Apa Sih Susahnya?


Apa sih susahnya membuang sampah pada tempatnya? Toh itu sampah Anda. Mengapa upaya Anda untuk mencari tempat sampah tidak sekeras usaha Anda mencari WC saat sedang sakit perut? Kan dua-duanya sampah juga. Jangan menganut prinsip “semua selain rumahku dan mobilku adalah tempat sampah”. Atau membuang sampah sembarangan di lantai dan kemudian marah-marah pada pembantu Anda karena rumah Anda kotor. Helloooo… Who’s the real bitch here?

Apa sih susahnya tidak berkata kasar pada orang lain? Tidak perlu bermulut manis dan berjanji palsu, cukup tidak mengatakan hal-hal yang menyinggung perasaan saja sudah cukup, kok.

Apa sih susahnya tidak menjelek-jelekkan orang lain? Tidak perlu sampai memuji setinggi langit. Dan tidak ada salahnya juga sekali-sekali memuji orang lain; bukankah semua orang senang dipuji? Asalkan pujian Anda tulus dan tidak menyindir.

Apa sih susahnya menghargai pendapat orang lain? Kalau tiap kali orang mengutarakan pendapat dan insting pertama Anda adalah mencari kesalahan dan mengkritik, you might have hit your head too hard when you were a kid. Memangnya pendapat Anda selalu paling benar?

Apa sih susahnya tidak menggosipkan orang lain? Anda sadar tidak, teman-teman gosip Anda itu besar kemungkinan juga akan menggosipkan Anda di belakang? Bagi saya, gosip adalah semacam pengetahuan murahan yang “nice to know” tetapi kredibilitasnya patut dipertanyakan. Berapa banyak hubungan yang hancur dan hati yang terluka hanya gara-gara gosip yang tidak jelas sumber dan kebenarannya? Sebegitu tidak menariknyakah hidup Anda hingga Anda harus sampai menggunjingkan kehidupan orang lain agar merasa hidup Anda “berwarna”?

Apa sih susahnya datang tepat waktu? Tidak perlu datang lima atau sepuluh menit lebih awal, cukup tepat waktu saja sudah baik, kok.

Apa sih susahnya mengantri? Keistimewaan apa sih yang Anda miliki yang membuat Anda bebas dari keharusan mengantri? Sadarkan diri Anda bahwa Anda sama ratanya dengan orang-orang lain dalam antrian tersebut. Bahkan, mungkin saja mereka lebih baik karena tertib mengantri tanpa paksaan. Bagi saya, hanya ada satu tempat di mana Anda tidak harus mengantri, dan itu adalah di UGD.

Apa sih susahnya mengerjakan sesuatu yang sudah menjadi tugas Anda? Tidak perlu segala macam bullshit mengenai “mendahulukan kewajiban daripada hak”, toh kalau Anda menjalankan kewajiban Anda dengan baik, Anda pasti akan diberi hak yang setimpal. Dan jangan coba-coba mengatakan Anda sudah mendahulukan kewajiban daripada hak kalau Anda masih langsung membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.

Apa sih susahnya menjelaskan “Maaf ya, hari ini saya lagi badmood, jadi kalau agak sensi sedikit tolong dimaklumi saja” ketimbang langsung pasang muka masam dan bertingkah menjengkelkan tanpa penjelasan? Orang-orang akan mengerti kalau Anda sedang bete, toh semua orang pernah mengalami hari yang buruk. Tapi mana bisa mereka menebak kalau hari ini kebetulan adalah hari bete Anda? Jangan selalu cuma mau dipahami. Belajarlah memahami orang lain meskipun cuma sedikit.

Apa sih susahnya bilang terima kasih saat orang lain membantu Anda? Toh gengsi Anda tidak bakal turun hanya gara-gara sepotong ucapan terima kasih.

Apa sih susahnya menawarkan bantuan sebelum diminta pertolongan? Anda tidak tahu betapa bersyukurnya orang lain saat ada orang yang menawarkan bantuan pada mereka.

