Jalan


Saya termasuk orang yang lama dalam membuat keputusan. Dalam mengambil sebuah keputusan, saya memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan orang lain, untuk berpikir dan mempertimbangkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi yang dapat saya pikirkan.

Keputusan yang akan saya ambil sekarang ini, sebenarnya telah tertanam dalam pikiran saya sejak bertahun-tahun yang lalu, sejak saya masih duduk di bangku kuliah. Namun saat itu, jika saya menyuarakan (kemungkinan) keputusan saya, saya selalu menggunakan nada bercanda. Dan tidak pernah ada orang yang menganggap saya serius, sebab memang keputusan yang akan saya ambil itu bukanlah sebuah keputusan yang populer, kalau tidak bisa dikatakan aneh. Hingga sekarang pun, saya masih terheran-heran dengan keanehan saya sampai bisa memilih pilihan ini. 😀

Dulu saya masih bisa berlindung di balik dalih “Oh, saya masih belum tahu mau ke mana setelah ini.” Tetapi setelah semuanya selesai dan pada akhirnya saya harus melanjutkan, hal ini menjadi menegangkan. Saya selalu was-was jika bertemu dengan orang-orang, yang dulunya sering bertanya “Kapan selesainya?” dan sekarang pertanyaannya berganti menjadi “Mau lanjut ke mana?”

Ketika akhirnya waktu telah habis dan saya terpaksa harus menyampaikan keputusan saya kepada orang lain, semua orang mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Mulai dari orang yang memiliki hubungan keluarga maupun hubungan emosional yang paling dekat dengan saya, hingga pada orang-orang yang hanya tergolong “kenalan”. Berbagai macam tanggapan telah saya peroleh. Ada yang mendukung. Ada pula yang tidak mempermasalahkan – hanya ingin tahu semata. Ada yang meragukan. Ada yang mempertanyakan. Ada yang terang-terangan menentang.

Saya adalah seseorang yang logis. Apapun yang orang lain katakan pada saya, selalu saya tinjau kembali menggunakan logika ketimbang perasaan. Begitu pula jika ada orang yang menyanggah pendapat saya. Saya selalu berusaha untuk mempertimbangkan atau membalasnya dengan menggunakan pendapat-pendapat yang disertai logika. Saya jarang mengeluarkan pernyataan atau sanggahan hanya berdasarkan perasaan atau insting semata. Sebaliknya, saya pun lebih menghargai pernyataan dan pendapat yang disertai dengan dasar-dasar yang logis.

Maka, bisa Anda bayangkan bagaimana rasanya ketika kebanyakan tanggapan positif beralasan “Ikuti kata hatimu saja” atau “Semua pilihan pasti ada rezekinya masing-masing” dan “Asalkan ada minat, pasti bisa” sedangkan kebanyakan tanggapan negatif berkata “Kamu ngapain di sana?” atau “Lihat saja fakta yang ada, itu masa depannya belum jelas” atau “Masih banyak kan pilihan lain yang lebih terjamin?” – mulai dari yang paling halus seperti “Apa kamu sudah yakin?” sampai pada yang paling ekstrem yakni “Saya pokoknya tidak setuju.”

Dan bisa Anda bayangkan bagaimana rasanya ketika semua komentar dan tantangan negatif itu hanya bisa saya jawab dengan satu kata. Minat. Minat saya. Passion saya. Itulah satu-satunya hal yang membuat saya tetap bertahan, dan itulah satu-satunya hal yang bisa saya lemparkan sebagai pembelaan diri. Minat, yang notabene sama sekali tidak punya dasar yang logis.

Saya menyadari bahwa argumen saya tidak logis, dan oleh karenanya akan sangat mudah untuk dijatuhkan. Oleh karena itu, saya berusaha untuk mengumpulkan hal-hal lain yang bisa saya gunakan untuk memperkuat argumen saya. Namun, berapa banyakpun argumen lain yang berhasil saya susun, kelihatannya semua itu belumlah cukup bagi orang-orang tertentu.

Anda mungkin berkata untuk apa saya mempedulikan pendapat semua orang. Saya sendiri sering menasihati orang lain untuk tidak terlalu mempedulikan komentar orang lain. Tetapi, pada suatu titik tertentu, saya menyadari bahwa keputusan yang (akan) saya ambil ini kelak akan mempengaruhi juga kehidupan orang-orang di sekitar saya; dan adalah egois jika saya memutuskan seenaknya tanpa memperhitungkan kemungkinan akibat yang akan terjadi pada mereka, baik secara fisik maupun batin.

Maka saya pun menunggu. Dan berpikir. Cukup lama saya berkutat dengan keputusan-keputusan yang akan saya pilih. Bukan hitungan minggu atau bulan, melainkan tahun. Saya sering berkata, ada suatu titik di mana kita harus berkata “Cukup, mulai sekarang tolong jangan ikut campur dan biarkan saya mengatur hidup saya sendiri.” Seringkali saya bertanya, inikah saat itu? Bagaimana jika saya salah? Namun saya terus berputar-putar pada permasalahan tersebut, dan saya tidak maju-maju.

Ketika tiba saatnya saya harus memutuskan, akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti minat saya. Orang-orang berkata “Follow your passion”, “Ikuti kata hatimu”, dan sebagainya. Saya selalu merasa skeptis pada ucapan-ucapan semacam itu, sebab saya adalah seorang safe player dan bukannya risk taker. Sungguh ironis bahwa ternyata justru “kata hati” adalah satu-satunya hal yang sekarang bisa saya gunakan untuk menyemangati diri sendiri. Mungkin bisa dikatakan bahwa ini adalah semacam “lompatan iman” bagi saya. Dan jika ternyata kata-kata itu salah, matilah saya. 🙂

Saya tidak tahu ke mana jalan ini akan membawa saya. Sekali saya melangkah, adalah hampir tidak mungkin untuk berbalik kembali. Saya tidak tahu apakah jalan yang akan saya tempuh ini mulus atau berbatu-batu. Mungkin akan ada saat-saat di mana saya merasa lelah untuk terus berjalan, namun jalan yang ditempuh sudah terlalu jauh untuk kembali. Namun, bagaimanapun juga, satu hal yang saya ketahui pasti, ialah bahwa saya akan terus mencintai jalan yang saya pilih ini, tanpa peduli betapapun berlikunya jalan tersebut.

Berikut adalah salah satu puisi kesukaan saya, karangan Robert Lee Frost (1874-1963), seorang penyair Amerika.

photo

 

Hari ini saya bertemu seorang teman SMA yang sudah lama tidak saya jumpai. Ketika saya memberitahukan padanya mengenai keputusan yang akan saya ambil, dia ternyata kalem-kalem saja. Saya sampai kaget. Maka saya pun bertanya, “Kamu tidak heran?”
Dia dengan entengnya menjawab, “Tidaklah.”
Saya tanya balik, “Kenapa bisa?”
Dijawab, “Ya karena itu sesuai dengan karaktermu. Kan sudah dari SMA kamu suka itu, makanya itu wajar-wajar saja. Mendingan kamu pilih bidang yang kamu suka dan kamu tekuni baik-baik, ketimbang pilih bidang yang populer tapi di dalamnya kamu gak bekerja dengan benar.”
Dan jawabannya yang simpel serta tidak terbantahkan benar-benar membuka mata saya.
Terima kasih, Stevilia Laurens! *kiss*hug*

 

photo 2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s