Dokter: Penjual Jasa


Tidak terasa sudah hampir delapan bulan saya menjalankan program internship. Selama periode waktu tersebut banyak pengalaman yang saya alami, baik pengalaman medis maupun non-medis.

Saya belajar hidup berkelompok dengan orang-orang yang bukan keluarga, di mana saya mendapati bahwa bahkan teman-teman terdekat saya pun seringkali masih mampu mengejutkan saya dengan hal-hal yang tidak terduga yang hanya bisa kita alami dengan tinggal bersama dalam jangka waktu yang lama. 🙂

Salah satu hal yang paling membekas ialah saat stase poliklinik mendampingi dokter spesialis. Selain belajar cara menangani pasien yang baik dan benar secara medis, saya juga belajar hal yang paling penting sebagai seorang dokter: cara menghadapi pasien secara non-medis.

Sebagai seorang dokter, tidak jarang Anda akan mendapatkan berpuluh-puluh pasien dalam sehari. Saya mengamati, setiap dokter punya cara yang berbeda-beda dalam menghadapi mereka. Kadangkala kita mendengar ada dokter tertentu yang lebih disukai pasien meskipun ilmunya hanya “standar”, atau ada pasien tertentu hanya cocok dengan dokter tertentu, atau ada pula pasien yang langsung merasa baikan hanya dengan melihat wajah dokternya.

Mengapa demikian? Selama masa internship, saya mendapat kesempatan untuk mendampingi salah satu dokter semacam itu. Saya akan menyebutnya dengan “dokter favorit”, bukan “dokter terbaik” atau “dokter terpintar” atau “dokter termutakhir”, karena memang seperti itulah kenyataannya. Beliau adalah salah satu dokter favorit di rumah sakit tempat saya stase.

Nah, setelah saya amati, ternyata rahasianya hanya satu: beliau memperlakukan setiap pasien yang datang seolah-olah pasien tersebut adalah pasien pertama yang ditemuinya pada hari itu.

Setiap pasien diberi keramahan yang sama, disambut dengan senyuman lebar dan ucapan selamat pagi atau selamat siang dengan kadar keceriaan yang sama, seolah-olah beliaulah yang lebih senang bertemu dengan pasien tersebut dan bukan sebaliknya. Kadang, kalau pasiennya ialah pasien langganan, tidak jarang beliau menyapa dengan menyebut nama bahkan dengan lancar menanyakan perkembangan penyakitnya. Semua keluhan dari setiap pasien didengarkan dengan kesabaran yang sama, setiap pertanyaan dijawab tanpa menunjukkan rasa bosan, dan tidak lupa pasien diberi ucapan semoga cepat sembuh serta dukungan moral lainnya.

Mungkin bagi beberapa orang, ini merupakan hal yang sepele, namun bagi saya tidak. Jika Anda sudah pernah mengalami kedatangan hampir seratus pasien dalam sehari, misalnya pada acara bakti sosial kesehatan, di mana banyak pasien yang datang hanya karena ada embel-embel kata “gratis” di spanduknya, Anda akan menyadari bahwa itu tidak semudah yang dibayangkan. Apalagi kalau ada pasien yang tidak putus-putusnya curhat sampai menyerempet ke masalah lain di luar masalah kesehatan, sementara di belakangnya masih banyak pasien lain yang mengantri dan Anda belum makan siang.

Seringkali saya bertanya, mengapa? Mengapa pasien sedemikian senangnya pada dokter yang sabar mendengarkan curhatnya, bahkan sampai rela pulang dan datang lagi di hari lain kalau dokter favoritnya kebetulan sedang tidak praktik pada hari itu?

Kemudian saya mencoba menempatkan diri saya pada posisi si pasien dan akhirnya semua terjawab. Kita akan senang jika ada orang yang mendengarkan keluhan kita dengan sabar. Kita akan senang jika kita masuk ke ruangan dokter dan si dokter, dengan senyum sumringah menyapa, “Selamat pagi, Pak/Bu, apa keluhannya?” dan bukan dengan wajah capek, lesu, meskipun kita tahu bahwa kita ini adalah pasien ke-lima puluh sekian, misalnya. Kita senang karena kita dianggap penting oleh si dokter, dianggap sebagai suatu individu yang memiliki problem sendiri, bukannya sekadar “salah satu dari sekian banyak pasien” pada hari itu.

