Renungan Angkot


photo

Pagi ini saya naik angkot. Seperti biasanya, untuk membunuh waktu perjalanan yang cukup lama, saya menghabiskan waktu dengan melamun. Kegiatan ngeyel saya tidak berlangsung cukup lama sebab angkotnya keren. Lagu-lagu yang diputar bukannya lagu-lagu dangdut maupun lagu-lagu remix ga jelas yang stereotip dengan angkot pada umumnya. Di angkot saya tadi pagi, yang keluar adalah Katy Perry, Adele, Kerispatih, Maroon 5; singkatnya lagu-lagu masa kini yang keren menurut saya. Oleh karena itu, saya pun berhenti ngeyel dan menikmati lagu yang diputar si supir angkot.

Cuaca tadi pagi mendung dan adem, berhubung sebelumnya sempat hujan. Bau lingkungan sekitar pun enak. I’ve always loved bau rumput setelah hujan. Sambil menyanyi dalam hati, saya menebarkan pandang ke sekeliling; memerhatikan penumpang lain, para pejalan kaki, maupun kendaraan-kendaraan lain yang lalu lalang di sekitar. Sesekali saya menertawakan papan-papan reklame yang salah ketik. Bau hujan perlahan berubah menjadi bau asap kendaraan bermotor. Suara Adele pun lama kelamaan teredam oleh suara klakson dan deruman mobil serta motor. Penumpang yang naik bertambah banyak seiring dengan munculnya matahari dari balik awan. But you know what? Saya menikmati hal itu. I feel so much alive.

Hanya dengan menajamkan panca indera dan menaruh sedikit perhatian pada kejadian-kejadian kecil yang berlangsung di sekitar, saya mendapati bahwa ternyata begitu banyak hal-hal sederhana yang menarik yang berlangsung setiap detik, setiap menit, sementara kita sedang sibuk dengan hal-hal lainnya. Kadangkala, tanpa kita sadari, kita terlalu terserap ke dalam dunia kita sendiri untuk menyadari bahwa ada sejumlah kehidupan lain yang sedang berlangsung di sekitar kita. Kadang, kita terlalu sibuk dengan suatu hal yang abstrak sehingga lupa menikmati kejadian-kejadian konkrit yang notabene ada di depan mata. Kadang, kita terlalu asyik bernostalgia dengan masa lalu ataupun merencanakan masa depan sehingga lupa bahwa kita sedang hidup di masa sekarang. Terkadang, kita lupa menikmati kekinian.

“Life is what happens to you while you’re busy making other plans.” – John Lennon

Berapa banyak dari kita yang lupa memaknai kekinian, menyepelekan kejadian-kejadian kecil sederhana yang senantiasa berlangsung di sekeliling kita, dan kemudian mengklaim bahwa hidup ini membosankan dan kita telah terjebak dalam rutinitas dan kebiasaan? Padahal, there are no two things that happen exactly the same way. Apa yang kita sebut rutinitas dan kebiasaan itu sebenarnya adalah kumpulan dari sekian banyak hal-hal kecil yang tidak sama, yang dengan angkuhnya kita abaikan karena kita dengan bangganya terlalu memfokuskan diri pada “hal-hal besar” yang biasanya berada di masa depan.

“Don’t live every day as if it were your last; live every day as if it were your first.” – Paulo Coelho

Jangankan hal-hal besar seperti “Seharusnya dulu waktu ujian saya jawabnya begini dan bukan begitu” atau “Minggu depan saya harus menyelesaikan laporan kasus saya”, bahkan hal-hal kecil seperti “Duh, seandainya kemarin tidur lebih cepat” maupun “Habis ini ngapain ya?” atau “Sebentar siang makan apa ya?” Begitu banyak dan sederhananya hal-hal yang selalu mengalihkan kita dari masa kini. Padahal, masa lalu itu untouchable dan masa depan itu unpredictable. Saya pun demikian. Ketika sedang berada di dalam angkot sambil menggumamkan lagu Maroon 5, menghirup asap kendaraan bermotor, serta menyimak percakapan antarpenumpang di sekitar saya; jauh di dalam kepala saya, saya sedang menyusun kata-kata yang akan saya gunakan untuk menyusun artikel ini. 🙂

Jangan mengabaikan masa kini dan terlalu larut dalam masa lalu maupun masa depan. Masa kini suatu saat nanti akan menjadi masa lalu yang tidak dapat diulang kembali. Begitupun, masa kini tidak akan mengikuti Anda ke masa depan. Masa kini akan tetap menjadi masa kini, dengan segala kesederhanaan dan keindahannya, tanpa pernah bisa diulang dua kali dengan sama persisnya. Sediakanlah waktu Anda barang sejenak untuk menikmati kekinian, sebab hidup kita yang sesungguhnya adalah di masa kini.

Jadi, jika suatu waktu nanti Anda bertemu saya dan saya sedang tersenyum-senyum sendiri ga jelas, mungkin saat itu saya sedang menikmati kekinian. 🙂

“But don’t forget that memory is like salt: the right amount brings out the flavor in food, too much ruins it. If you live in the past all the time, you’ll find yourself with no present to remember.” – an old man in Paulo Coelho’s post (http://paulocoelhoblog.com/2013/11/06/memory-and-salt/)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s