Kepada Rekan-Rekan Sejawat


Do something good and people will like you. Do something strange and people will notice you. Do something wrong and people will not forget you.

Menilik kasus dugaan malpraktik yang dilakukan oleh dr. Dewa Ayu Sasiary Prawani, Sp.OG, dr. Hendry Simanjuntak, Sp.OG, dan dr. Hendy Siagian, Sp.OG yang menyebabkan meninggalnya almarhumah Julia Fransiska Maketey, saya tertarik untuk meninjau kasus tersebut dari sudut pandang lain. Meledaknya kasus tersebut minggu lalu cukup membuat saya kaget, antara lain dengan adanya pembatalan putusan pengadilan negeri setempat (Manado) yang menyatakan bahwa ketiga terdakwa tidak bersalah dan bebas dari segala tuntutan hukum, hingga sekarang akhirnya ketiga dokter tersebut dihukum pidana kurungan selama sepuluh bulan; bahkan setelah Majelis Kehormatan dan Etika Profesi Kedokteran (MKEK) sendiri pun mengeluarkan putusan tidak bersalah terhadap ketiganya.

Terus terang, reaksi pertama saya adalah marah. Sebagai seseorang dengan latar belakang medis, saya memahami bahwa setiap tindakan medis pastilah memiliki risiko, mulai dari yang ringan hingga yang dapat menyebabkan kematian. Bukannya saya menggunakan risiko medis sebagai dalih untuk membela diri maupun profesi saya, tetapi memang demikianlah kenyataannya. Bukankah pada dasarnya semua tindakan, baik medis maupun nonmedis, pasti memiliki risiko? Hanya karena kebetulan dunia medis berhubungan dengan nyawa manusia, maka hal itu dengan sendirinya menjadi lebih penting.

Oleh karena itulah, ketika itu saya merasa marah dan tidak terima dengan putusan bersalah yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung. Pikir saya, mengapa terjadinya suatu kondisi yang merupakan risiko medis dikategorikan sebagai “kelalaian yang menyebabkan kematian pasien”? Pasien berada dalam keadaan gawat darurat dan tim medis telah melakukan segala sesuatunya berdasarkan Standard Operational Procedure (SOP). Pendek kata, berdasarkan informasi yang saya dapatkan berkaitan kasus tersebut, sepertinya rangkaian tindakan medis yang dilakukan sudah sesuai dengan prosedur yang berlaku. Lalu apa dasar dijatuhkannya putusan bersalah itu?

Tidak lama setelah kasus tersebut, opini-opini serta sikap/tindakan dari berbagai pihak pun bermunculan. Mulai dari pihak para dokter yang mempertanyakan putusan MA dan menggelar aksi demi mendukung rekan sejawat, pihak pemerintah yang tetap bersikukuh ingin menangkap ketiga terdakwa, serta pihak awam (nonmedis) yang terbagi menjadi dua kubu: pihak dr. Ayu dan pihak Julia Fransiska. Kubu dr. Ayu berupaya membela ketiga Sp.OG dengan alasan serupa yang saya kemukakan tadi: kematian almarhumah merupakan risiko medis, dan semua tindakan medis sudah sesuai SOP sehingga tidak ada dasar untuk mengatakan bahwa dr. Ayu, dkk melakukan malpraktik. Di sisi lain, kubu seberang berkeras bahwa MA tidak mungkin menjatuhkan putusan bersalah tanpa adanya bukti-bukti yang mendukung.

Di sinilah masalah mulai melebar. Mengamati perkembangan diskusi dan debat mengenai kasus ini, saya mendapati bahwa lama kelamaan fokus masalah mulai bergeser pada ketidakpuasan masyarakat pada dokter secara umumnya. Banyak yang mulai curhat dan mengeluarkan unek-unek, baik pengalamannya sendiri maupun pengalaman keluarga atau teman yang merasa dirugikan oleh dokter, antara lain dokter dinilai cenderung hanya mengejar materi, memburu persenan dari perusahaan farmasi, sembarangan membuat diagnosis dan memberi terapi, sampai pada kualitas pelayanan yang dinilai “setengah hati”.

