Sepotong Kisah Tentang Jay dan Kay


Hi, Jay,”

Hi, Kay,”

“Maaf, aku terlambat.”

“Tidak apa-apa. Apa yang ingin kau obrolkan hari ini?”

“Entahlah. Aku tidak pernah merencanakan apa yang ingin aku obrolkan. Denganmu, segalanya mengalir begitu saja seperti air. Bahkan keheningan yang terkadang kita lewati bersama pun, tidak pernah menggangguku.”

“Aku senang mendengarnya. Hidup ini sudah cukup rumit untuk diisi dengan pikiran-pikiran mengenai topik pembicaraan yang harus kita rencanakan.”

“Kau benar. Dan karena itulah aku senang mengobrol denganmu.”

You’re welcome, Kay,”

“Kau tahu, Jay? We fall in love with those who are not scared to bare their soul. Kita jatuh cinta pada orang-orang yang tidak takut mengekspresikan jiwanya. Mungkin sebenarnya kita cuma iri, dan dengan mencintai mereka, kita berharap dapat tertular sedikit kebebasan dan ketidakpedulian itu. Sebab bukankah itu adalah pencapaian tertinggi dalam hidup seseorang? Bisa memamerkan jiwa telanjang mereka tanpa peduli akan ditolak oleh orang lain, dan tetap bahagia karenanya?”

“Mungkin, Kay, mungkin. Tetapi tidakkah kau berpikir bahwa dengan memutuskan untuk mencintai seseorang, kau juga telah membuka jiwamu pada dunia luar? Dengan memutuskan untuk mencintai seseorang, kau menanggung beban penolakan dan pengabaian dari orang-orang di sekitarmu, termasuk dari orang yang kau jadikan objek cinta itu sendiri. Ah – lucu ya?”

“Cinta itu bukan objek, Jay. Cinta itu subjek. Cinta yang masih berupa objek tidak layak disebut cinta.”

“Kukira, orang yang sedang jatuh cinta takkan terlalu peduli apakah cinta itu objek atau subjek, Kay.”

“Ngomong-ngomong, Jay, apa kau tahu? Dulu aku pernah diramal akan menikah dengan seorang pengusaha bisnis kaya pada umur tiga puluh lima tahun, kemudian kami akan punya empat orang anak yang baik dan masa depan yang cerah.”

“Hmm, lalu?”

“Memangnya aku kelihatan seperti istri seorang pengusaha bisnis yang punya empat orang anak? Hei, mengapa kau tertawa?”

“Maaf, aku cuma tidak bisa membayangkan diriku sebagai seorang pengusaha bisnis kaya yang punya empat orang anak. Ah, sekarang kau yang tertawa. Apa itu lucu?”

“Soalnya aku juga tidak bisa membayangkan kau sebagai seorang pengusaha bisnis kaya yang punya empat orang anak. Jay, apa kau pernah berpikir, betapa kita manusia selalu menginginkan apa yang tidak kita miliki? Ketika kita tidak punya pekerjaan dan memerlukan uang, kita berkata, ‘Berikan kepadaku pekerjaan apa saja yang bisa menghasilkan uang, dan aku akan mengerjakannya apapun taruhannya,’ Kemudian setelah kita bekerja mati-matian dan mengumpulkan segala harta yang pernah kita idam-idamkan dulu, kita melirik mereka yang tidak sekaya kita dan tidak sesibuk kita, kemudian bergumam, ‘Ah, seandainya aku bisa memiliki waktu luang sebanyak mereka; akan kubayar berapapun untuk bisa memilikinya,’”

“Itulah tragedi kehidupan, Kay tersayang. Kita selalu mengejar garis finish, padahal tidak seorang pun tahu di mana garis finish itu berada, dan pada akhirnya, kita lupa bahwa yang terpenting adalah menikmati setiap langkah kaki yang kita ayunkan di medan pertempuran.”

“Kalau begitu, tidak bolehkah orang bermimpi?”

