Epitaph


[In Memoriam Alm. Prof. dr. H. Solihin Wirasugena, Sp.PA(K), Sp.F (1932-2013)]

0109eada6498801088d00fbc748fad5118987e243f

Pagi tadi saya menghadiri acara “In Memoriam Alm. Prof. dr. H. Solihin Wirasugena, Sp.PA(K), Sp.F (1932-2013)” yang diadakan dua minggu setelah berpulangnya beliau. Sebelum memasuki aula tempat acara diadakan, para undangan dipersilakan melalui satu ruang penerimaan tamu di mana mereka diminta mengisi buku tamu dan sebagainya. Di ruangan tersebut dipajang pula sekian banyak foto-foto almarhum Prof. Solihin, mulai sejak beliau masih muda hingga saat-saat ketika beliau sudah terbaring di ranjang rumah sakit.

Sekian banyak undangan yang datang, mulai dari keluarga dan kerabat almarhum Prof. Solihin, Ketua Dinas Kesehatan Propinsi Sulawesi Selatan, Rektor Universitas Hasanuddin (atau yang mewakili), Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, para guru besar dan staf Bagian Patologi Anatomi serta Bagian Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, para guru besar dan staf dari fakultas dan bagian-bagian lain di Universitas Hasanuddin, rekan-rekan almarhum Prof. Solihin, dan masih banyak lagi undangan yang hadir pada acara tersebut. Para tamu datang dari berbagai daerah selain Makassar – dari Manado, Palembang, Jakarta – khusus untuk menghadiri acara pelepasan terakhir bagi sosok yang mereka kagumi ini.

Ketika berada di ruang penerimaan tamu, para undangan (yang kebanyakan adalah rekan sebaya maupun rekan sejawat almarhum) sempat berkeliling melihat-lihat foto-foto almarhum Prof. Solihin yang dijajarkan di kedua sisi ruangan. Mereka yang mengenal beliau akan tersenyum saat memandangi foto-foto tersebut, kemudian memanggil teman lainnya untuk menunjukkan foto tersebut dan me-recall pengalaman saat foto tersebut diambil. “Wah, itu sewaktu Prof lagi berkunjung ke negara anu…” atau “Kamu masih ingat tidak, ini dulu foto waktu kita masih anu…” adalah komentar yang kadang terlepas dari mulut para undangan. Bahkan, tidak jarang ada yang tertawa lepas saat teringat momen-momen lucu yang terekam dalam foto yang dipamerkan.

Saya sempat tertegun. Ini kan acara in memoriam, bukannya harus khidmat dan sedih? Namun setelah saya perhatikan, mereka yang memandangi foto tersebut dan tertawa lepas memang memasang senyum di bibir dan mengeluarkan tawa terbahak-bahak, tetapi ada sesuatu di mata mereka yang menyatakan bahwa mereka masih berduka. Ya, siapa yang tidak berduka kehilangan suami, ayah, kakek, teman, sahabat, guru, mentor, dan dokter tercinta yang notabene baru berpulang dua minggu yang lalu? Bagaimanapun, itulah cara mereka untuk mengompensasi duka dan rasa kehilangan yang mereka alami. Menatap foto, mengingat-ingat, mengenang kenangan bersama almarhum.

Mengenang. Bukankan itu inti dan tujuan hidup ini yang sebenarnya – bagaimana agar kita dikenang, bahkan lama setelah kita mati dan orang-orang menjadi terbiasa dengan tidak adanya kita? Bagaimana agar kita tetap dikenang – dan bagaimana kita ingin dikenang nantinya. Mungkin bagi sebagian orang, seperti penemu-penemu besar, mereka dikenang melalui apa yang mereka temukan atau ciptakan. Thomas Alva Edison terkenal karena menemukan lampu. Ludwig van Beethoven terkenal karena gubahan-gubahan simfoninya. Steve Jobs terkenal karena produk Apple-nya. Namun, terlepas dari semua itu, bukankah kita semua telah menemukan atau menciptakan sesuatu dalam perjalanan hidup kita masing-masing?