Apa sih susahnya tersenyum pada orang yang belum dikenal? You will never run out of smiles and people will be happy seeing yours, as well as yourself. Anda akan bahagia jika Anda tersenyum, dan orang lain pun akan bahagia. Anda tidak tahu, mungkin ada orang yang sedang mengalami hari yang buruk dan tiba-tiba merasa lebih baik hanya karena melihat senyum Anda. Soalnya, senyum itu membawa kebahagiaan, dan kebahagiaan itu menular. 🙂

Apa sih susahnya mengucapkan “Selamat pagi” atau “Selamat siang” duluan? Mungkin kadang kita menganggap diri sebagai orang yang lebih penting, orang yang lebih “tinggi” sehingga orang-orang dari “kasta yang lebih rendah” sudah sepatutnya menyapa duluan. Ha. Memangnya Anda siapa? Anda akan sulit disukai orang saat Anda berada “di atas” jika Anda tidak tahu bagaimana bersikap sebagai seseorang yang berada “di bawah”. Lagipula, apa salahnya menyapa duluan? Tunjukkan bahwa Anda punya tata krama yang baik.

Apa sih susahnya sedikit bermurah hati pada diri Anda maupun orang lain? Jangan terlalu pelit dalam hal kasih sayang maupun materi. Ada orang yang sedemikian pelitnya pada diri sendiri sampai-sampai mengonsumsi barang yang berkualitas jelek asalkan murah. Ujung-ujungnya, biaya pengobatannya menjadi lebih mahal dibandingkan harga makanannya. Mama saya selalu bilang, “Kalau memang uang mau keluar, pasti ada-ada saja yang terjadi sehingga kita perlu mengeluarkan uang. Begitu pula sebaliknya.” So, instead of being over-stingy to ourselves, lebih baik jika kita bekerja dengan giat agar memperoleh rezeki, dan membelanjakannya secara bijak dan masuk akal.

Apa sih susahnya sekali-sekali berkorban demi kepentingan orang lain? Saya tidak mau bicara soal pahala, tetapi bukankah ada suatu kepuasan batin tersendiri jika kita menolong orang yang memerlukan? And it’s true; it’s not a hoax. Dan kalau Anda belum pernah mengalami hal seperti itu, tolong pertanyakan ketulusan niat Anda untuk membantu orang tersebut.

Apa sih susahnya bilang “tidak suka” atau “tidak mau” terhadap sesuatu yang memang tidak Anda sukai atau maui? Jangan salah. Pengorbanan memang perlu. Kadang keinginan pribadi memang harus dibuang demi sesuatu yang lain. But you’re not supposed to be a martyr. Kalau orang menampar pipi kiri Anda, Anda tidak perlu menawarkan pipi kanan Anda untuk ikut ditampar. Are you stupid or what? Well, unless you’re a masochist, of course.

Apa sih susahnya mencoba dulu sebelum mengklaim bahwa diri Anda “tidak bisa”? Dengan mengklaim bahwa Anda tidak mampu, Anda merendahkan diri Anda sendiri dan menetapkan suatu batasan yang seharusnya tidak ada di sana. Anda membatasi diri Anda sendiri, dan Anda bahkan memercayai bahwa batas yang Anda karang-karang hanya karena Anda tidak pede, adalah batasan diri Anda. Anda menjadi katak dalam tempurung imajinasi ciptaan Anda sendiri.

 

Dear people; do not embarrass your parents by showing the society how bad they raise their children.
Jangan mempermalukan orangtua Anda dengan menunjukkan pada masyarakat betapa jeleknya hasil didikan mereka.

 

Maaf, saya kalau menyindir memang tidak pernah setengah-setengah. Soalnya, di mana-mana yang setengah-setengah itu tidak pernah sebaik yang total. Lagipula, masih banyak dari poin-poin di atas yang juga masih saya lakukan. Mungkin saya memang sedang menyindir diri saya sendiri. Lagian, apa sih salahnya menyindir diri sendiri, selama hal itu membuat kita belajar lebih dan akhirnya bisa memperbaiki diri sendiri? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s