(Hanya) Sepenggal Tulisan Yang Tak Relevan


Ketika kita sanggup untuk berhenti menyamaratakan semua orang, saat itulah kita sanggup untuk berhenti menghakimi, dan ketika kita mampu untuk berhenti memaksakan standar kita untuk orang lain, saat itulah kita mampu untuk membuka pikiran dan memandang segala sesuatunya dengan bijak. Ketika kita memahami bahwa tidak semua orang adalah sama, dan oleh karenanya setiap orang berhak untuk memiliki standar moral dan persepsinya masing-masing, saat itulah kita mampu untuk mengakui dengan rendah hati, “Mungkin saya yang keliru.” Dan ketika kita akhirnya sadar bahwa setiap orang memiliki peluang yang sama untuk menjadi pihak yang benar dan pihak yang keliru, saat itulah kita menyadari betapa beberapa perdebatan sebenarnya takkan berujung, dan betapa beberapa perbedaan sebenarnya tak perlu dipermasalahkan, dan betapa tidak berartinya ternyata beberapa hal yang telah membuat kita saling membenci satu sama lain.

Orang bijak berkata, “Dunia ini adalah panggung sandiwara.” Jika kita menghabiskan seluruh hidup kita sebagai sang pelakon semata, kita hanya akan mampu untuk memandang kehidupan dari satu sudut pandang, yakni sudut pandang tokoh yang kita perankan. Bukankah sebaiknya kita menyisihkan waktu untuk menjadi penonton sebentar, agar dapat memandang keseluruhan drama tersebut dari sudut pandang orang luar yang objektif? Namun, bagaimana mungkin kita berhenti sejenak dari memainkan peranan kita di atas panggung, kalau kita sendiri belum menyadari bahwa semua itu hanyalah potongan adegan belaka? Bagaimana mungkin kita melepas topeng sandiwara yang selama ini kita kenakan dan membiarkan diri bernapas sejenak, kalau kita sendiri belum menyadari bahwa kita sedang mengenakannya?

Betapa nikmatnya (sesekali) hanya menjadi penonton. Ketika kita menjauhkan diri dari panggung dan hanya mengamati tanpa menghakimi, seringkali kita akan memandang kehidupan sebagai kumpulan adegan komedi yang menggelitik rasa humor. Ketika kita menanggalkan topeng dan menghapus segala stigma yang terlanjur terbentuk, kita akan memahami betapa pincangnya penilaian kita. Di sisi lain, orang-orang yang larut dalam sandiwara yang diperankannya, akan tenggelam dalam lakonnya dan melupakan bahwa sebenarnya mereka bisa saja berhenti kapanpun mereka mau. Mereka tidak ingat kapan mereka mulai, dan mereka tidak tahu bagaimana untuk berhenti. Ketika akhirnya kita bosan menjadi penonton dan memutuskan bahwa peranan kita dibutuhkan dalam adegan yang sedang berlangsung, kita bisa saja naik kembali dan bergabung demi kelancaran pertunjukan.

Apakah itu terkesan munafik? Menurut saya tidak. Hal itu hanya berarti kita menyadari bahwa setiap orang bisa berubah sesuai dengan peranan yang dituntut oleh masyarakat. Selain itu, menyadari bahwa semua itu hanyalah sandiwara belaka juga berarti kita menyadari bahwa kita tidak harus selalu menjadi apa yang diinginkan oleh masyarakat. Kita bukanlah apa yang didefinisikan oleh masyarakat. Jangan menyia-nyiakan akal dan pikiran kita untuk didefinisikan oleh orang lain. Hanya karena masyarakat berkata demikian, tidak berarti kita harus kehilangan identitas diri yang sejati. Kita sebagai penonton adalah kita yang sebenarnya, tanpa topeng maupun ilusi. Kita sebagai pelakon adalah peran yang dipilihkan oleh masyarakat untuk kita. Kadangkala kita perlu memainkan beberapa peranan untuk mencapai tujuan bersama dalam masyarakat, namun jangan sampai dalam proses untuk mencapai tujuan bersama itu, kita justru kehilangan diri kita yang sejati, yakni sang penonton yang antusias dan mandiri.

Akhirnya, ketika kita akhirnya menyadari bahwa hidup ini hanyalah panggung sandiwara, masih pentingkah kita menciptakan suatu standar moral yang hanya berdasar kebenaran pribadi maupun kelompok? Ketika kita akhirnya menyadari bahwa pada suatu titik, seluruh adegan di atas panggung ini akan berakhir dan semua aktor serta aktris panggung terpaksa harus menanggalkan topengnya dan kembali ke belakang layar, masih layakkah kita menghakimi orang lain hanya berdasar lakonnya yang hanya sepenggal? Sebab kita semua tahu, setelah seluruh pemain sandiwara berjejer rapi dan membungkuk ke arah penonton, kita akan memberi tepuk tangan bagi orang di balik topeng itu, dan bukan bagi tokoh yang diperankannya.

La vie est une tragédie pour celui qui sent, et une comédie pour celui qui pense.
Life is a tragedy for those who feel, and a comedy for those who think.
– Jean de La Bruyère

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s