Berbicara tentang almarhum Prof. Solihin, saya sangat menyayangkan betapa saya kekurangan waktu untuk mengenal beliau. Saya hanya sempat mengenal beliau semasa kuliah mata pelajaran Bioetik, itupun hanya selama satu semester, dua jam dalam seminggu. Ketika mendengar testimoni-testimoni dari beberapa rekan dan murid beliau yang ditayangkan maupun langsung selama acara, saya menyadari betapa saya belum mengenal beliau yang sesungguhnya. Meskipun setiap kisah memiliki keunikannya tersendiri, namun mereka semua sepakat untuk satu hal: almarhum Prof. Solihin ialah sosok yang bersahaja, santun, welas asih, ramah, serta dapat menjadi panutan bagi banyak orang.

Katanya beliau sabar, jarang marah. 🙂 Katanya beliau juga pekerja keras dan tidak kenal menyerah. Prof. Dr. Halide, guru besar Fakultas Ekonomi Universitas Hasanuddin yang dimintai kesediaannya untuk membawakan takziah bagi almarhum Prof. Solihin, sempat bercerita mengenai betapa dulu tim yang terdiri dari beliau, alm. Prof Solihin, dan alm. Prof. dr. Hardjoeno, memperjuangkan didirikannya Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia di Makassar.

Sebuah cerita lain dari Prof. dr. H. Syarifuddin Wahid, Ph.D, Sp.PA(K), Sp.F, DFM yang memaparkan bahwa dulu, sewaktu dirinya bersama beberapa teman disekolahkan ke Jepang, banyak rekan-rekannya dari bagian PA yang minta pindah ke bagian lain, dan menulis surat permohonan persetujuan ke Prof. Solihin selaku ketua bagian. Melihat banyak “anak murid”-nya yang ingin pindah haluan, beliau bukannya marah melainkan menyetujui dan mengatakan, “Selamat ya, semoga lebih sukses di bagian yang lain.” Prof. Syarifuddin berkata, sempat terlintas pula di benaknya untuk pindah, namun setiap kali pikiran itu datang, beliau selalu mengingat almarhum Prof. Solihin, dan oleh karena itulah ia tidak jadi pindah bagian sampai sekarang.

Sepenggal cerita dari dr. Gunawan Arsyadi, Sp.PA(K), Sp.F menuturkan betapa almarhum Prof. Solihin dulu gemar membagi-bagikan kupon bensin gratis untuk para asistennya. Meskipun kupon tersebut sebenarnya kepunyaan Prof. Solihin, namun beliau tahu bahwa banyak asistennya yang membutuhkan, dan oleh karenanya selalu membagi-bagikan kupon tersebut. dr. Cahyono Kaelan, Sp.PA(K), Sp.S, Ph.D sempat “membuka rahasia” bahwa artis kesukaan almarhum Prof. Solihin adalah Ulfa Dwiyanti, yang terkenal dengan iklan Di*pet-nya, “BAB? Tuntas… tas… tas… tasss!!!” Kontan para hadirin tertawa.

Ada satu lagi cerita yang menarik untuk disimak. Ternyata almarhum Prof. Solihin memiliki “kebiasaan” untuk tidak memungut bayaran konsultasi dari pasien-pasien yang kurang mampu. Bukan hanya menggratiskan biaya konsultasi, beliau bahkan memberi tanda di kertas resepnya, agar jika pasien menebus obat di apotek, biaya obat tersebut langsung dipotong dari rekening almarhum Prof. Solihin.

Sekian banyak cerita dan kesaksian yang diberikan oleh para undangan yang hadir. Seperti acara in memoriam pada umumnya, semua cerita-cerita tersebut tentu saja cerita yang menggambarkan kebaikan almarhum(ah) semasa hidupnya. Mana ada orang yang menjelek-jelekkan almarhum(ah) pada acara peringatan kematiannya sendiri. 😀 Meskipun demikian, ada suatu atmosfer yang berbeda pada acara yang diperuntukkan bagi almarhum Prof. Solihin ini. Seperti yang dikatakan Prof. Syarifuddin, “Kita sepertinya belum rela melepas beliau.”

