Opa (7 Juli 1995 – 7 Juli 2013)


[In Memoriam Thoeng Siong Kien, a.k.a. Siwon Hertaskin Tungadi (1930-1995)]

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang.
Manusia mati meninggalkan nama. Dan kenangan.

Opa saya, Thoeng Siong Kien, a.k.a. Siwon Hertaskin Tungadi (29 April 1930 – 7 Juli 1995), adalah satu-satunya kakek yang saya kenal, karena kakek dari pihak ayah saya sudah meninggal jauh sebelum saya lahir.

Ketika Opa Siong Kien meninggal, saya baru berusia lima tahun dan masih duduk di Taman Kanak-Kanak. Saat itu saya belum mengerti apa artinya jika seseorang meninggal. Waktu itu Opa dan Oma sedang berada di Jakarta untuk berlibur, dan saya sedang menginap di rumah mereka di Makassar. Saya sudah lupa tepatnya pukul berapa, kami sedang tidur dan dibangunkan oleh bunyi telepon yang mengabarkan bahwa Opa sudah meninggal karena serangan jantung.

Saya masih ingat, betapa saat itu Mama beserta saudara-saudaranya yang memang pada malam itu sedang menginap beramai-ramai di sana langsung menangis. Dan saya tidak menangis. Saya cuma diberitahu, “Opa sudah meninggal,”. Saya bahkan tidak merasa berduka sama sekali. Saya cuma sedih, karena sebagai anak berusia lima tahun, saya hanya memahami bahwa “meninggal” itu identik dengan “sedih”. Saya belum memahami bahwa “meninggal” itu juga berarti bahwa jasad ragawi seseorang telah mati dan jiwanya meninggalkan tubuhnya, dan bahwa seseorang itu tidak bernapas lagi, tidak berpikir lagi, tidak lagi tinggal bersama kita. Saya belum mengerti bahwa “meninggal” itu berarti “tidak dapat bertemu lagi dengan orang tersebut”.

Bahkan hingga upacara pemakaman Opa pun, saya tidak menangis. Saat semua orang-orang di sekitar saya menangis dan menumpahkan air mata, saya hanya menatap mereka saja. Saat melihat jasad Opa yang dikirim dari Jakarta di dalam peti mati, saya ingat berpikir, “Kenapa mereka menangis? Opa kan masih di sini. Opa cuma meninggal, kenapa mereka begitu sedih?” Saya tidak takut melihat jasad Opa, meskipun tubuhnya agak sedikit bengkak dan berwarna kebiruan. Saat memegang dupa dan bersembahyang pun, Mama saya yang mengucapkan doa untuk saya, “Opa, maafkan semua kesalahannya Sari, Opa…. Selamat jalan, semoga Opa tenang di sana.” Dan saya hanya menatap dan menatap seperti orang bodoh.

Sekarang, setelah saya dewasa, saya sungguh menyesal, mengapa dulu saya tidak menangis ketika Opa meninggal, mengapa dulu saya tidak berduka. Saya kehilangan momen itu; saya tidak berduka di saat saya seharusnya berduka. Saya telah kehilangan kesempatan untuk berduka bagi Opa. Sekarang, ketika Oma atau anak-anak Opa yang lain membicarakan kenangan tentang Opa, kadang saya merasa sedih. Ketika orang-orang lain telah bisa mengenang Opa dengan senyuman di bibir, kadang saya masih merasa sedih, sebab saya belum sempat mengenal Opa sebaik orang-orang lain mengenal Opa. Mungkin juga saya belum selesai berduka untuk Opa.

Saya masih ingat ketika Opa meninggal, Jalan Melati tidak cukup menampung karangan bunga yang diberikan oleh para teman dan kenalan Opa, sehingga sebagian karangan bunga tersebut harus “menumpang” di Jalan Matahari. Tenda yang dipasang di depan rumah pun tidak cukup menampung pelayat-pelayat yang datang, sehingga banyak orang yang terpaksa harus berdiri di sepanjang jalan tanpa kursi dan tenda. Rumah Opa waktu itu penuh sesak, sebab para pelayat masuk bergantian untuk memberikan penghormatan terakhir pada Opa Siong Kien. Hampir semua pelayat yang datang mencucurkan air mata, sebab memang saat itu Opa meninggal secara tiba-tiba di usia yang belum terlalu tua. Hanya saya yang tidak menangis.

Dulu saya menganggap itu semua wajar saja. Toh ada orang meninggal, tentu saja banyak orang menangis. Tetapi semakin saya tumbuh dewasa dan mengenal banyak orang, tidak pernah sekali pun dalam hidup saya, saya mendengar orang-orang mengatakan sesuatu yang jelek tentang Opa semasa hidupnya. Jika saya bertemu dengan orang yang mengenal Opa dulu, semua mengatakan, “Opamu baik sekali dulu,” dan kemudian kalimat tersebut akan dilanjutkan dengan cerita-cerita mengenai kebaikan Opa. Tidak pernah ada kata “tapi” ketika mereka menceritakan kebaikan Opa semasa hidupnya.

