Laporan Minoritas


For the English translation, please visit Minority Report.

Pernyataan: Artikel ini tidak ada hubungannya dengan film berjudul serupa.

012c60d1e053bc90fdf25180c4a23a750a1b969b05

Di Indonesia, saya termasuk golongan minoritas, baik dari aspek suku maupun agama. Kehidupan bagi kaum minoritas di semua tempat saya kira tidaklah jauh berbeda. Terlepas dari adil atau tidak adilnya, tentu akan ada perbedaan antara golongan mayoritas dan minoritas, sebab jika tidak demikian, tidaklah mungkin keduanya dibagi ke dalam dua kategori yang terpisah.

Dalam kasus saya, saya adalah minoritas namun saya memahami bahasa daerah setempat, dan saya kadangkala mendapati kejadian-kejadian lucu di sekitar saya. Contohnya, saat sedang berada di atas angkot, saya seringkali “tidak sengaja mendengar” pembicaraan penumpang lain yang karena menyangka saya tidak memahami bahasa mereka, lalu dengan santainya berdiskusi mengenai salah satu suku atau agama atau ras atau golongan, dan tidak jarang yang digosipkan adalah suku atau agama atau ras atau golongan saya.

Jika hal seperti itu terjadi, maka saya selalu hanya memasang tampang polos dan tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa saya mengerti isi pembicaraan mereka, supaya mereka tidak berhenti bercerita dan saya bisa mendengarkan lebih banyak. Mengapa? Sebab saya selalu tertarik untuk mengetahui tentang pandangan dan pendapat orang lain mengenai suatu masalah.

Tahukah Anda, dari sekian banyak cerita-cerita tersebut, terlepas dari apakah konotasinya positif atau negatif, saya berpendapat bahwa kebanyakan di antaranya adalah benar, atau setidaknya sesuai dengan pengalaman saya sehari-hari, dan sejujurnya menurut saya ini lucu sekali. Selain itu, cerita-cerita tersebut tidak selamanya bersifat menjelek-jelekkan – kadang ada pula cerita yang memuji atau mengakui kelebihan salah satu suku, agama, ras, dan (antar)golongan (SARA) yang bukan merupakan kaumnya. Padahal, kalau mau dipikir-pikir, kan mereka tidak tahu bahwa saya, yang notabene adalah orang luar, mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Jadi, kemungkinan besar itu adalah hal-hal jujur yang diungkapkan hanya dengan maksud melampiaskan unek-unek maupun berbagi pengalaman.

Saya hampir tidak pernah tersinggung mendengar cerita-cerita seperti itu, meskipun yang disinggung adalah SARA saya. Saya memahami bahwa ada stigma-stigma tertentu yang melekat pada tiap-tiap SARA, dan saya menyadari bahwa terbentuknya stigma-stigma demikian tentunya memiliki dasar kebenaran sekecil apapun. Saya tidak memandang pemberian label terhadap suatu kelompok tertentu sebagai hinaan maupun pujian, melainkan hanya proses generalisasi/karakterisasi yang sifatnya subjektif, namun tetap mengandung setitik kebenaran yang dilandaskan pada kenyataan hidup sehari-hari.

Haruskah kita marah jika kelompok kita diberi stigma yang berbau negatif? Atau, pantaskah kita berbesar kepala jika kelompok kita diberi stigma yang berbau positif? Padahal bukankah kita sendiri termasuk orang-orang yang turut berperan dalam membantu terwujudnya pelabelan tersebut, baik berdasarkan tingkah laku kita yang mencerminkan citra kelompok tertentu, maupun sebagai orang luar yang menempelkan label pada kelompok lain?

Saya belajar untuk memisahkan antara identitas saya sebagai pribadi dengan identitas saya sebagai anggota suatu suku, agama, ras, maupun golongan. Saya belajar bahwa hanya karena merupakan bagian dari salah satu SARA, tidak berarti bahwa kita mesti selalu mengikuti cara/sudut pandang, pemikiran, maupun sikap dan perbuatan dari SARA tersebut, lalu kemudian mengabaikan cara/sudut pandang, pemikiran, maupun sikap dan perbuatan kita sebagai seorang individu.

