Apa Lagi?


Semasa koas, saya dan teman-teman sepakat bahwa salah satu pertanyaan ujian yang paling sulit dijawab adalah “Apa lagi?”
 
Contohnya sebagai berikut. “Sebutkan etiologi yang dapat menyebabkan sirosis hati.” | “Penyakit hati kronis, dok.” | “Apa lagi?” | “Alkoholisme, dok.” | “Apa lagi?” | “…”
 
Pertanyaan “Apa lagi?” merupakan salah satu pertanyaan pembunuh yang paling sering menyebabkan koas terdiam. Meskipun Anda mengetahui jawaban dari pertanyaan yang diberikan, namun ketika jawaban-jawaban tersebut sudah Anda keluarkan satu per satu (ini triknya, jawablah pertanyaan serupa satu per satu sehingga terkesan Anda banyak kali menjawab. Hehe..), toh pada suatu saat Anda akan kehabisan stok jawaban dengan adanya rangkaian “Apa lagi?” yang tidak berkesudahan.
 
Butuh kepercayaan diri yang besar untuk menjawab “Itu sudah semuanya, dok.” sebab pernyataan itu akan dibalas dengan “Masa? Yakin?” Dan perlu kekuatan batin yang tidak kalah besarnya untuk menjawab “Hanya itu yang saya tahu, dok.” sebab kalimat itu akan dibalas dengan “Oh, kalau begitu nanti kamu cari tahu dulu dan kita ujian ulang.”
 
Kehidupan itu memang berat, teman-teman. Namun bukankah itu sama dengan apa yang terjadi dalam kehidupan yang sesungguhnya? Saat kita akhirnya berhasil mencapai suatu titik dalam perjalanan hidup kita, akan selalu ada pertanyaan “Apa lagi?” yang membuat kita berpikir “Akan ke mana saya setelah ini? Apa yang harus saya lakukan selanjutnya?”
 
Saya masih ingat, dalam pelajaran PPKn sewaktu SD, ada suatu poin yang mengajarkan kita agar “tidak cepat merasa puas”. Dulu saya tidak setuju dengan anjuran tersebut. Sampai sekarang pun saya masih kurang setuju. Ya kalau memang kita sudah berusaha semaksimal mungkin dan kemudian berhasil memperoleh hasil yang memuaskan, mengapa kita tidak boleh merasa puas? Merasa puas itu sah-sah saja, karena kita bekerja keras untuk mencapai sesuatu, dan saat sesuatu itu akhirnya berhasil kita raih, tentunya perasaan puas adalah respon manusiawi yang normal untuk kita rasakan.
 
Lama kelamaan, saya akhirnya sadar, bahwa yang dimaksud adalah “jangan cepat merasa puas dan kemudian berhenti sampai di sana”. Perjalanan hidup bukanlah suatu perlombaan mencapai garis finish, dan kebanyakan pencapaian dalam hidup hanyalah merupakan checkpoint semata; masih banyak checkpoint-checkpoint lainnya yang membentang di depan mata.
Jangan cepat merasa puas dan kemudian berhenti sampai di sana. Jangan membatasi pencapaian diri Anda hanya sampai checkpoint tertentu saja. Teruslah bertanya pada diri sendiri “Apa lagi?” sebab tentunya respon yang tepat untuk pertanyaan tersebut adalah “Cari lagi.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s