Foto: I Don’t Like Taking Pictures


Saya termasuk orang yang jarang mengambil foto. Yah, kalau selfie sih banyak. 😀 Yang saya maksud ialah foto pemandangan. Saya jarang memotret pemandangan (kecuali jika saya masuk dalam foto pemandangan itu. Hehe). Mengapa? Ada beberapa alasan untuk hal itu.

Pertama, teknik memotret saya kurang bagus. Jujur saja, dulu saya senang memotret pemandangan. Setiap kali mengunjungi tempat baru, saya selalu gregetan ingin mengabadikan suasana tempat tersebut ke dalam gambar-gambar yang kita sebut foto. Tetapi, setiap kali saya memotret pemandangan dan melihat ulang hasilnya beberapa hari kemudian, saya selalu kecewa dan berpendapat, “Ah, aslinya jauh lebih bagus.” Saya merasa, justru dengan berusaha menangkap keindahan suatu panorama ke dalam kamera, saya justru mengkerdilkan arti keindahannya. Hal-hal indah yang seharusnya begitu “tidak tergambarkan dengan kata-kata”, dipaksa masuk ke dalam lembaran dua dimensi yang begitu sempit. Momen-momen yang justru indah karena kedinamisannya, saya paksa menjadi statis. Agak ironis memang, namun seperti yang saya bilang, teknik fotografi saya memang kurang bagus. 🙂

Kedua, karena kemampuan multi-tasking saya jelek. Saya mengalami bahwa jika saya terlalu fokus untuk memotret lingkungan sekitar saya, memilih angle yang tepat, menentukan timing yang pas, maka saya kehilangan momen yang sesungguhnya. Tidak jarang jika saya sedang mengagumi keindahan suatu tempat, ada sejenis pikiran-pikiran yang mendesak, “Ini pasti bagus kalau difoto” atau “Ini bakal keren kalau dipamer di Instagram”. Lalu saya akan tenggelam dalam kegiatan memotret. Selagi memotret pun, yang saya pikirkan adalah “Ah, pencahayaannya kurang”, “Dari sudut sini kayaknya bagus sekali”, “Aduh, harusnya tadi ambil gambarnya lebih ke kanan sedikit.” Kemudian, setelah hasilnya jadi, saya akan sibuk dengan “Nah, foto ini sudah bagus. Padahal ga pakai efek filter lho” atau “Ih, foto ini jelek. Hapus saja, ah” atau “Foto dari sudut pandang sini sebaiknya saya ulangi, kali ini dengan arah lebih ke bawah”.

See what I mean? I am not being in the moment. Sementara saya seharusnya menikmati keindahan yang berada di sekitar saya, mengagumi semua pemandangan yang terhampar di sekeliling saya, saya malah memusingkan bagaimana caranya supaya hasil foto saya jadinya bagus semua. Buat apa? Menunda menikmati masa kini dan “menyimpannya” untuk masa depan, padahal kita sudah sedemikian dekatnya dengan masa kini? We are living in the present. Mengapa menolak untuk menikmati kekinian itu dengan dalih “Saya akan menyimpannya untuk dikenang di masa depan”, sementara kita saja tidak tahu apakah masa depan itu akan sejalan dengan rencana kita atau tidak?

“Nanti lupa” mungkin menjadi alasan beberapa orang saat memotret pemandangan. Betul. Kita memotret pemandangan, mengabadikannya melalui kamera, agak suatu saat kelak, jika kita lupa, kita bisa membuka kenangan dengan memandang foto-foto itu dan berkata, “Wah, dulu saya pernah ke sini ya; waktu itu pemandangannya bagus sekali.” Tetapi, layakkah hal ini dilakukan, jika ketika kita justru mengalami momen berharga itu, kita justru tidak benar-benar berada di dalamnya, melainkan “melarikan diri” ke momen dan waktu yang lain?

Lain halnya dengan orang. Saya senang memotret orang. Saya senang memotret kejadian-kejadian yang melibatkan keluarga, sahabat, dan teman. Saya senang mengabadikan ekspresi mereka ke dalam foto, sebab saya tahu bahwa kelak jika kami semua berpisah dan masing-masing menempuh jalannya masing-masing, foto-foto inilah yang tersisa untuk dikenang di kemudian hari. Mungkin guratan wajah semua orang telah berubah, usia bertambah dan karakter berubah sedikit demi sedikit. Dan kelak, jika saat itu tiba, hanya foto-foto itulah yang saya miliki sebagai pengingat bahwa suatu saat di masa yang lalu, pernah ada orang-orang ini dalam kehidupan saya, dan saat itu kami memiliki sekian banyak momen berharga yang meskipun terlupakan oleh manusia, namun akan tetap abadi dalam lembaran-lembaran itu.

Oleh karena itulah, entah sejak berapa tahun yang lalu, saya memutuskan untuk mengurangi memotret pemandangan. Kadang saya sengaja tidak membawa kamera supaya tidak bisa meskipun ingin. Saya memilih untuk menikmati momen dan kehilangan kesempatan untuk “mengabadikan momen” tersebut. Saya tidak pernah lagi merekam pementasan tari maupun arak-arakan unik yang saya lihat, sebab dengan merekam, saya jadi tidak benar-benar menikmati pertunjukan aktual yang sesungguhnya sedang berlangsung di depan mata saya, pada saat itu. Mungkin dengan memotret atau merekam saya akan berhasil “menabung kenangan” untuk dipamerkan ke anak cucu kelak, tapi saya akan kehilangan suasana, perasaan, dan emosi yang turut hadir bersama dengan semua kenangan itu.

Mungkin sesekali Anda juga harus mencoba untuk tidak mengambil foto pada saat sedang menikmati pemandangan. Alami momennya, nikmati pemandangannya, rasakan aroma, suara, dan aliran udara di sekitar Anda. Jika Anda berada di tengah keramaian, perhatikan ekspresi orang-orang yang lalu lalang, dengarkan gumaman percakapan mereka, serta emosi-emosi yang melintas di wajah mereka saat menikmati pemandangan yang juga sedang Anda nikmati. Jika Anda tidak mampu menikmati suasana itu dan tetap gatal ingin memotret for the sake of taking pictures (dan bukannya supaya bisa pamer di Instagram), mungkin Anda memang ditakdirkan untuk menjadi seorang fotografer sejati. 😀

Hidup adalah pilihan, dan semua orang bebas untuk memilih. Setiap orang berhak memilih caranya masing-masing untuk memaknai hidup. Mungkin, jika suatu saat nanti teknik fotografi saya mengalami kemajuan dan kemampuan multi-tasking saya membaik, saya akan rajin memotret pemandangan lagi. Tapi untuk saat ini sepertinya tidak. 🙂

 

NB: selain foto-foto orang, saya juga senang memotret objek-objek yang unik dan selfie; pokoknya bukan foto pemandangan yang tidak ada objek maupun manusianya.

 

NB lagi (promosi): akun IG saya: saritjiang. Hehehehe…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s