Dua Cangkir Kopi di Atas Meja


Two Cups Of Coffee

Pagi itu, seperti biasanya, aku terbangun oleh aroma kopi yang dibuat Ibu. Dari tahun ke tahun, aromanya selalu sama, tak pernah berubah sedikitpun. Komposisinya juga selalu sama: satu sendok kopi, dua sendok gula pasir, dan satu sendok susu bubuk. Bahkan merek susu bubuknya pun sama. Aku segera merapikan tempat tidur, mandi, dan bersiap-siap ke kampus.

Begitu memasuki ruang makan, yang menyambutku adalah Ibu yang sedang duduk di kursi makan, menghadapi dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap.

“Bapakmu sedang mandi.” ujarnya. Aku hanya mengangguk singkat dan menggumamkan selamat pagi. Aku sendiri tidak minum kopi, jadi aku cuma menyambar setangkup roti dari atas meja dan bergegas keluar.

“Tidak sarapan dulu, Nak?” Suara Ibu mengikuti langkahku hingga ke pintu depan.

Aku memamerkan roti yang sudah kugigit separuh. “Sudah telat, Bu. Sambil jalan saja.” Aku membuka pintu dan menutupnya rapat di belakangku.

 

“Apa yang salah dengan aku? Apa ini semua masih kurang? Kamu maunya apa? Ayo bilang!” Aku menggeram kesal dalam tidurku dan membuka mata. Sudah pagi.

“Kenapa kamu tidak menjawab? Ayo jawab! Apa lagi yang kurang, Pak?” Aku melempar selimut dan turun dari tempat tidur. Lagi-lagi, pikirku. Setelah menyambar pemutar musik, aku menuju ke kamar mandi. Aku menyetel lagu, menaikkan hingga volume maksimum, dan menatap pantulan wajahku di cermin. Wajah yang menatap balik tidak menyenangkan untuk dilihat. Aku mendengus dan menyalakan keran air. Masa bodoh.

Seusai mandi, aku mematikan musik dan membuka pintu kamar mandi perlahan, berusaha menangkap suara sekecil apapun yang datang dari lantai bawah. Hening. Tampaknya Ibu dan Bapak sudah berhenti bertengkar. Aroma kopi yang sama mulai tercium dari ruang makan.

Di atas meja makan, telah tersedia dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Ibu sedang duduk di sana dengan senyum lebar di wajah.

“Selamat pagi,” sapanya ceria.

“Pagi,” gumamku, lalu mengambil tempat duduk di seberang Ibu. Kami berdua makan tanpa berbicara lebih lanjut. Selesai sarapan, aku menuju ke rak sepatu untuk mengambil sepatu. Sepatu Bapak sudah tidak ada.

 

Malam itu aku tidur sambil menyembunyikan kepala di bawah bantal. Meskipun dengan earphone yang terpasang di kedua telinga, teriakan-teriakan Bapak dan Ibu masih terdengar dari kamar sebelah, makin lama makin meninggi. Aku berusaha menaikkan volume musik yang kudengar. Volumenya sudah maksimum, dan telingaku mulai terasa sakit. Tetapi setidaknya suara Bapak dan Ibu agak teredam. Aku tidak mau tahu isi pertengkaran mereka. Bukankah memang perlu pengorbanan untuk mendapatkan sesuatu?

 

Kali pertama Bapak dan Ibu mulai bertengkar, aku masih duduk di bangku SD. Aku masih ingat, waktu itu Bapak tampak tegang, tidak tersenyum dan hanya berbicara seperlunya saja. Kemudian Ibu menghampiri aku dan berkata sambil tersenyum, “Nak, bolehkah kamu masuk ke kamarmu sebentar? Bapak dan Ibu ingin membicarakan hal yang pribadi.”

Waktu itu aku menurut saja. Aku masuk ke kamar dan asyik membaca buku cerita yang baru dibelikan Ibu. Kali pertama itu, Bapak dan Ibu tidak berteriak.

Seiring dengan berubahnya seragam sekolahku dari putih merah menjadi putih biru, frekuensi “pembicaraan pribadi” itu semakin sering terjadi, dan suara-suara keras mulai terdengar. Mula-mula aku menjadi penasaran, hal pribadi apa yang tidak ingin Bapak dan Ibu beritahukan padaku. Jadilah aku membuka pintu kamar dan menguping. Hari itu adalah hari yang paling kusesali dalam hidupku. Sejak saat itu, rasa penasaranku menguap seketika. Aku tidak lagi ingin tahu apa yang Bapak dan Ibu bicarakan “secara pribadi”. Bahkan, kalau boleh memilih, aku sama sekali tidak ingin terlanjur tahu sejak awal.

