Life Is Like A Video Game


Beberapa waktu yang lalu saya membaca buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” oleh Ajahm Brahm. Kebetulan saya membaca mengenai bagaimana persepsi manusia cenderung ditentukan oleh pengkondisian yang telah melekat sedemikian dalamnya; di mana pengkondisian ini diciptakan oleh masyarakat tanpa benar-benar menyadari kebenaran dari pengkondisian itu sendiri. Dikatakan bahwa sekali-kali kita harus membebaskan persepsi kita dari segala prasangka yang telah mengendap sedemikian lamanya di dalam pikiran kita.

Memikirkan hal ini, saya teringat kepada sebuah perkataan “Life would be much easier if we had a reset button.” Dulu saya menganggap perkataan tersebut lebih sebagai sebuah lelucon, saya bahkan mengembangkan kalimat tersebut menjadi “Life would be much easier if we had reset, undo, save, and load buttons.” Persis seperti sebuah video game. Para pecinta game pasti mengerti akan hal ini. 🙂

Baru setelah membaca tulisan Ajahn Brahm saya kembali merenungi kalimat ini secara lebih mendalam. Life would be much easier if we had a reset button. Bagaimana jika yang kita reset itu bukanlah kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa dalam kehidupan kita, melainkan cara pikir kita; persepsi kita? Bukannya kita mau meng-undo kejadian-kejadian buruk yang telah terjadi, atau men-save kejadian-kejadian baik yang kita alami, atau meng-load kembali saat-saat indah di mana kejadian buruk belum sempat terjadi, bahkan me-reset kembali kehidupan kita dari awal; melainkan bagaimana kita mengubah cara pandang kita terhadap segala sesuatu yang kita alami.

Tantanglah diri Anda untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang lain. Tantang persepsi Anda sendiri. Hapuskan segala macam prasangka, persepsi, dan anggapan Anda mengenai suatu hal, dan cobalah menilai kembali. Saya berpikir bagaimana jalan termudah untuk mencoba menerapkan hal ini. Lalu ketika saya sedang mandi, saya mendapat sebuah ide.

Ketika sedang mandi, saya mencoba untuk menukar fungsi tangan kanan dan tangan kiri saya. Saya menghapuskan semua teori, anggapan, serta kebiasaan saya bahwa tangan kanan saya adalah tangan yang lebih dominan. Jika biasanya saya memegang gayung dengan tangan kanan, kali ini saya menggunakan tangan kiri, dan sebaliknya jika biasanya saya menuangkan sampo ke tangan kiri, kali ini saya menuangkannya ke tangan kanan. Anda tahu, pikiran yang pertama kali melintas di kepala saya ketika melakukan hal ini ialah, pasti tangan kiri saya akan canggung karena tidak terbiasa. Dan pasti waktu mandi saya akan lebih lama.

Apa yang terjadi kemudian? Sesuai dugaan saya, tangan kiri saya bergerak dengan canggung. Saya mengambil air dengan tangan kiri dan menyiramkannya ke tubuh saya, dan lebih dari separuh air dalam gayung tumpahnya salah sasaran. Awalnya saya merasa hal itu lucu, tapi lama kelamaan saya sebal juga. Airnya tumpah lebih banyak daripada yang saya gunakan untuk mandi. Namun, tahukah Anda? Ketika saya mulai menggunakan tangan kanan untuk melakukan segala sesuatu yang biasanya dilakukan oleh tangan kiri, ternyata tangan kanan saya juga bergerak dengan canggung! Maka saat itu juga runtuhlah semua teori saya tentang “tangan kanan lebih hebat”, “tangan kanan bisa melakukan segalanya sedangkan tangan kiri hanya membantu saja”, dan “tangan kanan adalah operator, sedangkan tangan kiri adalah asisteren”. Haha.