Jika saya terlalu meleburkan kedua identitas tersebut, maka saya yakin bahwa saya akan menjadi fanatik dan reaktif terhadap apapun yang dilemparkan masyarakat terhadap SARA saya, alih-alih bersikap responsif. Jika ada yang memuji-muji kelompok saya, saya pasti akan langsung menelannya bulat-bulat tanpa mengecek dasar kebenaran pujian tersebut, kemudian saya menjadi sombong dan berkata, “Nah, lihat kan, memang cuma (kelompok) saya yang terbaik di antara semuanya.” Sebaliknya, jika ada yang mencela kelompok saya, saya akan langsung marah dan tanpa mengecek kebenaran berita itu, akan langsung mengklaim, “(Kelompok) saya tidak begitu; itu pasti kamu yang salah menilai.”

Sebenarnya, menyenangkan sekali kalau sesekali kita bisa membebaskan diri dan memandang suatu masalah dari sudut pandang yang berlawanan, tanpa adanya cap sebagai “pengkhianat kelompok”. Jika ada yang menyodorkan cermin dan menunjukkan kejelekan kita, menutup mata dan menghancurkan cermin tersebut tidak akan membuat kita bertambah cantik. Yang sebaiknya kita lakukan adalah mengucapkan terima kasih, menerima cermin tersebut dan mengamati kekurangan-kekurangan apa yang ada di sana, lalu kemudian mencari cara untuk memperbaiki kekurangan tersebut. Akan tetapi, hal ini tentunya memerlukan keberanian serta kontrol diri – dan tidak semua orang memiliki keduanya.

Selama ini, saya merasa bahwa kebanyakan orang menerapkan prinsip yang keliru dalam memandang perbedaan. Umumnya orang menutup mata terhadap perbedaan dan berkata, “Meskipun kita berbeda, namun tetap sama sebagai manusia.” Menurut saya, sikap seperti ini terkesan mengingkari/menyangkal adanya perbedaan dan berkeras seakan-akan perbedaan itu tidaklah ada. Namun, dalam kenyataannya, mereka memperlakukan orang-orang dari kelompok yang berbeda dengan cara yang berbeda. Bagi saya, mungkin lebih rasional jika kita mengakui adanya perbedaan, namun tidak menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk membeda-bedakan perlakuan kita terhadap setiap orang. Ketimbang “menganggap perbedaan sebagai hal yang tidak penting namun memperlakukan orang lain secara berbeda”, lebih baik “mengakui adanya perbedaan namun tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk mendiskriminasi seseorang”.

Menurut saya pribadi, perbedaan SARA tidaklah pantas dijadikan dasar untuk menilai seseorang. Hanya karena kelompoknya dilabeli stigma tertentu, tidak selamanya berarti individunya pun demikian. Saya lebih memilih untuk menilai seseorang berdasarkan karakter, kepribadian, pola pikir, wawasan, mentalitas, dan cara pandang terhadap kehidupan, yang jelas-jelas merupakan pencapaian masing-masing pribadi, dan bukannya berdasarkan pengelompokan SARA yang jelas-jelas merupakan hasil dari pengkategorian semata. Toh, perbedaan itu memang ada, tapi tidak cukup penting untuk dapat mengacaukan kehendak bebas kita sebagai satu individu. Bukannya “Kita berbeda tapi tetap sama” melainkan “Kita memang berbeda dan itu tidaklah penting”, atau “Kita memang berbeda, lantas kenapa?”

Beberapa orang terlalu berkonsentrasi untuk mengabaikan perbedaan, sehingga secara tidak sadar mereka justru terfokus pada perbedaan itu sendiri. Sebaliknya, jika kita bersahabat dengan perbedaan, maka perbedaan akan berdamai dengan kita, dan saat itulah ia mulai menampakkan keindahannya. Seperti kata Maya Angelou, “Sudah saatnya para orangtua mengajarkan pada anak-anak mereka sejak dini bahwa di dalam keberagaman ada keindahan dan ada kekuatan.”