Saya juga melihat hal tersebut pada Mama saya serta semua saudara-saudaranya. Bahkan setelah delapan belas tahun Opa meninggal dunia, semua nilai-nilai serta ajaran-ajaran yang diberikannya pada anak-anaknya tetap mereka pegang. Semua anak-anaknya mengagumi serta menghormati “Pappie” mereka. Saya tahu tidaklah mungkin ada orang sesempurna itu, tetapi di mata kami yang pernah mengenal Opa Siong Kien, seluruh kebaikannya jauh melebihi kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, dan mau tidak mau kami mencintai serta menghormati Opa Siong Kien sebagai suami, “Pappie”, dan Opa kami.

Opa memberikan contoh bukan hanya melalui kata-kata, namun lebih banyak melalui teladan perbuatan. Kadang saya mendengar cerita bahwa dulu Opa kadang bersikap galak dan koro-koroang, tapi saya sebagai cucu pertama Opa memiliki hak istimewa untuk selalu dimanja, sehingga saya tidak pernah mengalami Opa marah pada saya. Opa mendidik anak-anaknya untuk mandiri dan bertanggung jawab secara bebas; demikian pula anak-anak Opa mendidik kami, cucu-cucunya. Opa memang bukanlah suami, ayah, dan kakek yang sempurna, namun upayanya untuk menjadi suami, ayah, dan kakek yang baik patut diacungi jempol dan dijadikan teladan.

Ada beberapa kenangan manis antara Opa dan saya. Karena dulu rumah saya dan rumah Opa hanya berjarak beberapa rumah, maka hampir setiap malam saya habiskan di rumah Opa. Kami akan menonton Dunia Dalam Berita bersama-sama setiap jam sepuluh malam, yakni saat acara ramalan cuaca dibawakan. Opa akan memangku saya di kursi kecil berwarna merah, dan karena saya menonton acara tersebut hampir setiap malam, maka tentu saja saya otomatis jadi hafal dengan urutan kota-kota yang muncul. Opa akan berseru senang dan bertepuk tangan setiap saya berhasil menyebutkan urutan kota tersebut dengan benar. Meskipun saya masih cadel, meskipun saya menyebut “Tokyo” dengan “Tottoyo” atau “Paris” dengan “Payis”, Opa akan tetap berkata dengan bangga, “Dia hafal kotanya!”

Setiap pagi, setiap mau berangkat ke sekolah, Opa selalu ikut mengantar saya bersama Mama dan supir kantornya, Saharung. Opa rela bangun lebih cepat untuk mengantar saya, padahal saya masuk sekolah jam setengah delapan dan dia baru akan masuk kantor jam delapan. Opa akan marah kalau saya dan Mama pergi sekolah tanpa menunggunya.

Kadang-kadang, saat seluruh keluarga sedang berkumpul, saya akan diberdirikan bersandar di tembok ruang tamu rumah Opa dan mereka semua akan duduk mengelilingi saya, menyuruh saya menyanyikan lagu anak-anak seperti “Balonku” atau “Cicak-Cicak di Dinding” atau “Pelangi-Pelangi” dan lain-lain. Maklum anak-anak, kalau sudah disogok dengan pujian dan tepuk tangan, saya akan menyanyi. Dan mereka semua akan bertepuk tangan dan memuji saya. Dan pasti Opa akan memuji dengan bangganya, “Pintarnya!”

Hal-hal kecil seperti itu, hal-hal sederhana seperti itu, selalu membuat saya tersenyum saat mengenang Opa. Meskipun saya tidak terlalu ingat, tetapi Mama dan saudara-saudaranya yang lain seringkali menceritakan hal tersebut pada saya. Itulah kenangan-kenangan kecil saya bersama Opa. Kenangan-kenangan kecil yang sederhana namun begitu saya syukuri. Orang-orang kadang berkata saya cucu kesayangan Opa Siong Kien. Mungkin karena saya adalah cucu pertamanya. Betapapun itu, saya sangat bersyukur bisa menjadi cucu dari Opa Siong Kien, meskipun saya hanya sempat mengenalnya selama lima tahun pertama kehidupan saya, meskipun hanya dalam ingatan samar-samar dan dari cerita orang lain.

Ada sekian banyak prinsip hidup yang diajarkan Opa Siong Kien pada anak-anaknya. Berikut ini hanya segelintir ajarannya yang paling membekas di hati kami. Saya mengumpulkan dan merangkum kata-kata Opa ini berdasarkan cerita dari para Tante dan Om saya, karena pada merekalah Opa mengajarkan hal-hal tersebut secara langsung.

