Pulpen


Tau gak? Kamu itu pulpen, dan aku kertasnya. Kamu singgah dan menggoreskan beberapa kenangan dengan tinta yang meresap jauh ke dalam kertas, kemudian kamu pergi. Sekarang, yang tersisa hanyalah bagian-bagian kertas yang masih kosong, yang rindu untuk kamu isi lagi dengan tulisan-tulisanmu yang begitu membekas. Tapi kamu gak pernah datang. Dan bagian-bagian putih yang kosong itu kelihatannya jadi jelek sekali di antara bagian-bagian yang berisi kenangan-kenangan yang kamu goreskan.
Kemudian, aku akhirnya memutuskan untuk menghapus goresan-goresan yang sempat kamu torehkan di kertas putihku. Pikirku, biarlah kertas itu kembali menjadi kertas putih bersih yang kosong, sehingga ia tidak merindukan lagi goresan-goresan tinta yang menambah keindahannya. Sebab bukankah putih bersih kosong itu juga cantik? Jadi aku mengambil penghapus pulpen yang berwarna biru untuk menghapus tulisanmu. Tapi kamu terlanjur menggunakan tinta cair. Aku setengah mati menghapus, namun tintamu hanya bertambah kabur dan tak bisa hilang. Tinta yang kamu tinggalkan sudah meresap sampai ke lapisan terbawah dari kertas itu. Semakin aku berusaha menghapusnya, semakin tipis pula kertasnya. Aku tahu, kalau aku terus menghapus, kertasku akan robek, karena sudah tidak mungkin lagi untuk menghilangkan bekas-bekas tinta yang telah begitu dalam kamu sisakan ketika kamu mampir dulu. Menghapus tintamu sama saja dengan merobek kertasku.
Untungnya, aku masih punya tip-ex. Memakai tip-ex gak bakal membuat kertasku jadi tipis, malahan bakal menambahkan selapis warna putih untuk memperkuat kertasnya. Maka jadilah aku men-tip-ex tulisanmu. Kukira semua akan kembali seperti semula; sebuah kertas putih bersih kosong yang polos. Tetapi kamu tahu? Ternyata bekas tip-ex-nya tetap terlihat. Putih memang, namun kita tahu bahwa pernah ada sesuatu di sana. Kita tahu bahwa pernah ada seseorang yang menuliskan sesuatu di sana. Dan seseorang itu adalah kamu.
Tapi aku bisa apa? Memangnya aku bisa mengulang kembali tindakanku menghapus dan men-tip-ex bekas tulisanmu? Memangnya aku bisa memaksa kamu untuk kembali dan terus menggoreskan huruf-huruf milikmu untuk memenuhi lembaran kertasku sehingga bagian-bagian yang masih putih kosong tidak merasa kesepian? Bisa ya? Padahal, mencegah kamu pergi saja aku tidak bisa; jadi tidak mungkin kan kamu kembali? Sama tidak mungkinnya dengan menghapus bersih jejak-jejak tulisanmu di lembaran kertasku yang dulu putih bersih dan kosong…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s