Curhatan (Tentang) Sampah


Moses_parts_Red_Sea_only_to_uncover_litter_1

Salah satu hal yang seringkali membuat saya merasa sedih adalah ketika melihat orang membuang sampah sembarangan. Sungguh disayangkan bahwa masih ada beberapa orang yang memiliki prinsip “semua yang di luar rumahku dan kendaraanku adalah tempat sampah”. Jangankan itu, bahkan kadang ada juga orang yang meskipun di rumah sendiri, tetap membuang sampah tidak di tempat sampah, dengan anggapan bahwa “oh, nanti kan ada pembantu yang bersihkan”. Padahal, menurut saya pribadi, tidak sulit kok, mencari tempat sampah di sekitar kita. Setiap rumah pasti memiliki tempat sampah; demikian pula halnya dengan tempat-tempat umum.

Terus terang, saya tergelitik untuk menulis mengenai topik ini setelah beberapa hari yang lalu, di atas angkot, saya melihat seorang anak bersama ibunya. Si anak sedang minum minuman instan dalam kemasan. Dalam perjalanan, minuman tersebut habis dan si anak lantas menyerahkan kemasan minuman kosongnya kepada sang ibu lalu bertanya, “Ma, ini dibuang di mana?” Sang ibu mengambil kemasan tersebut dari anaknya kemudian dengan santainya membuang sampah itu ke lantai angkot sambil berkata, “Oh, dibuang di lantai saja.”

Banyak kejadian serupa yang sering saya temui sehari-hari. Mulai dari membuang sampah ke lantai angkot, atau membuang sampah ke luar jendela mobil, dan sebagainya. Waktu itu saya belum berani menegur ibu-ibu itu, apalagi di depan anaknya. Saya cuma berpikir, kasihan si anak. Bayangkan saja, setelah bertahun-tahun di SD dicekoki “jangan membuang sampah sembarangan” dan setiap pertanyaan ujian “Sampah seharusnya dibuang di…” harus dijawab dengan “tempat sampah”, ternyata semua itu bertolak belakang dengan kenyataan hidup sehari-hari, apalagi yang “melanggar” ajaran itu adalah ibunya sendiri. Prinsip “semua yang di luar rumahku dan kendaraanku adalah tempat sampah” telah mengacaukan pelajaran PPKn yang diajarkan sewaktu kita masih kecil. Mau tidak mau, saya berpikir, jika hal sepele seperti membuang sampah saja bisa diabaikan semudah itu, lantas bagaimana dengan poin-poin lain yang jauh lebih penting daripada sampah? Bisa-bisa, anak-anak akan mengalami gegar budaya setelah mendapati bahwa pelajaran di sekolah tidak sejalan dengan kehidupan sehari-hari.

Jujur saja, dulu saya pun sering membuang sampah sembarangan. Waktu itu belum ada kesadaran untuk membuang sampah di tempat yang semestinya, yakni tempat sampah. Ketika itu saya juga berpikir, “ah, kan nanti ada juga yang bersihkan” atau “toh, memang ada orang yang digaji untuk membersihkan semua sampah-sampah ini” atau “ini kan cuma sampah kecil – tidak akan ada bedanya”. Lagipula, saya melihat kebanyakan orang di sekeliling saya juga melakukan hal yang sama. Malahan, kadang kita ditertawakan kalau berkeras tidak mau membuang sampah sembarangan. Jadi, menurut saya waktu itu, saya ini normal-normal saja membuang sampah sembarangan.

Lalu suatu ketika, saya mengunjungi suatu tempat yang sangat bersih. Di sana, (hampir) tidak ada orang yang membuat sampah sembarangan. Karena didenda? Mungkin. Tetapi, setelah saya amati, penduduk yang “bersih” itu, meskipun nantinya berkunjung ke tempat di mana sampah bebas dibuang di mana saja, toh mereka tetap tidak membuang sampah sembarangan. Walaupun kadang sulit menjumpai tempat sampah, namun mereka mengantongi sampah mereka dan baru membuangnya ketika menemukan tempat sampah. Setelah makan di tempat umum, sisa-sisa/bekas bungkusan makanannya pun dikumpulkan dengan rapi dan dibuang ke tempat sampah terdekat. Padahal, banyak petugas kebersihan yang memang dipekerjakan untuk membersihkan di sana. Ketika hal ini saya tanyakan, mereka cuma menjawab, “Nanti kotor – kita kan harus menjaga kebersihan. Lagipula, tidak ada salahnya meringankan beban kerja orang lain. Toh itu kan sampah kita juga.”

