Sebuah Kisah (Tanpa Cinta) Lain


“Jadi kau meninggalkannya?”
Aku meliriknya dari balik mug besar yang sedang kupegang. “Aku bahkan tidak pernah bersamanya, kau tahu.”
“Ya, aku tahu. Maksudku, apakah hatimu akhirnya meninggalkannya?”
Aku mendengus. “Apakah aku punya pilihan lain?”
“Tentu saja kau punya, Sayang. Kau punya banyak pilihan lain. Kau bisa saja tetap mencintainya seperti dulu. Kau bisa saja tetap diam dan menunggunya dengan setia. Kau bahkan bisa memaksanya untuk memilihmu, dan bukan wanita itu. Ya, kau bisa.”
Aku menunduk, memandangi cokelat panas berbusa di hadapanku.
We always have choices. Sometimes we just don’t want to choose,” gumamnya perlahan.
“Aku bodoh, ya?” Aku akhirnya berbicara.
Dia terdiam sejenak, seakan sedang mempertimbangkan ucapanku barusan. Seakan sedang menimbang-nimbang apakah aku memang bodoh atau tidak. Seakan dia peduli saja.
Setelah lama diam, dia menjawab, “Mungkin,” ia mengangkat bahu, “mungkin juga tidak. Setidaknya, kau tidak cukup bodoh untuk menunggunya lebih lama lagi. Hidup ini masih panjang, Sayang. Masih banyak pria lain yang – “ Rupanya ia menangkap perubahan raut wajahku, karena ia kemudian menggumam, “Maaf, tidak seharusnya aku berkata seperti itu,”
“Tidak apa-apa,” jawabku kalem. “Kebebasan mengemukakan pendapat di depan umum,” Aku mengangkat mug-ku, bersulang untuknya. Ia terkekeh geli.
“Kau sungguh memiliki selera humor yang aneh.”
“Aneh?” Aku pura-pura marah. “Setidaknya, aku tidak sama sepertimu yang senang bersahabat dengan seseorang yang memiliki selera humor yang aneh.”
“Yah, bukankah kita sama-sama sedang menanti orang yang kita cintai?” Ia mengedipkan mata padaku. “Meskipun kasus kita agak, well, berbeda.”
Oh, dia mulai lagi, ratapku dalam hati. Aku segera mengganti topik pembicaraan.
“Bukankah cinta itu buta?”
“Tidak, Sayang, cinta itu tidak buta. Kalau cinta itu buta, kau tidak akan dapat melihat kecantikannya, kebaikannya, atau bahkan keegoisannya atau apakah dia cukup langsing atau cukup berkualitas untuk dibawa ke hadapan ibumu. Cinta itu tidak buta, baik terhadap kelebihan ataupun kekurangan orang yang kita cintai.”
Ia menghela napas, kemudian melanjutkan, “Cinta itu hanya terlalu sederhana. Cinta membuatmu tidak ambil pusing apakah ia cantik atau jelek, kurus atau gemuk, siapa orangtuanya, di mana dia tinggal, apakah dia sudah punya kekasih atau belum, apa agamanya – ups, aku menyinggung soal SARA – ah! Akhirnya kau tersenyum,” Ia balas melemparkan senyum padaku.
“Jadi kau lihat – cinta itu sedemikian sederhananya sehingga ia membuatmu tidak peduli apakah dia mencintaimu atau tidak, apakah dia peduli kau ada atau tidak, apakah dia menghancurkan hatimu atau tidak – seberapa lama pun kau menunggunya. Karena cinta hanya membuatmu ingin mencintainya lebih dan lebih lagi, menantinya dan selalu ada untuknya kapanpun dan di mana pun itu, tanpa peduli apakah dia membalas cintamu atau tidak.” Ia berhenti sejenak dan menambahkan perlahan, “Dan semua itu hanya karena – hanya karena kau mencintainya.” Ia mengangkat bahu. “Sesederhana itu.”