Apa yang terjadi adalah, bahwa sesungguhnya tangan kanan dan tangan kiri memiliki fungsi dan peranannya masing-masing yang sama pentingnya, sama berharganya, sama tidak ternilainya. Saya merasa malu karena selama ini saya selalu menganggap tangan kanan saya lebih serba bisa daripada tangan kiri. Nyatanya, toh ada hal-hal yang dapat dilakukan tangan kiri yang tidak dapat dilakukan tangan kanan, begitu pula sebaliknya ada hal-hal yang dapat dilakukan tangan kanan yang tidak dapat dilakukan tangan kiri. Lalu sejak kapan dan mengapa saya memiliki persepsi bahwa tangan kanan saya lebih hebat daripada tangan kiri?

Dan saya juga menyadari, saat tangan kiri sedang berusaha menyiramkan air dengan canggung, saya harus menahan tangan kanan saya untuk mengambil alih dengan pikiran “Ah, biarkan tangan kanan saya saja yang melakukannya, toh ia pasti lebih ahli.” Tidak, saya membiarkan tangan kiri saya tetap melakukannya. Saya menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan kanan saya dan menyingkirkan tangan kiri. Dan tahukah Anda, ini membuat saya menyadari bahwa pada saat yang sama saya juga sedang belajar mengenai kerendahan hati. Kerendahan hati untuk menahan diri dan membiarkan orang lain mencoba melakukan sesuatu di mana kita sudah lebih ahli. Kerendahan hati untuk tidak mencela dan belajar bersabar. Kerendahan hati untuk menghargai usaha orang lain dan memperhatikan dengan bijaksana.

Dengan me-reset persepsi saya mengenai dominansi tangan kanan, ternyata saya juga belajar mengenai kerendahan hati. Dengan bersedia memandang segala sesuatunya dari sudut pandang yang baru, berarti kita dengan rendah hati mengakui “Ya, saya mungkin saja telah keliru, saya bersedia untuk mencoba menilainya dari sudut pandang yang lain.” Dengan me-reset persepsi kita, berarti kita memberi kesempatan kepada diri kita sendiri untuk lebih objektif, lebih diperkaya, dan lebih bijaksana. Berapa banyakkah kesalahpahaman yang telah terjadi hanya karena kita salah persepsi dan terlalu egois untuk mencoba menilainya kembali dari sudut pandang yang lain?

Hanya dalam lima belas menit pertukaran fungsi tangan kanan dan tangan kiri saya itu, saya telah belajar begitu banyak hal. Dan sungguh mengagumkan bahwa bagian-bagian tubuh saya yang pada awalnya saya anggap biasa saja, ternyata mampu mengajarkan hal yang demikian dalam dan berharga untuk saya. Sebuah percobaan yang sederhana, gagasan spontan yang gila-gilaan, ternyata mampu membuka cakrawala batin saya untuk menjadi lebih bijaksana. Namun bukanlah segala sesuatu yang menginspirasi kebanyakan memang berasal dari hal-hal yang sederhana? Itulah salah satu rahasia terbesar dalam hidup ini.

Banyak orang memilih untuk memikirkan hal-hal yang rumit dengan cara-cara yang rumit. Mereka menganggap hidup ini rumit sehingga dibutuhkan pula pemikiran yang rumit dan cara berpikir yang rumit untuk mampu memahami dunia. Namun, seringkali, saat kita sedang melakukan hal-hal yang sederhana, berpikir secara sederhana, kebenaran hidup justru datang menghampiri kita secara sukarela dan membuka mata kita. Pemikiran kitalah yang membuat hidup menjadi rumit. Persepsi kita membuat hidup menjadi rumit. Oleh karena itu, sekali-sekali, reset-lah persepsi Anda. Sebab seperti halnya video game yang telah di-reset ataupun telepon selular yang telah di-reboot, biasanya mereka akan bekerja jauh lebih cepat dan lancar karena beban programnya juga jauh lebih ringan. 🙂

taken from 9gag.com

Advertisements

One thought on “Life Is Like A Video Game

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s