menyenangi gambaran ini. Saya membayangkan setelah selesai jam praktik, saya akan pulang dan menghabiskan waktu dengan keluarga – sebuah kehidupan yang sempurna.

Kadang saya juga membayangkan diri saya berada di dalam laboratorium, menunduk menatap preparat di bawah lensa mikroskop, dan menghabiskan waktu dalam penelitian-penelitian untuk memperoleh penemuan baru – mungkin obat baru untuk kanker atau kemajuan dalam bidang genetika. Atau mungkin saya akan bekerja sebagai seorang akademisi, membagikan pengetahuan kedokteran yang saya miliki untuk para calon dokter-calon dokter lain yang sedang meniti perjalanan mereka yang panjang. Gambaran ini pun sepertinya mengasyikkan.

Di sisi lain, tidak jarang saya membayangkan diri saya berada di suatu lapangan terbuka, bekerja sebagai seorang tenaga sukarelawan, sedang menganamnesis dan memeriksa pasien tanpa menerima bayaran – atau kadang saya membayangkan diri saya bekerja untuk merawat dan mengajar anak-anak penderita autisme yang hidup dalam dunianya sendiri. Meskipun dalam gambaran itu saya bermandikan peluh, kepanasan, mungkin juga letih, namun gambaran inilah yang membuat saya tersenyum paling lebar. Saya juga tidak tahu mengapa. Padahal, kalau dipikir-pikir, buat apa saya sekolah bertahun-tahun kalau toh nantinya saya akan bekerja tanpa dibayar. Pikiran logis saya seringkali menertawakan gambaran ini.

Kelanjutan dari bayangan itu ialah saya akan menghabiskan seluruh hidup saya untuk mengabdikan diri dan pengetahuan kedokteran saya bagi masyarakat yang membutuhkan; mungkin nantinya saya akan meninggal karena ketularan penyakit mereka, seperti yang biasanya terjadi pada sukarelawan-sukarelawan medis yang bekerja di tempat terpencil. 🙂 Tapi, idealisme saya berkata, so what? Ya, so what? Toh, kita semua akan mati pada akhirnya, entah kapan dan bagaimana caranya. Jadi, jika kita masih sempat mempergunakan sedikit kehidupan kita untuk menolong orang yang membutuhkan, kenapa tidak? It’s worth it.

Menjadi seorang dokter yang baik bukanlah diukur dari berapa banyak gelar yang mengikuti nama kita, atau dari berapa banyak uang yang kita hasilkan, bukan pula dari berapa banyak nyawa yang berhasil kita loloskan dari maut. Menjadi seorang dokter yang baik ialah seberapa tulus niat kita untuk menolong pasien, serta seberapa besar usaha yang kita keluarkan untuk membantu mereka yang membutuhkan. It’s how you care about your patients. Nyawa pasien-pasien kita tidak berada dalam kekuasaan kita, namun sepanjang kita bisa memperbaiki kualitas kehidupannya, meskipun sedikit, saya rasa pasien tersebut sudah akan sangat terbantu karenanya.

Tulisan ini memang hanya merupakan buah idealisme saya. Mungkin saya terlalu naïf, atau terlalu bermimpi yang muluk-muluk. Toh, saya tersenyum setelah membaca ulang apa yang saya tulis.Ada berbagai macam dokter di dunia ini beserta motivasinya masing-masing, seperti halnya ada berbagai macam manusia. Saya tidak akan menyalahkan motivasi yang mana pun, sebab hal itu tergantung pada karakter dan pengalaman pribadi. Saya hanya berharap bahwa apapun motivasinya dan dokter seperti apapun mereka, semoga mereka masih menyisihkan sedikit waktu dalam kehidupannya untuk menyumbangkan sesuatu bagi kemanusiaan. Sebab, apalagi bayaran yang paling memuaskan selain mengetahui bahwa, entah bagaimana, kita telah membuat orang lain sedikit lebih bahagia?

“A man does not have to be an angel in order to be a saint.” – Albert Schweitzer

“Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing.” – Albert Schweitzer

“Happiness is nothing more than good health and a bad memory.” – Albert Schweitzer

“Therefore search and see if there is not some place where you may invest your humanity.” – Albert Schweitzer

“You don’t live in a world all alone. Your brothers are here too.” – Albert Schweitzer

“You must give some time to your fellow men. Even if it’s a little thing, do something for others – something for which you get no pay but the privilege of doing it.” – Albert Schweitzer

Advertisements

4 thoughts on “Saya (Calon) Dokter: Idealisme Masa Muda

  1. hahaha,, mmg itu Albert Schweitzer keren skl.. sa juga suka baca cerita nya dan dia salah satu tokoh yg paling sy kagumi..
    hidup berdedikasi terhadap sesama,, smp rela tinggal di afrika…
    astaga,, nda kebayang dah tinggal diantara org2 sakit dan bergelut melawan kematian.. tp dia bisa..

    dan saya yakin idealis mu pasti bisa terwujud..
    but make sure keep the light fire in your heart…

    gud luck honey ^^

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s