 

Keesokan harinya, aku memasuki ruang makan dengan aroma kopi yang masih tertinggal di hidung. Ibu berada di sana, matanya menerawang ke arah dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap di hadapannya. Tidak ada selamat pagi kali ini. Menatapku pun tidak. Jadi aku cuma duduk, makan dalam keheningan, lalu berangkat ke kampus sendirian. Lagi-lagi, sepatu Bapak sudah tidak ada.

 

Pernah, suatu kali ketika aku masih duduk di bangku SMA dan satu episode pertengkaran baru saja terjadi, aku bertanya pada Ibu, “Bu, apakah Ibu baik-baik saja?” Ibu hanya tersenyum dan mengangguk. Aku melanjutkan, “Bu, aku tidak apa-apa kalau seandainya Ibu sudah tidak kuat. Toh, tidak selamanya orang harus memiliki pasangan supaya bisa bahagia.”

Seketika Ibu memandangku tajam dan berkata, “Jangan sekali-sekali kamu mengatakan hal seperti itu lagi. Nanti kualat.” Kemudian, sambil melembutkan suara, ia melanjutkan, “Bapakmu itu orang baik. Bukankah sudah bertahun-tahun lamanya ia bekerja membanting tulang untuk menghidupi kita tanpa pernah sekalipun mengeluh? Dan sebagai gantinya, Ibu hanya bisa membuatkan kopi kesukaan Bapakmu ini setiap pagi. Ini hanya sebuah hal kecil dibandingkan dengan apa yang Bapakmu telah lakukan untuk kita, Nak.” Setelah merenung sejenak, Ibu menambahkan, “Mungkin memang Ibu yang salah.”

Aku hanya diam. Aku memandang Ibu, mengingat betapa waktu itu aku tertegun dengan penyangkalan Ibu. Apa Ibu tidak tahu bahwa hampir setiap hari, meskipun aku berusaha menulikan diri dengan musik, toh aku masih bisa menangkap kata-kata penghinaan yang dilemparkan Bapak kepada Ibu. Kata-kata yang, seandainya kata-kata bisa membunuh, aku yakin telah membunuh Ibu dan aku ribuan kali.

Aku ingat memandang Ibu dengan pandangan aneh. Cinta memang gila, dan cinta telah membuat Ibuku menjadi gila.

 

Pagi itu hanya ada aroma kopi yang sama. Aku masuk ke ruang makan dan mendapati dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap di atas meja. Tidak ada Bapak maupun Ibu. Aku mengangkat bahu dan mulai duduk makan. Tiba-tiba, pintu kamar Bapak dan Ibu terbuka, dan Bapak keluar dengan raut wajah yang menakutkan.

“Kamu tidak tahu apa yang salah? Kamu bertanya apa lagi yang kurang? Ini –” Bapak mengambil cangkir kopi dan membantingnya ke lantai. Cairan coklat muda segera mengotori lantai porselen yang putih. “Ini yang salah!” Kemudian Bapak meraih asbak dan melemparnya ke dinding. “Ini yang kurang!” Bapak berbalik dan memandang Ibu dengan penuh kebencian. “Semuanya salah! Semuanya kurang! Kalau kamu bertanya apa yang salah, apa yang kurang, tanyakan pada dirimu sendiri.” Lalu Bapak menyambar sepatunya dari rak dan bergegas keluar rumah.

Aku memandang Ibu. Ibu hanya terdiam tanpa ekspresi di ambang pintu. Pandangannya tertuju ke pecahan cangkir dan asbak yang berserakan di lantai.

“Bu…” Aku bangkit berdiri.

“Stop. Jangan beranjak dari tempatmu dulu, Nak, nanti kamu menginjak pecahan kaca.” Ibu kemudian memunguti pecahan beling yang tersebar di lantai dan membersihkan tumpahan kopi yang aromanya masih tercium di udara.

Ibu masuk ke dapur dan aku menghela napas. Nafsu makanku hilang sudah. Meskipun sudah membiasakan diri agar tidak terpengaruh dengan pertengkaran Bapak dan Ibu, toh rasanya masih menyakitkan melihat dua orang yang seharusnya merupakan orang terdekat kita, saling memandang dan melemparkan kata-katan yang penuh dengan kebencian.

Tiba-tiba aku mencium aroma kopi, dan menoleh ke arah dapur – untuk melihat Ibu yang keluar membawa nampan berisi dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap.