Saya merasa miris. Soalnya, saya kenal banyak dokter yang tidak seperti itu. Banyak dokter-dokter yang saya kenal yang seringkali tidak memungut biaya konsultasi dari pasien-pasien yang kurang mampu. Banyak dokter-dokter yang saya kenal yang mampu mendiagnosis dan memberi terapi secara efektif dan menyembuhkan sekian banyak pasien setiap harinya. Bahkan, banyak dokter-dokter yang saya kenal yang justru “dizolimi” oleh masyarakat, instansi tempatnya bekerja, pihak pemerintah, atau bahkan oleh rekan sejawatnya sendiri. Sejujurnya, saya kesal karena opini masyarakat banyak yang menggeneralisasikan profesi dokter seperti itu. Kurang adil rasanya jika gara-gara satu atau segelintir dokter yang pernah memperlakukan Anda secara kurang baik, Anda kemudian mencap bahwa semua dokter itu jelek dan bisanya cuma mengisap uang pasien.

Namun, di sisi lain, saya tidak menyangkal bahwa memang ada beberapa unek-unek dari masyarakat awam yang sesuai dengan kenyataan. Toh di dalam setiap profesi pasti ada orang yang baik dan orang yang kurang baik. Saya mengakui, berdasarkan pengalaman keluarga maupun kenalan yang nonmedis, memang masih terdapat kasus-kasus malpraktik yang tidak ketahuan karena kadangkala pasiennya sendiri pun tidak tahu bahwa itu adalah kasus malpraktik. Saya mengakui adanya tendensi bagi golongan masyarakat menengah ke atas untuk berobat ke luar negeri karena tidak percaya dengan dokter Indonesia yang dinilai “asal-asalan” dalam memberi terapi. Seperti yang saya baca dalam suatu rubrik diskusi baru-baru ini, bukankah kecenderungan berobat ke luar negeri ini merupakan suatu “silent vote” bahwa masyarakat mengalami krisis kepercayaan terhadap dokter di negaranya sendiri?

Terlepas dari kasus dr. Ayu, toh masih sering kita dengar berita mengenai adanya dokter yang melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan kode etik kedokteran. Dan setiap kali timbul isu demikian, selalu ada segelintir dokter yang mendukung rekan sejawatnya yang diduga melakukan kesalahan. Melihat fenomena ini, saya jadi berpikir, mengapa demikian? Mengapa kita, sebagai dokter, selalu merasa perlu untuk mendukung rekan sejawat kita yang berada dalam masalah? Saya akan senang sekali jika dasar dukungan tersebut adalah solidaritas sesama rekan sejawat. Saya pribadi berpendapat, semua kasus-kasus yang berhubungan dengan pelanggaran etika kedokteran sebaiknya ditangani secara internal melalui IDI, ataupun kalau secara eksternal, sebaiknya menghadirkan saksi ahli dari pihak medis. Mengapa? Sebab hanya sesama dokter, sesama rekan sejawat yang sama-sama memiliki latar belakang medis dan menjalani sekolah kedokteran, yang mampu benar-benar memahami segala kondisi dan situasi yang berkaitan dengan praktik medis, dengan segala risiko dan konsekuensi tindakannya. Ini bukan masalah arogansi maupun eksklusivitas, melainkan masalah tingkat pemahaman. Sebagai contoh kasarnya, tentu akan lebih masuk akal untuk mengundang seorang koki sebagai juri acara memasak, ketimbang seorang penyanyi, bukan?

Namun, betapa patut disayangkan jika alasan dari solidaritas itu adalah rasa takut. Takut karena ternyata profesi dokter tidak kebal terhadap hukum. Takut karena profesi dokter yang selama ini dilindungi oleh IDI, ternyata bisa “ditembus” oleh pihak luar yang bernama media dan pengadilan. Seperti yang ditudingkan oleh beberapa orang, “Dokter selalu merasa dirinya berada di kasta tertinggi dalam masyarakat.” Benarkah itu? Apakah kita, di dalam hati kecil kita, merasa bahwa kita adalah “lebih” dibandingkan dengan profesi lain, sebab semua orang dari berbagai “kasta” lain semuanya mutlak memerlukan dokter? Apakah kita, karena merasa sebagai perpanjangan tangan Tuhan di dunia, kemudian merasa diri hebat dan memiliki derajat yang lebih tinggi daripada orang-orang nonmedis? Apakah kita, yang selalu berdalih dengan mengatakan “Dokter bukan Tuhan”, diam-diam sebenarnya merajakan diri dan oleh karenanya mengecilkan arti kemanusiaan? Saya harap tidak.