  1. Opa menurunkan falsafah dari ibunya yang selalu mengatakan, “Lebih baik uang yang suka kamu, dan jangan sampai kamu yang suka uang.” Maksudnya adalah kalau uang yang suka kita, berarti kita banyak rezeki, uang yang mendatangi kita; sedangkan kalau kita yang suka uang, maka kita akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
  2. Opa selalu mengatakan kepada anak-anaknya, “Selama saya masih punya uang, saya akan biayai sekolah kamu semaksimal kemampuan saya karena ilmu adalah harta kamu yang akan kamu bawa seumur hidup; tidak akan ada orang yang bisa mencuri atau mengambil ilmu dari kamu. Kalau kalian punya ilmu/kepandaian, di mana pun kalian pasti bisa hidup. Kalau uang atau harta saja yang saya tinggalkan, harta itu bisa habis, tetapi ilmu tidak akan habis.”
  3. Opa juga bilang, “Kalian bisa bergaul dengan siapa saja. Kalau pencuri jadi teman pun tidak apa, yang penting kamu yang angkat dia ke atas (maksudnya menjadi orang baik) dan jangan kamu yang ikut terseret ke bawah (maksudnya jangan ikut-ikutan seperti dia).”
  4. Opa sering mengajak anak-anaknya liburan; ke Malino, ke Soppeng, Tana Toraja, Pulau Barrang Lompo, Bali, Jawa, dan sebagainya. Opa pernah berkata, “Anak-anak dibawa jalan-jalan ke luar itu bukan cuma sekadar jalan-jalan tetapi yang penting adalah membuka wawasan mereka.” Opa pernah mengatakan pada salah satu anaknya bahwa kalau ada uang dan kesempatan, sebenarnya dia juga ingin jalan-jalan ke daerah Nusa Tenggara seperti Timor, Flores, dan lain-lain. Katanya, pasti pengalaman dan perasaan akan berbeda dengan kalau jalan-jalan ke Jawa. Sayangnya, keinginannya ini belum sempat kesampaian hingga Opa meninggal.
  5. Opa juga bilang bahwa orangtua atau guru atau orang yang lebih tua daripada kita belum tentu selalu benar. Beliau pernah bilang, “Kalau ada yang saya bilang dan kamu merasa bahwa saya salah, saya tidak keberatan kamu kasih tahu atau kritik, yang penting caranya jangan kurang ajar.” Opa adalah satu-satunya di antara saudara-saudaranya yang berani menegur saudaranya yang lebih tua, ketika semua saudaranya yang lain tidak berani mengemukakan pendapatnya pada saudara yang lebih tua.
  6. Saran Opa: “Ada dua hal yang harus kamu hindari kalau ngomong sama teman-teman, yaitu masalah agama dan politik, sebab dua hal itu bisa menimbulkan perselisihan.”

Sekarang, delapan belas tahun setelah Opa meninggal, saya menyadari bahwa meskipun memang Opa sudah tidak tinggal bersama-sama dengan kami lagi, namun, jiwanya, semangatnya, ajaran-ajarannya akan tetap berada di dalam hati dan ingatan kami. Kami tidak akan pernah melupakan Opa, sebab meskipun jasad ragawinya telah hancur, kenangan tentang dirinya bersama dengan kami akan tetap ada di sini. Selama kami hidup, jiwa Opa juga akan tetap hidup di dalam jiwa dan hati kami, sebab ada bagian-bagian dari Opa yang turut membentuk kehidupan kami. Tanpa Opa, kami bukanlah kami yang sekarang.

Life goes on, we have moved on, karena demikianlah Opa mengajarkan kami. Kami akan berusaha untuk menjadi istri, anak-anak, serta cucu-cucu yang baik bagi Thoeng Siong Kien, sebagaimana Opa juga telah berusaha menjadi suami, “Pappie”, serta Opa yang baik untuk kami. Kami akan menceritakan kisah mengenai Opa pada anak-anak dan cucu-cucu kami; kami akan menceritakannya dengan senyum di bibir, agar mereka juga mengenal Opa sebagaimana kami mengenal Opa. Meskipun jalan hidup kami masih terbentang penuh misteri, namun kami tahu Opa akan berada di sana, menemani dan mendampingi kami sepanjang perjalanan itu, sebab Opa akan selalu hidup di dalam hati dan jiwa kami.

Selamat jalan, Opa Siong Kien, abadilah selalu namamu di sepanjang waktu….

opa-framed

Opa Siong Kien
(Thoeng Siong Kien, a.k.a. Siwon Hertaskin Tungadi [29 April 1930 – 7 Juli 1995])

Advertisements

4 thoughts on “Opa (7 Juli 1995 – 7 Juli 2013)

  1. keren opamu, tj.. tapi saya gak nyangka, umur segitu kw sudah nonton dunia dalam berita? hahaha.. Kalo prinsip yg nmor 4, biar nnti kw yg lanjutkan, sekalian jgn cuma indonesia, tapi keliling dunia juga.. 😀 aaamiiinn.. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s