Melihat aku memandanginya, Ibu tersenyum dan berujar, “Kopinya tumpah. Harus Ibu buatkan lagi supaya bisa diminum Bapakmu nanti.”

 

Dulu aku selalu menangis tiap kali Bapak dan Ibu bertengkar, tentu saja secara diam-diam. Untuk apa menambah kekhawatiran Ibu hanya dengan memperlihatkan bahwa aku menangis. Ibu tidak perlu tahu bahwa aku juga sedih mendengar mereka bertengkar. Apalagi Bapak. Aku tidak sudi membiarkan Bapak tahu kalau aku menangis. Aku tidak ingin Bapak tahu bahwa bukan hanya Ibu yang berhasil disakitinya, tapi juga aku.

Setelah beberapa tahun, aku menjadi kebal. Aku tidak lagi menangis meskipun Bapak dan Ibu saling mencaci tepat di depan mataku. Oh, rasanya masih menyakitkan, namun rasa sakit itu adalah rasa sakit yang tumpul, yang bisa kuatasi dengan menebalkan dinding perasaanku. Aku melatih diri untuk memandang pertengkaran Bapak dan Ibu dari sudut pandang orang luar, seakan pertengkaran mereka hanyalah salah satu adegan dalam sinetron murahan yang ditayangkan setiap hari oleh stasiun televisi yang tidak laku. Aku benci sinetron.

 

Setiap kali teman-temanku datang ke rumah, Ibu selalu bercerita mengenai kisah kopi yang dibuatnya. Ibu bercerita betapa Bapak menyukai kopi dan betapa Ibu belajar agar bisa membuatkan kopi sesuai dengan selera kesukaan Bapak. Dan betapa setiap hari dalam penikahannya dengan Bapak, yang kini sudah berjalan selama seperempat abad, Ibu selalu membuatkan kopi untuk Bapak untuk diminum setiap paginya. Dan ujung-ujungnya, Ibu selalu menasihati, “Kalau mau cari suami, carilah yang seperti Bapakmu, bertanggung jawab dan tidak macam-macam. Jangan cuma mencari tampang, paras bisa memudar, tetapi karakter akan bertahan.”

Dan aku ingat, pernah suatu kali ketika aku punya pacar, pacarku berkata, “Aku ingin jika kita menikah nanti, kita hidup dengan rukun dan mesra seperti Bapak dan Ibumu, yang bahkan setelah dua puluh lima tahun berlalu, Ibumu masih tetap setia membuatkan kopi setiap pagi dan Bapakmu masih tetap setia meminum kopi buatan Ibumu dan bukannya minum kopi di luar.”

Keesokan harinya, aku memutuskan pacarku itu. Dan sejak saat itu, aku membenci kopi.

 

Kemarin Bapak meninggal. Serangan jantung, kata dokter. Hingga acara pemakaman usai, aku tidak bisa meneteskan air mata. Orang-orang berkata bahwa aku sungguh seorang yang tabah. Aku mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka dan memohon doa untuk Bapak. Hal-hal klise yang biasa. Di dalam, aku sama sekali tidak tahu harus merasa apa. Haruskah aku sedih karena Bapak meninggal? Atau haruskah aku bersyukur karena tidak akan ada lagi orang yang menyakiti Ibu? Aku tidak tahu. Saat akhirnya aku ingin merasa, aku justru tidak bisa merasa.

Sebaliknya, Ibu sungguh berduka. Baik di rumah sakit, di pemakaman, hingga di rumah pun, Ibu terus mengucurkan air mata. Ibu menangis sesenggukan dan makan hanya sedikit. Aku sedih melihat Ibu. Dan aku membenci Bapak, yang bahkan setelah kematiannya pun, masih sanggup menyakiti Ibu.

 

Seminggu setelah Bapak meninggal, aku terbangun oleh aroma kopi yang sama. Aku turun ke ruang makan dan menemukan Ibu duduk menghadapi dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Ibu sudah tidak menangis lagi, pakaiannya rapi, dan rambutnya diikat ekor kuda.

“Bu,” Aku bertanya hati-hati, “kenapa kopinya ada dua cangkir?”

Sambil tersenyum, Ibu menjawab, “Tentu saja satu untuk Bapakmu, Nak. Kamu kan tidak minum kopi.”

 

Setiap pagi aku terbangun oleh aroma kopi. Setiap pagi, di meja makan, ada dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap. Satu sendok kopi, dua sendok gula, dan satu sendok susu bubuk. Tidak ada lagi suara teriakan atau makian yang terdengar di rumah kami, dan pemutar musikku makin jarang kugunakan. Setiap pagi Ibu akan duduk di meja makan dengan dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap, seolah sewaktu-waktu Bapak akan muncul dan meminum kopi kesukaannya.

