Sedikit Tentang Spiritualitas


Percakapan di bus sekian hari yang lalu:
Ibu X  :  “Kita (bahasa sopan untuk ‘kamu’) agama apa?

Saya  :  “Saya Buddha.”
Ibu X  :  “Oo iya tidak apa-apa, semua agama kan sama saja ya…”
Beberapa saat kemudian…
Ibu X  :  “Tapi banyak juga itu, di [tempat ibadah] saya, orang-orang agama Buddha yang sudah bertobat.”
Saya  :  “Oo hahaha…”

Percakapan tersebut, untungnya, tidak berakhir awkward, sebab saya sudah sering mengalami percakapan sejenis; dan karena saya tidak fanatik sehingga saya tidak tersinggung. Sebenarnya, waktu itu saya ingin sekali tertawa, sebab menurut saya percakapan kami lucu, tetapi rasanya tidak sopan kalau saya tertawa terbahak-bahak. Jadi saya cuma tertawa sopan.
Teman saya bilang, “Harusnya kamu bilang, ‘Di vihara saya juga banyak orang [salah satu agama] yang sudah bertobat.’” Hahahahaha. Iya, kalau saya rajin ke vihara. 😀

Sampai sekarang saya masih tertawa kalau mengingat percakapan saya dengan si Ibu. Kalau dipikir-pikir, bukankah percakapan tersebut menggambarkan persepsi mayoritas umat beragama (terutama yang fanatik) di Indonesia akhir-akhir ini? Konsep “toleransi beragama” sudah mengalami pergeseran. “Toleransi”, yang menurut saya seharusnya bermakna “oke, saya yakin keyakinan saya benar menurut saya, tetapi saya memahami bahwa kamu juga meyakini bahwa keyakinanmu benar menurut kamu; dan saya menghargai hal itu karena saya tidak bisa membuktikan bahwa keyakinan saya adalah mutlak satu-satunya yang benar dan keyakinan kamu adalah mutlak salah” entah sejak kapan bergeser menjadi “saya yakin keyakinan saya benar, dan saya yakin keyakinan kamu salah, tetapi tidak apa-apa deh kalau kamu tidak mau percaya saya, toh suatu saat nanti kamu juga akan tahu bahwa keyakinan saya adalah yang benar dan keyakinanmu salah”.

Saya setuju dengan kata-kata “Spiritualitas adalah perjalanan pribadi.” (@Agamajinasi) Toh bukankah tujuan akhir semua keyakinan (bukan hanya agama) adalah sama, yakni ketenangan batin dan kepuasan spiritual? Dan jika mungkin saja ada lebih dari satu jalan untuk mencapai tujuan tersebut, mengapa kita tidak mau membuka pikiran dan melapangkan hati untuk menyadari bahwa kemungkinan itu mungkin saja ada? 🙂

Ketimbang mempersoalkan jalan mana yang paling benar (padahal ujung jalannya semua sama saja), bukankah lebih baik kita fokus untuk menikmati jalan yang telah kita pilih untuk kita lalui masing-masing? Sebab bukankah yang terpenting adalah bagaimana kita menjalani hidup secara baik dan benar, dan bukannya mengurusi bagaimana orang lain menjalani hidup mereka? 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Sedikit Tentang Spiritualitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s