Saya jadi teringat ketika kuliah Bioetik dulu, saya sering sekali bolos kuliah. Soalnya, almarhum Prof. Solihin mengajar masih menggunakan OHP, dan suaranya kecil sekali meskipun sudah menggunakan mikrofon. Bahkan duduk di barisan paling depan pun harus berkonsentrasi mendengarkan baik-baik. Apalagi kuliahnya jam setengah delapan pagi. Pikir saya ketika itu, daripada datang dan ketiduran, mending sekalian tidur saja di rumah. Jadinya saya seringkali titip absen ke teman. 😀 Alhasil, nilai mata kuliah Bioetik saya E. Untungnya waktu itu masih ada remedial. Jadilah saya remedial dan upgrade nilai menjadi C. :p

Saya juga ingat, dulu sewaktu kuliah Bioetik, ruang kuliahnya di lantai 3. Almarhum Prof. Solihin yang selalu datang tepat waktu, harus menunggu lift yang jalannya lamaaaaaa sekali sebab naik tangga sudah memberatkan beliau. Maka, kalau sudah telat, kami “menyalip” Prof, yang notabene sudah datang duluan tapi masih harus menunggu lift, dengan berlari naik tangga ke lantai 3. Hasilnya, kami sampai duluan daripada beliau dan bisa masuk kelas dengan selamat. 😀

Mendengar cerita-cerita orang lain tentang almarhum Prof. Solihin, saya jadi merasa malu. Saya merasa betapa kurangnya saya mengenal beliau, dan betapa ruginya saya karena hal itu. Seakan ada yang berkata pada saya, “Oh, jadi cuma segitu saja kamu mengenal almarhum Prof. Solihin? Kasian deh lu…” Hehe. Iya. Kasihan deh saya…. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya sungguh menyesali mengapa saya sering bolos sewaktu kuliah Bioetik dulu. Bukannya karena ilmunya (karena saya pelupa, dan meskipun saya rajin ikut kuliah tapi pasti sekarang saya bakal lupa juga isi kuliahnya), melainkan karena hilangnya kesempatan saya untuk lebih mengenal almarhum Prof. Solihin. Sekarang, setelah beliau tiada dan saya hanya bisa membayangkan karakter beliau melalui cerita-cerita dari orang lain, rasanya agak miris. Menyimak kisah-kisah yang disampaikan oleh rekan-rekan dan sahabat almarhum, sepertinya almarhum Prof. Solihin telah banyak memberikan dampak yang baik bagi hidup mereka semua semasa hidupnya. Sekarang, setelah kepergian beliau, semua yang ditinggalkan sungguh merasa kehilangan akan sosok Prof. Solihin yang digambarkan sebagai “inspiratif” tersebut.

Demikianlah kehidupan manusia. Kita lahir dan mati seorang diri, namun yang penting adalah apa yang kita lakukan dia antara dua titik itu. Meskipun nanti saat kita mati, toh, orang-orang juga akan menceritakan kebaikan-kebaikan kita juga, sebab membicarakan kejelekan orang yang sudah meninggal itu rasanya agak tabu. Bagaimanapun juga, kenangan tidak akan pernah bisa berbohong. Kenangan yang telah kita tinggalkan dalam hati dan pikiran orang-orang, keluarga, sahabat, rekan, yang masih hidup untuk menceritakan kisah tentang kita kelak – bagaimanakah mereka akan mengenang kita nantinya? Layaknya batu nisan, apa yang akan orang-orang tuliskan sebagai epitaph pada batu nisan yang bertuliskan nama Anda di ingatan mereka masing-masing?

Untuk almarhum Prof. dr. H. Solihin Wirasugena, Sp.PA(K), Sp.F, saya kira hal itu sederhana saja, “suami, ayah, kakek, sahabat, dan guru tercinta”. Sederhana dan bersahaja, seperti halnya karakter beliau yang sederhana dan bersahaja; namun bukankah justru hal-hal yang sederhana dan bersahaja yang justru menggoreskan kenangan yang paling bermakna dalam kehidupan kita masing-masing?

Menutup tulisan ini, sepenggal pesan dari Prof. Syarifuddin, “Saya berharap, kalau kelak nanti kita sedang dihadapkan pada pilihan-pilihan yang membuat kita bimbang, kita ingat almarhum Prof. Solihin, dan insya Allah, pasti ketemu jalannya.”

Selamat jalan suami, ayah, kakek, sahabat, guru besar kami, Prof. dr. H. Solihin Wirasugena, Sp.PA(K), Sp.F; semoga jalanmu dilapangkan dan amal ibadahmu diterima, doa kami selalu menyertaimu. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s