(Menjadi) Orang Keren


Beberapa waktu yang lalu, saya menemukan kalimat-kalimat ini di beberapa akun Instagram yang saya follow.

.

1

BemiMhcCAAAUnV0

Be the type of person you want to meet.
(Jadilah seperti [tipe] orang yang ingin Anda jumpai.)

Waktu itu, saya pikir kalimat ini keren sekali, meskipun agak membingungkan jika diterapkan. Toh selera tiap orang berbeda-beda. Misalnya, saya suka dengan orang yang blak-blakan, to the point, apa adanya. Maka saya pun akan berusaha menjadi tipe orang yang seperti itu. Namun bukankah orang lain mungkin saja lebih menyukai tipe orang penyabar? Maka tentu saja orang tersebut akan berusaha menjadi orang yang sabar. Lalu, di mana letak masalahnya?

Dulu, saya pikir, istilah “baik” itu seragam. Sehubungan dengan kalimat di atas, maka tentu saja semua orang senang jika berjumpa dengan orang yang baik, sehingga (jika diterapkan), mereka pun akan berusaha menjadi orang yang baik pula. Tetapi, definisi “baik” bagi saya dan Anda tentu saja berbeda bukan? Mungkin “baik” bagi saya adalah ugly truth, sedangkan Anda lebih menyenangi white lies. Jika demikian, bukankah definisi “baik” itu sendiri menjadi bertentangan?

Kemudian, saya berpikir, itu tidaklah penting. Tidak masalah jika definisi “baik” bagi saya ataupun bagi Anda berbeda, sebab saya yakin dan percaya bahwa setiap individu memiliki nilai dan moral pribadi yang senantiasa menuntunnya untuk berbuat “baik” – setidaknya menurut standar dia. Pada akhirnya, kata-kata “Be the type of person you want to meet” akan bermakna menyemangati kita untuk terus berupaya menjadi diri sendiri yang lebih baik dari waktu ke waktu, karena bukankah tidak ada satu orang pun yang ingin berjumpa dengan orang yang “tidak baik”? 🙂

.

2

BemiSk-CcAAoKbq

Be the kind of woman that makes other women want to be you.
(Jadilah seorang wanita yang membuat wanita lain ingin menjadi seperti Anda.)

Cantik? Oke. Seksi? Boleh. Tinggi, putih, langsing, modis? Bisa jadi. Sejujurnya, kata-kata tersebut yang muncul ketika saya pertama membaca kalimat tersebut. Bukan hanya kaum pria, saya sebagai kaum perempuan pun senang melihat perempuan cantik. Mengapa? Karena cantik itu indah, dan keindahan itu layak dinikmati serta dihargai. Jadi cantik itu tidak mudah, dan saya mengagumi perempuan-perempuan yang cantik secara fisik. Tetapi pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah: apakah saya ngebet sekali ingin menjadi seperti mereka? Apakah mereka, dengan kecantikannya, mampu membuat saya merasa “ingin menjadi seperti mereka”? Ternyata, saya menjawab, “Belum tentu.”

Mengapa? Tentu saja semua orang ingin menjadi cantik. Saya pun ingin menjadi cantik. Namun cantik (fisik) saja belum cukup untuk membuat saya merasa iri. Kebanyakan, hal-hal yang membuat saya mencap bahwa seorang perempuan itu “keren” dan membuat saya ingin menjadi seperti dia adalah hal-hal lain yang justru tidak ada hubungannya dengan kecantikan fisik. Contohnya suara yang bagus, bentuk tubuh yang atletis, hati yang baik, kecerdasan, keteguhan hati, semangat hidup, ketekunan, tanggung jawab, rasa percaya diri yang tinggi, keunikan pribadi, kemampuan (skill) tertentu, serta wawasan yang luas. Meskipun orangnya luar biasa jelek, namun jika saya melihat adanya kualitas-kualitas tersebut pada diri mereka, saya akan cenderung menganggap mereka lebih keren dibandingkan dengan perempuan cantik yang setengah kecantikannya hilang begitu dia membuka mulut. Demikian pula halnya saya menilai kaum pria.

Apakah ini bentuk ke-iri-an saya sebagai seorang perempuan? Entahlah. Orang berkata, “Kecantikan hanya sebatas kulit.” Saya tidak setuju. Kecantikan fisik, ya. Kecantikan fisik selalu penting, sebab kesan pertama orang saat berjumpa dengan Anda adalah kecantikan fisik. Namun, seiring berjalannya waktu, akan selalu ada perempuan lain yang lebih cantik daripada Anda. Lalu apa yang tersisa? Itulah hal-hal di atas, hal-hal yang seringkali dianggap kecil namun sesungguhnya besar – hal-hal yang seringkali dianggap sepele, namun toh justru menjadi pertimbangan orang lain, apakah hubungan sosial dengan Anda pantas diteruskan atau tidak. Hal-hal tersebut, yang seringkali kita sebut sebagai inner beauty, jauh melampaui batasan kulit.

Kata-kata tersebut menyadarkan saya, bahwa ada hal-hal lain yang perlu ditempatkan di atas kecantikan (fisik) semata. Sebagai perempuan, saya tidak mau hanya menjadi cantik (fisik) saja. Saya ingin menjadi seorang perempuan yang, meskipun usianya sudah mencapai kepala tiga, empat, lima, dan seterusnya, atau meskipun sudah memiliki uban dan keriput, yang jalannya tidak lagi setegak dulu dan makannya tidak lagi sebebas dulu, namun ketika perempuan lain melihat, mereka akan berkata, “Wah, dia keren ya! Saya ingin menjadi seperti dia!” Bagi saya, itulah kecantikan seorang perempuan yang sesungguhnya. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s