“Tentu saja boleh. Tanpa bermimpi, kita tidak akan pernah membuat rencana untuk masa depan. Tanpa bermimpi, kita tidak akan punya cita-cita. Dan tanpa bermimpi, kita tidak akan pernah berusaha bangkit untuk meraih mimpi itu.”

“Apa cita-citamu, Jay?”

“Aku? Kurasa aku menginginkan perdamaian dunia, di mana semua orang berbahagia dengan kehidupannya masing-masing.”

“Hanya itu, Jay? Tidak ada kata-kata ‘hidup sukses’ atau ‘hidup berbahagia bersama dengan orang yang kau cintai dan memiliki masa depan yang cerah’?”

“Bukankah di dalam dunia yang aku angan-angankan, sudah meliputi itu semua?”

“Ah – kau curang. Harapanmu itu terlalu mulia, Jay. Belajarlah bersikap egois sedikit.”

“Aku sudah bersikap egois ketika aku memutuskan untuk menikahi wanita yang aku cintai – bukankah begitu?”

“Oh?”

“Sebab ketika aku memintanya untuk menikah denganku, aku memintanya untuk meninggalkan dunia yang ditempatinya seorang diri, untuk selanjutnya berbagi dunia yang sama denganku.”

“Tapi mungkin saja wanita itu sama sekali tidak berkeberatan untuk meninggalkan dunianya yang sepi untuk kemudian berbagi dunia denganmu, sebab mungkin berbagi dunia denganmu adalah hal yang paling membahagiakan sepanjang hidupnya, dan ia takkan pernah menyesali keputusannya untuk menerima lamaranmu. Jadi, menurutku kau tidak egois. Lagipula, toh ia selalu bisa menolakmu kalau memang ia mau.”

“Oh baguslah; aku senang mendengarnya. Ngomong-ngomong, bagaimana denganmu, Kay? Apa cita-citamu?”

“Hmm…. Mungkin aku ingin menghabiskan setiap hari dalam hidupku bersama dengan orang-orang yang aku sayangi, melewatkan waktu bersama mereka, kadang tertawa, kadang menangis, tetapi toh aku takkan pernah sendiri.”

“Hanya itu?”

“Hanya itu. Aku tidak ingin memiliki cita-cita yang terlalu tinggi, lalu kemudian menyesalinya jika di kemudian hari cita-cita itu tidak dapat kupenuhi.”

“Ah, Kay – adakah hidup yang tidak pernah mengalami penyesalan?”

“Aku tidak tahu, Jay. Mungkin tidak ada, tetapi siapa yang tahu?”

“Memang tidak ada, Kay. Setiap orang pasti pernah kecewa. Setiap orang pasti pernah mengalami beberapa penyesalan dalam hidupnya. Tetapi bukahkan justru melalui penyesalan itulah kita belajar untuk memperbaiki diri sendiri agar tidak mengulang kesalahan yang sama di kemudian hari? Jangan takut bermimpi, Kay. Jangan takut bermimpi, asalkan kau tetap ingat untuk bangun dan mengejar mimpimu.”

“Jay, kau seharusnya menjadi seorang filsuf saja. Akan banyak orang yang tercerahkan setelah mendengar ucapan-ucapanmu barusan.”

“Yah, mungkin aku memang lebih cocok menjadi seorang filsuf ketimbang seorang pengusaha bisnis kaya.”

 

“Kau bahagia, Jay? Dengan hidupmu sekarang?”

“Aku bahagia, Kay. Meskipun ada beberapa penyesalan tertentu dalam hidupku, seperti misalnya mengapa aku memasang taruhan tertentu pada klub sepakbola tertentu, namun semua itu tidaklah sebanding dengan kebahagiaan yang kurasakan karena bisa berbagi dunia dengan wanita yang kucintai.”

“Baguslah. Meskipun kuharap kau tidak akan terlalu sering bertaruh lagi.”

“Bagaimana denganmu, Kay? Apakah kau bahagia dengan hidupmu sekarang?”