litter

Jadi, saya simpulkan, memang mentalnya yang berbeda. Ada orang yang membuang sampah seenak hati karena menganggap bahwa sampah itu bukan urusan mereka. Ada orang yang membuang sampah pada tempatnya karena takut didenda. Namun, ada juga orang yang membuang sampah pada tempatnya karena mereka memang tidak ingin mengotori lingkungan sekitar. Mungkin kita berpikir, “Ngapain repot-repot cari tempat sampah, toh memang ada cleaning service yang digaji untuk bersih-bersih. Saya kan bayar pajak ke pemerintah supaya mereka bisa menggaji orang untuk membersihkan sampah di jalanan.” Jadilah kita membuang sampah seenaknya. Padahal, tidak sulit kan membuang sampah di tempatnya. Padahal, kan sudah diajar sejak kecil untuk “membuang sampah pada tempatnya”. Padahal, itu kan sampah kita sendiri, sisa-sisa kita, bekas-bekas kita. Kenapa cuma mau menikmati tanpa mau bertanggung jawab? 🙂

Sejak saat itu, saya mulai membiasakan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Saya membiasakan untuk mengantongi dulu sampah saya kalau belum menemukan tempat sampah. Saya membiasakan untuk membawa-bawa kantung plastik kresek dalam tas saya, untuk menaruh sampah saya seandainya di tempat tertentu tidak ada tempat sampah. Saya membiasakan untuk membereskan sisa-sisa/bungkusan makanan saya jika saya makan di tempat umum. Saya membiasakan untuk mengumpulkan bekas-bekas makanan dan minuman saya ketika saya nonton di bioskop, dan kemudian membuangnya di tempat sampah. Seperti slogan yang pernah saya jumpai di sebuah WC umum, “Jangan tinggalkan jejak bahwa Anda pernah berada di sini.” Iya; jangan tinggalkan jejak alias sampah Anda di tempat manapun yang pernah Anda singgahi. Meskipun ada petugas kebersihan. Meskipun tidak ada ancaman denda untuk membuang sampah sembarangan. Meskipun tidak akan ada yang peduli kalau saya membuang sampah sembarangan. Seringkali, saya sampai memarahi teman saya kalau saya melihat mereka membuang sampah sembarangan. Kadang, sampah-sampah mereka saya kumpulkan dan simpan dulu untuk kemudian saya buang ke tempat sampah kalau mereka beralasan “di sini tidak ada tempat sampah” dan tidak mau mengantongi sampahnya sendiri. 😀 Ujung-ujungnya, mereka jadinya tidak pernah buang sampah sembarangan kalau ada saya. Senang? Senang dong. 😀

Teman-teman, membuang sampah pada tempatnya bukanlah suatu kewajiban, bukan pula suatu hak. Membuang sampah pada tempatnya adalah suatu kesadaran (kalau tidak mau disebut tanggung jawab), dan untuk mencapai kesadaran itu, dibutuhkan suatu proses. Ada yang perlu diancam, ada pula yang sadar sendiri. Ada juga yang meskipun sudah diancam tapi tidak sadar-sadar. 😀 Saya jadi ingat dulu pernah menyaksikan seorang ibu-ibu yang melarang anaknya yang masih kecil. Ketika anaknya berlari-lari, si ibu melarang, “Jangan ke sana, nanti ada setan.” Ketika anaknya ingin memanjat-manjat kursi, si ibu melarang, “Jangan manjat-manjat, nanti ada setan.” Jadi, setiap kali si anak melakukan hal yang tidak diperbolehkan ibunya, sang ibu selalu mengancam dengan “nanti ada setan” agar anaknya takut dan patuh, tanpa pernah menjelaskan alasan yang masuk akal mengapa ia melarang anaknya berbuat demikian. Saya berharap, mudah-mudahan kita bukan termasuk orang yang perlu ditakut-takuti dengan hal-hal yang di luar pemahaman manusia supaya bisa menjadi orang yang “sadar”, sebab sebaik-baiknya orang yang sadar adalah mereka yang sadar karena memang memahami dan bukannya sekadar percaya buta atau karena ditakut-takuti. 🙂

14405404-do-not-litter-sign

Advertisements

One thought on “Curhatan (Tentang) Sampah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s