Jangan salah. Ibu tidak gila. Ibu memahami bahwa Bapak sudah meninggal. Aku sudah menanyakan hal itu, tentu saja secara hati-hati, kepada Ibu. Waktu itu Ibu menjawab, “Ibu hanya ingin sesuatu untuk dikenang tentang Bapak. Rutinitas ini, membuatkan Bapakmu kopi setiap pagi, adalah salah satu hal yang membuat Ibu bahagia. Dunia Ibu tidak lagi sama setelah Bapak meninggal, dan jika ada satu hal yang bisa menjadi pegangan Ibu bahwa dunia masih berputar dan berjalan seperti biasanya, maka inilah hal itu.”

Maka aku pun berhenti mempertanyakan soal dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap di atas meja.

 

Dua tahun setelah Bapak meninggal, Ibu menyusulnya. Orang-orang bilang, Ibu meninggal karena patah hati. Dokter bilang, Ibu meninggal karena komplikasi penyakit gula yang dideritanya. Mungkin keduanya benar. Mata Ibu tidak pernah lagi memancarkan cahaya yang sama sejak Bapak meninggal. Maka tinggallah aku, sebatang kara tanpa orangtua maupun saudara.

Aku sendirian mengurus pemakaman Ibu, mulai dari mengurus pemandian jenazah hingga menyaksikan jasad Ibu perlahan diturunkan ke dalam liang lahat yang menganga, tepat di samping makam Bapak.

Aku tidak menangis. Lagi-lagi orang memujiku sebagai orang yang tabah, meskipun kali ini mereka juga mengasihaniku sebab sekarang aku adalah seorang anak sebatang kara yang tabah. Di dalam hati, aku marah pada diriku sendiri. Mengapa? Mengapa aku tidak bisa menangis? Ini bukan Bapak, yang telah menyakiti aku dan Ibu sedemikian rupa sehingga tidak pantas untuk diteteskan air mata. Ini Ibu, yang setiap pagi selama bertahun-tahun, tetap membuatkan kopi untuk Bapak bahkan setelah Bapak meninggal.

Aku marah, karena ternyata aku tidak bisa menitikkan air mata untuk kepergian Ibu sebagaimana halnya aku tidak bisa menitikkan air mata untuk kepergian Bapak. Aku marah, karena ternyata tidak peduli bagaimanapun perlakuan Bapak dan Ibu kepadaku, jauh di dalam lubuk hatiku, ternyata aku memiliki perasaan yang sama untuk mereka berdua. Tidak peduli semenyakitkan apapun perkataan Bapak semasa hidupnya, toh aku tetap menyayangi Bapak sebagaimana aku menyayangi Ibu. Dan tidak peduli sekuat apapun Ibu berusaha mencintaiku untuk menggantikan cinta Bapak yang jarang kudapatkan, toh aku tetap membenci Ibu sebagaimana aku membenci Bapak.

Bapak dan Ibu telah membuat aku tidak mampu merasa. Bapak dan Ibu telah membuat aku takut akan hubungan pernikahan antara laki-laki dan perempuan. Bapak dan Ibu telah merusak aku dengan cara yang sama seperti mereka menyayangi aku. Kini, setelah mereka berdua pergi, mereka bahkan tidak mengajarkan aku bagaimana cara untuk kembali mampu merasa. Mereka pergi, dengan cinta dan kebencian yang saling tumpang tindih selama bertahun-tahun, tanpa sedikit pun memikirkan bahwa betapa cinta dan kebencian mereka telah merenggut semua cinta dan kebencian yang aku miliki. Mereka pergi, dan aku kosong.

 

Sepulang dari pemakaman Ibu, aku masuk ke rumah dan memandang meja makan yang kini kosong. Tidak ada lagi teriakan pertengkaran yang sudah terlanjur akrab di telingaku. Tidak ada lagi dua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap di atas meja. Tidak ada lagi Bapak maupun Ibu.

Aku menuju dapur dan membuka rak piring. Aku mengambil dua buah cangkir dan sendok. Satu sendok kopi, dua sendok gula pasir, dan satu sendok susu bubuk. Air panas. Aku mengaduk kopi di dalam kedua cangkir itu dan meletakkannya di meja makan. Lalu aku duduk di seberang meja. Aku terdiam memandangi kedua cangkir kopi yang masih mengepulkan asap itu, lama sekali.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s