Aku termenung. Mungkin ia benar. Betapa aku mencintai pria itu sehingga aku rela melakukan semua yang telah kulakukan; tahun-tahun yang telah kulalui dengan penuh rasa setia; orang-orang yang telah kusakiti hanya untuk mempertahankan cintaku padanya. Dan lelaki di hadapanku tahu benar akan hal itu. Aku menatapnya.
“Kau tahu tidak? Saat akhirnya aku mulai bosan dan memberanikan diriku bertanya padanya – mengenai kami berdua – ia tidak menjawabku dengan kepastian? Ia hanya memintaku bersabar lagi, karena katanya ia membutuhkan lebih banyak waktu – lebih banyak lagi. Ia tidak mau memilih. Padahal, apa susahnya memilih?”
“Pria brengsek itu…” suaranya berubah dingin.
Aku mengangguk. “Pria brengsek itu.”
“Yang sangat kaucintai,” tambahnya lembut. Aku mendongak menatapnya, mengira ia sedang menyindirku lagi. Namun ternyata ia sedang menatapku dengan sinar mata yang sangat jauh dari sinis dan semua hal yang negatif. Aku membuang muka, menyadari kehangatan yang tiba-tiba menjalar di pipiku.
“Maaf,” gumamku.
“Tidak apa-apa,” sahutnya.
Kami berdua terdiam untuk waktu yang lama.
Aku memecah keheningan. “Apa salahnya berkorban sedikit demi orang yang kita cintai? There’s nothing wrong with getting hurt a little if you can make people you love double-happy in return.
“Harus kuakui kata-katamu ada benarnya, tapi kadang-kadang kau harus lebih mengutamakan logika daripada cinta. You know, God has a reason why He put brains on top, and not hearts, in us, humans.
Then stomachs and genitals follow.” Aku terkekeh. “Ayolah, itu kan cuma karena manusia berdiri dengan dua kaki, dan bukan dengan empat kaki. Kau ini agamawan atau penganut teori Darwin?”
“Kelihatannya kau lebih senang kalau kita berjalan dengan empat kaki,” Ia mendengus kesal. Beberapa detik kemudian, ia kembali santai. “Yah, aku memang senang berfilosofi. Mungkin di kehidupan yang lalu aku ini seorang filsuf.”
Aku tersenyum lagi. “Terima kasih telah meluangkan waktumu untuk menemaniku. I really feel better now.
Anytime, dear, anytime…
Aku menghabiskan tetes-tetes terakhir dalam mug-ku, dan dia sepertinya sedang memerhatikan kerakusanku. Well, masa bodoh. Aku selalu menyukai cokelat. Titik.
Kemudian kami berdua kembali terdiam untuk waktu yang cukup lama. Memang begitulah selalu keadaan di antara kami berdua. Keheningan yang menentramkan. Keheningan yang, meskipun tidak dipecahkan, tidak akan menimbulkan rasa kikuk atau tidak nyaman. Aku dengan duniaku sendiri, dan dia dengan dunianya sendiri. Mungkin dunia kami bersinggungan, atau berjalan berdampingan dengan rukun dan damai.