“Ya, Jay, aku bahagia. Meskipun dunia yang kubagi bersama pria yang kucintai tidak selamanya sempurna, tetapi aku bahagia karena mengetahui bahwa ia akan selalu ada di sana, menemaniku mengarungi kehidupan yang luas ini, dan mengetahui bahwa segalanya akan baik-baik saja selama kami saling memiliki.”

“Terima kasih, Kay.”

“Sama-sama. Kalau begitu, apakah kita memang berjodoh?”

“Aku tidak percaya jodoh, Kay. Aku menolak percaya bahwa kita terlahir dengan jodoh kita masing-masing, dan bahwa kita takkan bahagia hingga bisa bersama dengan orang tertentu yang memang ditakdirkan untuk kita.”

“Kalau begitu apa yang kau percayai, Jay?”

“Aku percaya bahwa kitalah yang menentukan kebahagiaan kita sendiri. Cinta itu bukan jodoh, atau takdir, atau nasib. Cinta itu pilihan. Ketika kau memilih untuk mencintai seseorang, maka kau akan melakukan segala hal untuk membuat kalian berdua bersatu. Persetan dengan jodoh dan ramalan. Jika kau memang mencintai seseorang, kau akan membuat segalanya mungkin selama kalian saling mencintai.”

“Jay, kalau kau tidak mau menjadi seorang filsuf, kau juga bisa menjadi seorang penyair.”

“Terima kasih, Kay. Akan kupertimbangkan. Dan mungkin aku akan menyediakan satu buku kumpulan syair untukmu yang kutandatangani sendiri.”

“Bonus foto bersama?”

“Bonus foto bersama.”

“Akan kutagih nanti.”

“Dengan senang hati.”

 

“Jay, aku lelah. Mungkin kita harus melanjutkan obrolan ini di kemudian hari?”

“Tentu, Kay, tentu. Asalkan kau tidak membuang-buang waktumu untuk merancang topik pembicaraan kita selanjutnya, sebab kita berdua tahu bahwa itu akan sia-sia. Pembicaraan antara kita berdua bukanlah suatu hal yang patut dicemaskan, sebab kita akan selalu menemukan suatu topik yang menghubungkan jiwa kita berdua, bahkan dalam keheningan sekalipun.”

“Kalau begitu, apa yang harus kupikirkan, Jay?”

“Pikirkanlah tentang mimpi-mimpimu, dan bangkitlah untuk mengejar mereka, karena kau tahu aku akan selalu ada di sana untuk menemanimu berlari.”

“Akan kulakukan.”

“Sampai jumpa, Kay.”

“Sampai jumpa, Jay.”

 

***

 

Seorang lelaki tua keluar dari salah satu ruangan. Rambutnya yang telah putih serta bahunya yang mulai membungkuk tidak mampu meredam semangat yang memancar dari wajahnya yang keriput. Seorang anak laki-laki kecil berlari menghampirinya dan berseru, “Kakek! Bagaimana keadaan nenek?”

Si pria tua terkekeh, kemudian membungkuk untuk menggendong cucunya dan menjawab, “Seperti biasa, nenekmu tetap cantik dan cerewet.”

“Bolehkah aku melihatnya?”

“Bagaimana kalau besok saja, Sayang? Nenek sedang beristirahat sekarang, dan kau pun perlu pulang untuk ganti baju. Besok, setelah memakai pakaian paling rapi yang kita berdua miliki, barulah kita pergi menjenguk nenekmu lagi.”

“Hmm…. Baiklah kalau begitu. Besok kakek ke sini lagi?”

“Tentu saya, Sayang, tentu saja. Kakek akan ke sini besok, lusa, dan setiap hari pada hari-hari berikutnya, dan tentu saja kau boleh menemani kakek kapanpun kau mau.”

Si anak laki-laki tersenyum lebar, kemudian merangkul leher kakeknya yang juga tersenyum lebar. Kemudian, mereka, dua orang laki-laki yang tidak terpisahkan oleh perbedaan usia, berjalan keluar dengan langkah-langkah yang ringan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s