Tidak dapat dipungkiri bahwa profesi dokter ialah sebuah profesi yang menjual jasa, dan oleh karena itu membutuhkan teknik marketing yang baik. Dengan kemajuan teknologi zaman sekarang, sudah sekian banyak website yang menyediakan berbagai informasi kesehatan gratis, bahkan ada pula website yang bisa memprediksi diagnosis penyakit kita lengkap dengan terapi pengobatannya. Lalu pertanyaannya, mengapa profesi dokter tidak juga mati? Padahal, saya rasa bisa saja si pasien men-google sendiri penyakitnya dan mengobati dirinya sendiri, kalau mau. 🙂

Ada beberapa dokter yang karena ilmunya paling terbaru atau karena merasa sudah mengikuti banyak pelatihan atau karena gelarnya sudah lebih panjang daripada namanya sendiri, merasa bahwa semua pasien datang hanya untuk diberi obat atau diberi tindakan medis. Urutan kerjanya adalah pasien datang – kasih obat – pulang. Mereka jarang menyadari bahwa pasien juga butuh pendekatan dari sisi manusiawinya. Mereka men-generalisasi pasien, padahal setiap pasien ingin dianggap sebagai satu individu yang memiliki masalahnya sendiri. These kind of doctors hear, but they do not listen.

Saya jadi ingat dengan kasus Oma saya. Beberapa tahun yang lalu beliau jatuh dan tulang pergelangan kakinya retak. Setelah mengunjungi beberapa dokter ortopedi untuk berkonsultasi, beliau ternyata lebih menyukai salah satu dokter yang sudah cukup tua, dan bukannya dokter-dokter lain yang lebih muda yang peralatan serta tekniknya lebih canggih. Padahal, sebagai seorang mahasiswa kedokteran pada saat itu, saya diajar oleh semua dokter-dokter yang ditemui Oma saya untuk berkonsultasi, dan dokter-dokter yang lebih muda itu menurut saya jauh lebih jago dibandingkan dengan dokter favorit Oma saya. Lalu mengapa meskipun saya sudah memberi tahu hal itu pada Oma saya, beliau tetap setia berkonsultasi pada dokter favoritnya?

Selidik punya selidik, ternyata itu dikarenakan Oma saya merasa lebih nyambung ngobrol dengan dokter yang satu itu. Mungkin juga karena umur mereka hampir sebaya, entahlah. 🙂

Oma saya bercerita bahwa ketika ditanya umurnya berapa dan Oma saya menjawab hampir delapan puluh tahun, si dokter berkata “Ah masa? Saya kira baru enam puluh tahunan.” Hahahahaha…. Mungkin juga karena gombalan si dokter favorit sehingga Oma saya lebih memilih untuk berkonsultasi di sana. 😀

Sampai sekarang saya masih tertawa terkekeh-kekeh kalau mengingat cerita itu. Sepertinya memang betul bahwa menjadi seorang dokter itu perlu teknik marketing yang bagus. Bukannya saya mengatakan bahwa menjadi dokter hanya perlu teknik marketing – kalau begitu apa bedanya dokter dengan penjual obat? Orang-orang berkata jadi dokter itu susah, harus belajar seumur hidup, risikonya berkaitan dengan nyawa orang lain, dan sebagainya. Memang betul. Ada kalanya saya begitu muak dengan semua pelajaran kedokteran yang beusaha diajarkan pada kami. Proses menjadi dokter tidaklah seindah bayangan orang. Belajar teorinya sulit, belajar skill-nya juga. Apalagi jam jaga di rumah sakit yang kadang tidak manusiawi. Namun, seperti yang dikatakan oleh Dekan saya di Fakultas Kedokteran, ujian sebagai dokter yang sesungguhnya adalah saat kita terjun ke masyarakat dan menghadapi pasien secara nyata, karena selain membutuhkan ilmu teori serta keterampilan medis, kita juga dituntut untuk memiliki ilmu untuk bersosialisasi dengan sesama manusia.

Akhir kata, dokter (klinisi) yang baik adalah dokter yang menyadari bahwa dirinya (hanyalah) penjual jasa, dan oleh karena itu tidak merasa “lebih” atas keilmuan yang dimilikinya, melainkan menganggap pasien sebagai sesama manusia yang sama derajatnya.

Advertisements

2 thoughts on “Dokter: Penjual Jasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s