“Mana yang lebih kau pilih – antara kau dengan orang yang kau cintai – seperti dua garis tegak lurus yang saling berpotongan, yang hanya bertemu satu kali saja dan kemudian takkan pernah bersinggungan lagi, ataukah seperti dua garis sejajar yang senantiasa berjalan berdampingan namun takkan pernah bertemu?” Pertanyaan khas wanita. Diam-diam aku tertawa geli dalam hati.
“Ah,” ia berpikir sejenak, “apakah aku punya pilihan?” kemudian ia tersenyum penuh arti.
Dan begitu saja. Tiba-tiba tawaku pecah dan aku tertawa hingga menangis di hadapannya, di tengah-tengah kedai kopi yang sedang kami kunjungi, masih sambil memegang mug cokelatku yang kini telah kosong.
Aku tertawa dan terus tertawa, tanpa mengetahui apakah aku ini sedang bahagia atau sedih. Dan karena ia seorang pria yang baik hati, maka ia pun turut menemaniku tertawa agar kami disangka tengah menertawakan sesuatu yang memang lucu, dan bukannya hanya aku yang tertawa sendiri tidak jelas.
Ketika akhirnya aku berhenti dan ia mengulurkan selembar tisu untuk menghapus air mataku, aku menatapnya dengan perasaan bercampur aduk. Mengapa? Mengapa dia sebaik ini? What good thing did I do to deserve being liked by him? I’m not worthy, setidaknya bagi pria lain, I’m not worth a fight. So then why now there’s a man who will do anything just to be with me?
Melihat aku menatapnya seperti orang bodoh, ia balas menatapku. Pandangannya melembut kemudian ia meraih tanganku dan menggenggamnya dengan erat, tidak membiarkan aku menarik diri seperti yang telah kulakukan selama bertahun-tahun ini.
“Dengarkan aku,” katanya, “Aku tidak peduli meskipun kita dua garis sejajar yang berjalan berdampingan dan secara matematis takkan pernah bertemu. So what? Persetan dengan semua teori itu. Aku akan mengulurkan tanganku sejauh mungkin untuk meraihmu, dan kita akan berjalan bersama sambil berpegangan tangan. I don’t want to just cross your path once. I want you in my life and I want to spend the rest of my life being with you. Is anything wrong with that?
“Kau tahu apa sisi baik dari itu semua? Bahwa kita adalah dua garis sejajar yang selalu berjalan berdampingan? Itu berarti bahwa kita takkan pernah saling menjauh satu sama lain. Don’t you see it, Sweetheart? Maybe we’re not meant for each other, but as long as it’s worth a try, I’ll take my chances. Even if it’s not forever, even if it’s just for a year, a month, a day, I’ll fight for you. Sebab aku mencintaimu.”
Sia-sia saja ia memberiku selembar tisu, karena dengan cepat tisu itu menjadi basah dan tidak berguna lagi. Aku kehabisan alasan untuk tidak menangis, maka dengan segera aku menjadi cengeng, yang sangat kubenci, dan menangis sesenggukan di hadapannya. Bukannya mencibir atau menjadi malu karena aku menangis di depan umum, ia malah merengkuhku.
You know, you can just tell me to go, and I’ll simply disappear like I have never been anywhere in your life. You tell me that you have no feelings towards me; that you don’t feel anything like what I feel for you right now. You tell me that, and I’ll go. It’s as simple as that. Don’t hurt yourself more, Darling. You’ve been hurt enough…
Aku terisak dan menggeleng. “Aku tidak tahu…”
Lalu ia mengecup keningku dan berkata, “Tidak apa-apa… tidak apa-apa…. You don’t need to say anything. Saat ini, hanya saat inilah yang penting. Jangan pikirkan masa lalu dan jangan khawatirkan masa depan. Yang penting, saat ini aku ada di sini untuk menemanimu. Itu saja.”
Aku mengangguk, dan perlahan air mataku mulai berhenti.
“Kau masih mau segelas cokelat lagi?” tanyanya sambil mengedipkan mata.
Aku mendengus dengan tidak anggun. “Kau ingin membuatku gendut ya?”
Ia tergelak. “Tentu saja tidak. Kalau aku ingin membuatmu gendut, aku akan menawarkanmu dua gelas cokelat, bukannya satu.” Aku tertawa.
“Itu tidak lucu, tahu. Kau sok lucu.”
Well, maybe I am. But I’m glad I could bring back those smiles to your lips anyway.

Dan sekali lagi, ia benar. He has brought back the smiles not only to my lips, but also to my eyes. Dan, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun yang panjang, aku akhirnya bisa melihat masa depan dari dua buah garis sejajar yang senantiasa saling berjalan berdampingan.

 

Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Kisah (Tanpa Cinta) Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s