Golput: Seberapa Laparkah Anda?


Mendekati masa pemilihan umum (pemilu), orang-orang berlomba-lomba mengumandangkan serta menjelaskan pandangan politik mereka melalui berbagai media sosial, baik itu mendukung salah satu pihak maupun yang memilih untuk golput (golongan putih). (Sepertinya slogan pemilu yang saya hafalkan semasa SD, yaitu langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil, atau biasa disingkat “LUBER-JURDIL” sudah sulit diterapkan sekarang ini.) Entah apakah hanya pandangan saya atau bukan, namun tampaknya menjadi golput sedang marak akhir-akhir ini. Banyak yang menentang, banyak pula yang mendukung; tentunya dengan alasan masing-masing. Berkaitan dengan golput, menurut hemat saya, golput terbagi menjadi dua tipe: 1) golput apatis, dan 2) golput idealis.

Golput apatis adalah mereka yang “memilih” untuk golput karena mereka cuek dan tidak (cukup) peduli untuk berpartisipasi dalam tindakan politik tersebut. Alasannya bisa bermacam-macam, mulai dari tidak suka politik, tidak paham politik, sampai dengan malas berjalan kaki ke tempat pemilihan umum (TPU). Golongan ini biasanya didominasi oleh orang-orang yang boleh dibilang masih “buta politik” ataupun memang sama sekali tidak berminat mengikuti perkembangan politik dalam negeri.

Golput idealis adalah mereka yang “memilih untuk tidak memilih” dikarenakan alasan prinsipal; yakni mereka berpendapat bahwa calon-calon yang ada pada saat itu belum memenuhi standar/kriteria ideal untuk memperoleh posisi tertentu dalam pemerintahan. Golongan ini enggan untuk “memilih yang terbaik di antara yang terburuk, daripada tidak ada sama sekali” sebab anggapannya adalah bahwa bahkan yang terbaik di antara yang terburuk pun belum cukup baik untuk dapat dipilih oleh rakyat. Umumnya orang-orang golput idealis adalah mereka yang memahami seluk beluk dunia pemerintahan dan politik, namun menolak untuk ikut serta dalam permainan.

Kalau saya analogikan, ini ibarat acara perjamuan makan di mana tersedia berbagai macam hidangan di atas meja. Para tamu yang datang kemudian disuguhkan makanan dan diberi kebebasan untuk memilih salah satu makanan yang terhidang.

Ada orang yang tidak makan karena memang tujuan utamanya menghadiri acara tersebut bukanlah untuk makan, melainkan untuk bersilaturahmi dengan tamu lain, misalnya. Ada orang yang tidak makan dengan alasan “malas makan” atau setelah melihat sekilas lalu berujar “kayaknya ga ada yang enak”. Ada orang yang tidak makan karena mereka tidak tahu makanan apa yang dihidangkan dan tidak mau mengambil risiko sakit perut atau alergi. Ada orang yang tidak makan karena tidak menemukan makanan yang disukainya di sana, tanpa berkeinginan untuk mencicipi salah satu makanan yang ada.

Di sisi lain, ada juga orang yang makan hanya karena sedang merasa bosan dan tidak ada kerjaan lain yang lebih menarik selain makan. Ada orang yang makan karena memang sedang lapar. Ada orang yang makan karena ingin mencicipi hidangan yang tersedia. Ada orang yang makan karena setelah mengamati berbagai hidangan dari ujung ke ujung, akhirnya memutuskan untuk memilih satu jenis makanan yang menurutnya rasanya (akan) enak.

Apapun pilihannya, makan ataupun tidak makan, maupun jenis makanan yang dipilih, tentu memiliki alasannya masing-masing, dan saya menghormati serta menghargai hak dan alasan itu. Saya kira tidaklah bijak untuk mendiskreditkan salah satu pilihan hanya karena kita tidak sependapat dengan pilihan itu; toh setiap pilihan hadir dengan konsekuensinya masing-masing.

Sekarang, beberapa bulan menjelang pemilihan presiden (pilpres) 2014, yang perlu kita tanyakan pada diri kita masing-masing adalah: seberapa laparkah kita untuk mengambil pilihan antara “makan” dan “tidak makan”?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s