Mereka Yang Ditinggalkan


Why create memories, if in the end those are the things that will hurt you the most?

Setelah upacara pemakaman selesai, para tamu dan kerabat pulang ke kehidupan mereka masing-masing, dan tinggallah mereka yang masih berduka. Mereka adalah keluarga, sahabat; orang-orang yang memiliki ikatan dengan almarhum(ah), baik ikatan keluarga maupun ikatan emosional lainnya. Orang-orang ini adalah “mereka yang ditinggalkan”.

Ada kedukaan yang masih tersisa bahkan lama setelah jenazah dimakamkan atau dibakar, suatu perasaan kehilangan yang mendalam dan kosong. Tidak peduli apakah Anda percaya adanya kehidupan setelah kematian atau tidak, apakah Anda percaya reinkarnasi atau tidak, atau bahkan apakah Anda percaya tentang dunia spiritual atau tidak, sebab jauh di dalam hati kecil Anda, ada suatu pengetahuan bahwa Anda tidak akan pernah bertemu dengan jasad ragawi almarhum(ah) lagi di kehidupan yang sekarang, sebagai diri Anda yang sekarang.

Tidak ada batasan waktu untuk rasa kehilangan itu. Ada yang butuh satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, dan ada pula orang-orang yang takkan pernah selesai berduka.

Tentu saja kita semua move on, life requires us to move on. Namun ada sebagian orang yang menjalani kehidupan selanjutnya dengan setengah hampa. Setelah pemakaman usai, kita selalu kembali ke kehidupan kita yang biasa, tanpa pernah menghiraukan mereka yang ditinggalkan. Apakah mereka baik-baik saja? Menangiskah mereka ketika kita sudah pulang ke rumah masing-masing? Masihkah mereka terbayang-bayangi kesedihan saat mereka sedang berbaring sendirian di malam hari? Could they cope with their loss?

Sebab seperti semua kejadian dalam hidup, kita hanya mementingkan saat-saat klimaks, ketika Sang Pangeran menemukan Sang Putri, ketika monster jahat berhasil dikalahkan oleh sang jagoan baik, ketika upacara pemakaman berlangsung.

Kita tidak pernah peduli dengan antiklimaks dan epilog dari kehidupan. Bagaimana mereka yang ditinggalkan mengatasi kesedihan dan melanjutkan hidupnya? Masih adakah kita di sana untuk memberikan penghiburan, di saat para tamu sudah pulang dan akhirnya mereka sendiri dalam kesendiriannya yang hening?

Begitu banyak orang yang enggan menunjukkan duka dan air mata di hadapan orang lain; sebab tuntutan sosial adalah demikian. “Kamu harus tegar”, “Air mata adalah tanda kelemahan”, “Laki-laki tidak pantas menangis”, “Almarhum(ah) akan ikut sedih jika melihat kamu menangis”. Berbagai stigma sosial yang ada, sadar maupun tidak, telah tertanam menjadi “pengetahuan” dalam diri kita. Mereka yang ditinggalkan, merasa sudah sepantasnya menahan isakan dan air mata, menggunakan saputangan dan kacamata hitam sebagai topeng. Mereka merasa “sudah sewajarnya” bersikap tegar, berbicara di depan mewakili keluarga untuk mengucapkan terima kasih atas kehadiran para tamu sekaligus memohon maaf atas kesalahan almarhum(ah) semasa hidupnya.

Namun, seusai pemakaman dan mereka tinggal sendiri, semua topeng sosial itu akan ditanggalkan. Semua kerapuhan dan rasa kehilangan akan muncul ke permukaan. Mereka bebas untuk menangis, berteriak, mengeluarkan sumpah serapah dan mengutuk kematian. Semua itu dilakukan setelah semua tamu pulang. Mengapa? Padahal kita butuh menangis. Kita butuh mengungkapkan kesedihan. Kita butuh menumpahkan amarah. We are human. Hanya saja, masyarakat terlalu picik dan terlalu banyak menuntut.

Bukankah menangisi mereka yang pergi adalah wajar? Bukankah wajar mengutuk kehidupan saat kita sedang berduka? Menangislah karena kita mencintai mereka yang pergi. Menangislah demi semua kenangan yang pernah kita alami bersama mereka. Dan terutama, menangislah demi diri kita sendiri, sebab kita memang memerlukannya.

Ada yang dinamakan “saat untuk berduka” di mana kita menyediakan suatu momen, suatu masa untuk menangisi mereka yang pergi, untuk menyumpahi kematian yang terlalu cepat membawa mereka pergi, untuk menyesali kehidupan yang masih menahan kita sendiri di sini. Karena kita adalah “mereka yang ditinggalkan”.

Dan setelah masa berduka itu selesai, kita bisa kembali hidup, bukannya dengan melupakan dan meninggalkan kenangan tentang almarhum(ah) di masa lalu kita, melainkan membawanya bersama kita tanpa rasa marah maupun dendam. Kita berdamai dengan kehilangan kita, kita berdamai dengan kenangan tentang mereka yang pergi. Kita memaafkan mereka karena pergi lebih dulu dan meninggalkan kita untuk terus bergelut dengan masalah-masalah duniawi.

Sadar atau tidak, ada semacam kemarahan yang kita tujukan pada mereka yang pergi. Tidak jarang mereka yang ditinggalkan bertanya-tanya, “Mengapa dia pergi begitu cepat?” atau “Mengapa bukan aku saja?” atau “Mengapa dia meninggalkan aku sendiri? “, “Apakah aku tidak cukup baik sehingga mengalami kehilangan seperti ini?” Dan semuanya akan berujung pada penyesalan yang mendalam, baik penyesalan terhadap mereka yang pergi maupun penyesalan terhadap mereka yang ditinggalkan. Terkadang kita berusaha memendam penyesalan itu, berusaha menutupinya dengan kebaikan-kebaikan almarhum(ah) maupun mengambinghitamkan nasib. Namun kalau boleh jujur, tanyakanlah kebenarannya pada diri Anda sendiri.

Berdukalah, jika Anda merasa kehilangan. Menangislah, karena memang menyedihkan kehilangan orang yang dicintai. Kutuklah nasib, sebab memang kedukaan bisa menghilangkan akal sehat untuk sementara. Namun, jika semua proses itu telah selesai, berhentilah berduka. Berhentilah berduka dan lanjutkanlah hidup Anda dengan damai. Kenanglah mereka yang pergi, syukuri semua kenangan yang telah terjadi antara Anda dan dia, serta berbahagialah karena kehidupan masih terlalu mencintai Anda untuk membiarkan Anda pergi.

In the end, we create memories to help us through the loss, because nothing does better than happy memories to make us smile while we are hurting…. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s