Sampai Kapan Mau Kurus?


images

Salah satu hal yang menjadi misteri bagi para cowok adalah mengapa cewek selalu berusaha mati-matian supaya lebih kurus lagi daripada dirinya sekarang. Berdasarkan pengalaman sehari-hari, kebanyakan cowok yang saya kenal mengaku tidak suka kalau melihat cewek yang terlalu kurus, dan (katanya) tidak apa-apa kalau seorang cewek agak gemuk sedikit, selama tidak melampaui batas alias obesitas.

Toh, dalam kenyataannya, kebanyakan cewek yang saya kenal memang selalu berusaha untuk menjadi lebih kurus (termasuk saya sendiri), bahkan yang sudah kurus sekalipun. Padahal, semua cewek tahu bahwa para cowok tidak terlalu mempermasalahkan soal kelebihan “sedikit” lemak itu. Lantas, kurusnya buat siapa?

Ini rahasia. Sebenarnya, kami para cewek berusaha kurus bukan demi para cowok. Kami menguruskan badan lebih untuk diri kami sendiri, supaya kami bisa muat baju-baju tertentu tanpa harus memperlihatkan lekuk-lekuk yang tidak seharusnya berada di sana, supaya kami puas mematut diri di depan cermin, dan yang terpenting adalah supaya kami bisa pamer ke para cewek lainnya.

Yep. Ke para cewek lainnya. Ada perasaan puas tertentu sebagai seorang cewek jika sedang ngumpul bersama teman-teman cewek dan berkata “Aku turun dua kilo loh!” ataupun ketika bertemu teman cewek dan berhasil memperlihatkan bahwa kita ini langsing, bertubuh model iklan, dan sebagainya. Jujur saja, pujian “Kamu kurusan ya!” dari seorang cewek lebih memuaskan hati dibandingkan dengan jika pujian tersebut datang dari seorang cowok, meskipun mungkin pujian dari seorang cowok bisa lebih tulus dan jujur daripada pujian dari seorang cewek.

Kami senang jika kami berjalan melewati gerombolan cowok dan mereka berhenti untuk memperhatikan kami lewat, tetapi kami lebih puas jika kami berjalan melewati gerombolan cewek dan mereka berhenti untuk memperhatikan kami lewat. Padahal, lebih besar kemungkinannya gerombolan cewek tersebut berhenti untuk menggosipkan dan bukannya mengagumi kami.

Ini adalah semacam pernyataan implisit untuk menegaskan keunggulan individu di antara sesama jenis kelaminnya, dan tampaknya “kurus” dijadikan sebagai suatu tolok ukur untuk penilaian tersebut. Mengapa? Tentu saja karena menjadi kurus itu sulit dilakukan namun gampang dilihat.

Ada banyak tolok ukur lain yang dapat digunakan, misalnya kepribadian, kepandaian, harta, dan lain-lain – namun semua hal itu tidak dapat diketahui hanya dari pandangan sekilas, dan oleh karena itu menjadi sulit untuk dipamerkan. Bahkan kecantikan sekalipun, tidak membuat seorang cewek sebangga jika dirinya berhasil melangsingkan diri. Soalnya, kecantikan itu bersifat genetik tetapi mudah dimanipulasi menggunakan make-up. Selain itu, kecantikan bersifat relatif dan kebanyakan cewek di dalam hatinya selalu merasa ada yang kurang dengan kecantikannya.

Di sisi lain, kelangsingan (dalam artian “kencang”, bukannya sekadar “kurus” semata) adalah sesuatu yang diperoleh dengan usaha, baik melalui diet maupun olahraga. Semua tindakan ini merupakan tindakan-tindakan yang tidak semua orang berhasil melakukannya, dan oleh karena itu akan sangat membanggakan bagi seorang cewek jika ia berhasil menjadi kurus. Diet maupun olahraga merupakan salah satu tanda bahwa seseorang memiliki komitmen dan determinasi – dua hal yang sangat sulit untuk dipertahankan. Maka dari itu, bukankah tidak salah jika hasil dari komitmen dan determinasi itu kemudian dipamerkan di hadapan mereka yang kurang berhasil melakukannya?

Inilah yang saya maksud ketika saya mengatakan “There’s a kind of confidence you can only get by doing exercise regularly.” Seolah kita sedang menyatakan “Hei, aku bisa loh! Liat nih hasilnya!” Bukankah itu membanggakan? Jadi, menurut saya, keinginan cewek yang tidak pernah puas untuk terus menguruskan dirinya adalah lebih kepada pemuasan ego pribadi dan pembuktian diri di antara sesama jenisnya, dan bukannya supaya dianggap menarik oleh para cowok (meskipun hal tersebut juga turut berkontribusi).

There’s a kind of confidence you can only get by doing exercise regularly.

Sekali lagi, tulisan ini hanya opini pribadi saya, berdasarkan perenungan pribadi dan pengalaman serta pengamatan sehari-hari. Konsep ini tidak berlaku bagi semua cewek, sebagaimana halnya tidak semua cowok mempertanyakan “Sampai kapan cewek mau kurus?” Mudah-mudahan tulisan ini tidak menyinggung pihak manapun.

Akhir kata, untuk mengakhiri tulisan ini, berkaitan dengan tulisan saya yang lain “Some Vulgar Revelation”, saya ingin bertanya kepada para cowok, jika kami para cewek berupaya melangsingkan diri kami demi membuat sesama jenis kami terkesan, lantas siapa yang ingin kalian buat terkesan dengan ukuran kalian? 😀

Advertisements

6 thoughts on “Sampai Kapan Mau Kurus?

  1. Kalau nanya mayoritas sahabat2 cowok saya di jakarta, jawaban pertanyaan terakhir hampir sama dengan para perempuan… mereka juga berusaha berbadan atletis untuk membuat sesama jenis terkesan 😀 hahahaha

    Like

  2. Wah bu dokter se setuju sekali… tidak harus lean kok klo mau sehat. Hehhe. Yang penting clean eating , exercise, rest balance pasti jadi good looking… hhheh..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s