Kado Ulang Tahun Terkeren


Apa? 😀

Bagi saya, kado ulang tahun terkeren yang pernah saya terima adalah tidur. Iya, tidur. 🙂

Jadi, ceritanya, dua tahun yang lalu, ketika masih koas di salah satu bagian di rumah sakit, saya mendapat giliran jaga malam tepat pada malam ulang tahun saya, yang artinya saya akan menghabiskan waktu pergantian hari ke hari ulang tahun saya di rumah sakit. Kasihan? Tidak juga. Malahan, tahun sebelumnya saya menghabiskan hari Natal sekaligus Tahun Baru di rumah sakit pula. Ujian akhir tanggal 31 Desember pun sudah pernah.

Nah, pada hari itu, saya jaga malam berdua dengan teman saya, Ivanna Sirowanto. Jam jaga dimulai dari jam sembilan malam hingga jam tujuh pagi keesokan harinya, kemudian dilanjutkan dengan dinas wajib hingga jam empat sore. Biasanya, setelah mengecek pasien dan membuat laporan jaga, kami boleh masuk kamar dan beristirahat alias menunggu panggilan telepon. (Saya sempat trauma dengan nada dering telepon tertentu gara-gara pernah dibangunkan hampir setiap malam – beberapa kali dalam semalam, selama seminggu ketika sedang stase di salah satu bagian.)

Sialnya, malam itu ada pasien masuk ke UGD dalam kondisi sesak. Padahal, di bagian yang saya sedang stase ketika itu, pasien baru saat jam jaga adalah hal yang sangat jarang. Jadilah kami berdua pergi “menjenguk” pasien ke UGD. Setelah penanganan primer selesai, oleh dokter residen kami disuruh menunggui pasien hingga pagi. “Dek, kalian di UGD saja ya, pasiennya perlu dicek tiap jam.” Apa mau dikata, kami pun berdiam di UGD.

Di UGD itu tidak ada kamar untuk koas. Jadi kami duduk di meja penerimaan (nurse station) bersama dengan residen dan koas dan perawat lain. Dan mengecek kondisi pasien tersebut tiap jam.

Waktu pun berlalu. Satu per satu pasien lain mulai tertidur, lampu UGD pun diredupkan. Para residen dan koas dan perawat lain mulai mengambil giliran tidur masing-masing. Ketika itu, bahkan untuk bercerita pun sudah bosan, apalagi untuk membuka buku atau belajar. Saya ingat, hari itu saya ngantuk sekali. Sekitar pukul dua, kami tertidur menelungkup di atas meja, dan terbangun tiap beberapa saat untuk memperbaiki posisi. Rencana semula untuk “hanya” tidur-tidur ayam ternyata keterusan. Ketika saya bangun, ternyata sudah pukul enam pagi. Dan ternyata sepanjang malam saya tidur, Vann yang bangun tiap jam untuk mengecek kondisi si pasien.

Seingat saya, waktu itu saya bertanya, “Kenapa ko ga kasih bangun saya supaya kita bisa gantian?” Dan kalau tidak salah, waktu itu Vann menjawab “Kan hari ini ulang tahunmu.”

Saya speechless

Mungkin bagi sebagian orang, itu hal yang biasa. Mungkin itu memang hal yang biasa. Tapi bagi saya, itu lebih dari biasa. 🙂 Soalnya, tidak semua orang bisa begitu. 🙂 Makasih, Vann! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s