Tanpa Keju: The Cherry On The Top


Minggu lalu, setelah ngidam selama beberapa bulan, akhirnya saya menemukan sebuah kedai Subway. Seperti kafilah yang menemukan oasis, maka saya pun dengan berbunga-bunga masuk ke sana. Setelah merenungi daftar menu selama beberapa saat, akhirnya saya memesan turkey & chicken breast, kemudian mengantri sambil menunggu pesanan saya dibuat. Asal tahu saja, yang saya suka dari Subway bukanlah rasanya. Bukan. Rasanya biasa saja, kok. Yang saya suka adalah menyaksikan proses pembuatannya yang berlangsung di depan mata kita. Menurut saya, itu asyik.

Kemudian, saat roti saya selesai dipanggang dan sedang diisi irisan daging kalkun, dada ayam, serta keju, saya sempat bimbang. Berhubung sedang calorie-watching tapi tetap mau makan banyak (baca: rakus), saya jadinya menganut prinsip “makan makanan dengan kalori sekecil mungkin supaya kuantitas bisa diperbanyak”. Prinsip gila, tapi yah, you cannot blame me for having so-insatiable-appetite, can you? Akhirnya, dengan berat hati, saya memutuskan untuk bilang ke mas-mas pembuat Subway-nya, “No cheese, please.” Toh, tujuan utama saya adalah makan Subway, dengan ataupun tanpa keju. Bisa nemu kedai Subway pun saya sudah euforia; and a slice of cheese is just the cherry on the top.

Beberapa tahun yang lalu, mungkin saya tidak akan berbuat begitu. Karena masih kurus. Hahaha. Dulu saya pasti akan merasa rugi kalau membayar dengan harga tetap tapi tidak pakai keju. Tapi, esensi sebenarnya adalah, saya tidak sebegitu butuhnya keju itu untuk tetap menikmati makan Subway. Lagipula, saya sedang diet, dan makan Subway tanpa keju adalah sebuah win-win solution menurut saya. Bukankah demikian pula halnya dengan beberapa hal dalam kehidupan kita sehari-hari? Kita menganut prinsip “aji mumpung” dan melakukan segalanya secara berlebihan? Makan berlebihan karena ditraktir. Mengambil makanan melebihi kapasitas perut karena all-you-can-eat. Ujung-ujungnya, makanan yang tersisa kemudian dibuang. Apa gunanya Anda mendoakan orang-orang yang kelaparan, mengaku prihatin dengan para tunawisma, maupun mengklik link-link tertentu di Facebook untuk memamerkan “kepedulian” Anda kepada kaum papa di seluruh dunia kalau sikap Anda masih begitu?

Bukan hanya soal makanan. Membeli barang-barang yang (dipaksakan untuk) dibutuhkan karena sedang diskon. Membuang-buang air maupun menghambur-hamburkan listrik karena bukan kita yang bayar. Miris. Sadarkah Anda, bahwa sebenarnya ini menyangkut bagaimana Anda mengontrol diri Anda sendiri?

Tidak peduli siapapun yang membayar atau berapapun diskonnya, konsumennya adalah Anda. Anda yang makan. Anda yang membeli. Anda yang memakai. Secara perlahan tapi pasti, Anda sedang membentuk kebiasaan Anda sendiri. Jika Anda sudah terbiasa berperilaku konsumtif seperti itu, akan sulit untuk melepaskan diri di kemudian hari. Sebenarnya, kalau Anda pikir-pikir terlebih dahulu, “Apakah saya sebenarnya butuh barang itu?” Anda mungkin akan kaget dengan banyaknya jawaban “Tidak” yang Anda jawab sendiri. Saya ingat, pertama kali saya sadar adalah saat mengunjungi sebuah kedai fast food bersama mama saya. Ketika itu, sedang ada promo untuk upsize minuman ke ukuran yang lebih besar hanya dengan menambah sekian ribu. Saya waktu itu langsung berpikir, “Wah, lebih untung kalau saya upsize saja, kenanya malah lebih murah.” Sebelum saya sempat meng-upsize, mama saya bilang, “Coba kamu pikir dulu. Kalau memang porsi minummu segitu dan minumannya dihabiskan, ya tidak apa-apa. Tapi bagaimana kalau kamu sebenarnya cuma minum sedikit? Kalau sisa minumannya dibuang, ya jadinya sama saja tidak untung. Kalau paksa dihabiskan pun jadinya eneg; itu kan tidak bisa dibilang untung juga. Coba pikir dulu baik-baik, sebenarnya kamu butuh upsize tidak? Karena kalau sebenarnya tidak butuh tapi di-upsize, itu namanya malah rugi. Bukannya murah tapi mahal. Karena kamu sebenarnya tidak butuh dan sebenarnya kamu tidak perlu tambah sekian ribu itu untuk merasa kenyang. Kalau toh, ternyata kamu masih mau minum nantinya, beli lagi saja, daripada terlanjur beli banyak tapi tidak dihabiskan.”

Jadinya saya tidak upsize. Dan saya tidak merasa kekurangan minuman; malah ukuran normal itupun masih kebanyakan buat saya. Sejak saat itu, saya tidak pernah lagi tergoda dengan promo-promo serupa maupun diskon-diskon lainnya. Saya bukannya pelit. Kalau butuh, meskipun mahal, saya beli. Tapi kalau tidak butuh, biarpun diskon, tidak bakal saya beli. Saya tidak mau ditipu trik-trik penjualan seperti itu. Saya tidak mau membiasakan diri berperilaku konsumtif, karena saya belum tahu bagaimana melepaskan diri dari kebiasaan konsumtif tersebut.

Remember, too many cherries could kill you. Semua yang berlebihan itu belum tentu baik. Kalau Anda gampang tergoda dengan iming-iming konsumtif seperti itu, bukankah sama saja dengan melabeli diri Anda sendiri dengan sejumlah price tag? Itulah harga Anda; yakni sejumlah apa iming-iming yang diperlukan untuk “membeli” Anda. Live with dignity. You could still enjoy the dishes without the cherry on the top. Buatlah sedemikian rupa sehingga price tag Anda berbunyi “priceless”. 🙂

20131212-022625.jpg

You might also want to read: http://paulocoelhoblog.com/2013/09/04/paying-the-right-price-aguardando-ken/

Advertisements

One thought on “Tanpa Keju: The Cherry On The Top

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s