Secara umum, saya melihat cacian dan kritikan dari masyarakat ini sebagai sebuah masukan sekaligus cermin untuk menilai profesi dokter secara internal. Meskipun selama ini (untungnya) saya hanya melihat kinerja yang baik dari dokter-dokter yang saya kenal, toh ternyata kenyataan tidak seindah yang saya bayangkan. Ternyata masih banyak kejadian-kejadian di dunia medis yang “patut disayangkan”, dan masyarakat tidak puas terhadap hal itu. Kasus dr. Ayu ini hanyalah percikan api yang melalap tumpukan kayu dan minyak yang sudah lama ditimbun di sana. Seperti suatu komentar dalam rubrik diskusi berkaitan, “Anda membela dr. Ayu karena sejawat Anda, sedangkan Julia Fransiska dibela oleh sekian banyak orang yang tidak mengenalnya.” Ini bukan lagi soal dr. Ayu vs Julia Fransiska, ini adalah soal kinerja dokter vs ketidakpuasan pasien.

Bagaimanapun juga, akan selalu ada pro dan kontra terhadap profesi dokter, dan kita sebagai dokter tidak akan mampu untuk mengontrol hal itu. Semua pihak berhak untuk curhat dan mengeluarkan unek-uneknya. Saya berharap kita jangan reaktif dalam menyikapi kasus-kasus seperti itu. Jika ada yang mencaci, dengarkan saja dan jadikan masukan untuk perkembangan ke arah yang lebih baik. Bukankah hak dan kewajiban kita sebagai seorang dokter adalah menolong sesama manusia? Jadi dokter memang berat, baik secara fisik, mental, maupun rohani. Tapi bukankah hal itu menyenangkan? 🙂 That’s our job. That’s our profession and passion. Our gift and curse. Our privilege and responsibility. We love our job, and we will never regret our choice to be a doctor.

If someone hates you, ask yourself what wrong you have done to him/her. If you can’t find any, you don’t even have to give a fuck.

Saya hanya ingin menyampaikan simpati saya terhadap rekan-rekan sejawat, yang karena pekerjaan dan profesinya, telah direndahkan oleh pihak lain. Sebab memang, mau tidak mau, semua tindakan (medis) itu lebih sering dinilai dari hasil/keluarannya (output), dan jarang dari itikad/maksudnya (intention). People can call you good or bad or whatever, but if you have to tell them that you are, then you are not.

Semakin baik seseorang, semakin banyak pula yang akan mencela. Seperti halnya berlian dan batu kerikil: sesedikit apapun cacatnya berlian, kita akan selalu mencela; sebaliknya sebanyak apapun cacatnya batu kerikil, kita tidak akan pernah terlalu peduli.

Salah satu hal yang saya kagumi dari adanya kasus dr. Ayu ini adalah sedemikian kuatnya rasa solidaritas dan persaudaraan di antara para dokter, sehingga suatu kondisi yang menimpa salah satu rekan sejawat mampu menggerakkan rekan-rekan sejawat lain di berbagai pelosok negeri untuk turut mendukung profesi kedokteran. Untuk ke depannya, saya berharap agar seluruh pihak, baik pihak medis, pemerintah, maupun nonmedis dapat bekerja sama untuk saling meningkatkan kinerja satu sama lain. Mungkin sudah saatnya dibentuk peraturan sejenis Good Samaritan Law di Indonesia, ketimbang diberlakukannya praktik defensive medicine. 🙂

Hang on, my fellow doctors; keep your head high and your heart even bigger, for there is no shame in what we are doing. Because we are not God indeed, and there is no certain thing. We don’t work magic or miracles; we simply try to save humans’ life. We simply help other human beings to improve the quality of their life, humbly. Because in the end, it’s always between us and God, and never between us and those who are against us.

Advertisements

One thought on “Kepada Rekan-Rekan Sejawat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s