Pahala Apaan?


Diambil dari buku Have A Little Faith karangan Mitch Albom – untuk mengenang almarhum Albert Lewis (Reb).

Epilog

Satu lagi kenangan terakhir.
Saat itu tidak lama sebelum Reb wafat. Ia sedang membicarakan surga, entah bagaimana, aku teringat sesuatu.
Bagaimana bila Anda hanya punya waktu lima menit bersama Tuhan?
“Lima menit?” katanya.
Lima menit, kataku. Tuhan itu adalah Tuhan yang sibuk. Hanya itulah sejenak surga Anda. Lima menit berduaan saja dengan Tuhan dan kemudian, puuf, Anda pun melanjutkan ke apa yang akan terjadi kemudian.
“Dan dalam lima menit itu?” tanyanya, penasaran.
Dalam lima menit itu, Anda boleh meminta apapun yang Anda inginkan.
“Ah. Oke.”
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, seakan sedang berbicara dengan udara di sekitarnya.
“Pertama, aku akan mengatakan, ‘Tolonglah aku, Tuhan di surga, kalaulah bisa, anggota keluargaku yang membutuhkan bantuan, tolong tunjukkan kepada mereka caranya di bumi. Bimbinglah sedikit mereka.’”
Oke, itu satu menit.
“Tiga menit berikutnya, aku akan mengatakan, ‘Tuhan, tolonglah berikan semua ini kepada seseorang yang menderita dan membutuhkan cinta dan nasihat-Mu.’”
Anda membuang waktu tiga menit?
“Jika seseorang sangat membutuhkannya, ya.”
Oke, kataku. Anda tinggal punya satu menit.
“Baiklah. Di menit terakhir itu, aku akan mengatakan, ‘Begini, Tuhan, aku telah melakukan X kali kebaikan di bumi. Aku telah mencoba mengikuti ajaran-ajaran-Mu dan menyebarkannya. Aku telah mencintai keluargaku. Aku sudah jadi bagian dari komunitas. Dan menurutku aku sudah cukup baik terhadap manusia.’”
“’Maka, Tuhan yang ada di surga, untuk semua itu, apakah pahalanya?’”
Dan menurut Anda apa yang akan dikatakan Tuhan?
Ia tersenyum.
“Tuhan akan mengatakan, ‘Pahala? Pahala apaan? Memang semua itulah yang seharusnya dilakukan!’”
Aku tertawa, ia tertawa, telapak tangannya menepuk-nepuk pahanya, dan tawa kami memenuhi rumah itu. Kukira, ketika itu, kami bisa berada di mana saja, jadi siapa saja, dalam kebudayaan apa saja, dalam keyakinan apapun – seorang guru dan muridnya sedang mengeksplorasi kehidupan dan merasa senang atas apa yang ditemukan.
Pada awalnya, muncul pertanyaan. Akhirnya, pertanyaan itu terjawab. Tuhan menyanyi, kita ikut bersenandung, dan ada banyak melodi, tetapi semuanya lagu yang sama – lagu manusia yang indah.
Aku jatuh cinta pada harapan.

“Di saat seperti itu, tak masalah apapun nama yang orang gunakan. Tuhan itu baik.”
– Mitch Albom, Have A Little Faith

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s