Menurut saya, menjadi mayoritas bukanlah sebuah kebanggaan; demikian pula halnya menjadi minoritas bukanlah sesuatu yang mengecilkan hati, sebab mayoritas dan minoritas adalah persoalan kuantitas semata, alih-alih kualitas. Menjadi mayoritas, atau menjadi bagian persentase yang lebih besar dalam sebuah komunitas, tidak serta-merta menjadikan Anda lebih benar atau lebih baik daripada kelompok minoritas alias bagian persentase yang lebih kecil. Kualitas sebuah kelompok, baik itu mayoritas maupun minoritas, lebih tergantung pada kualitas orang-orang di dalamnya, dan bukan kuantitas anggotanya. Oleh karena itu, kualitas suatu kelompok sangatlah berkorelasi dengan kualitas individunya, dan kita sebagai individu perlu untuk meningkatkan kualitas pribadi ketimbang mengambil jalur fanatisme kelompok. Kesombongan mayoritas hanya menandakan bahwa individu-individunya belum cukup bijaksana untuk memahami konsep dari mayoritas itu sendiri.

Saya tidak merasa menjadi minoritas merupakan suatu anugerah maupun kutukan, sebab saya menganggap mayoritas maupun minoritas sebagai hal yang lumrah dalam hidup bermasyarakat, alih-alih sebagai pihak yang “berkuasa” ataupun “terkucilkan”. Saya pernah menjadi mayoritas dan minoritas dalam kelompok yang berbeda, dan saya belajar bahwa label-label yang diberikan masyarakat tidaklah layak untuk membuat saya melepaskan identitas saya sebagai suatu pribadi yang bebas tanpa adanya embel-embel kelompok. Jika Anda pernah menjadi mayoritas dan minoritas, Anda akan mendapati bahwa perbedaan itu memang nyata adanya, tetapi untuk menilai seseorang hanya berdasarkan stigma kelompoknya, adalah sungguh kerdil.

Di sinilah toleransi memainkan peranan yang vital dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Toleransi bukanlah berusaha menyatukan semua perbedaan, melainkan menghargai keberagaman dan mengupayakan agar perbedaan itu tidak mengganggu kehidupan sehari-hari. Toleransi adalah mengakui bahwa setiap orang berhak untuk berbeda, dan tidak menghakimi mereka karenanya. Toleransi adalah berhenti membatasi dan mengatur kebebasan setiap orang untuk menentukan pilihannya masing-masing.

Saya berharap akan ada masanya kelak di mana orang-orang di seluruh dunia tidak memperdebatkan lagi mengenai perbedaan, sebab perdebatan mengenai perbedaan adalah suatu perdebatan yang takkan berujung dan tak dapat dimenangkan. Perbedaan itu ada bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk diterima dan dihargai. Dan sekali lagi, meskipun dalam tulisan ini saya hanya mencantumkan mengenai perbedaan SARA, namun saya sungguh merasa bahwa persamaan perlakuan untuk tiap kelompok haruslah disetarakan bukan hanya dari segi suku, agama, ras, dan golongan, tetapi juga dalam hal-hal lain seperti jenis kelamin, umur, kondisi fisik, status sosial, pekerjaan, preferensi seksual, dan lain-lain.

Saya meyakini bahwa unsur-unsur suku, agama, ras, golongan, jenis kelamin, umur, kondisi fisik, status sosial, pekerjaan, preferensi seksual, dan lain-lain tidak mengandung nilai benar atau salah, baik atau buruk, dan oleh karenanya tidaklah pantas untuk diperdebatkan ataupun dihakimi. Ketika kita memahami bahwa perbedaan adalah apa yang menjadikan diri kita unik, maka mungkin kita bisa berhenti mempermasalahkan perbedaan dan mulai menikmati keberagaman.

Akhir kata, janganlah membiarkan perbedaan fisik, psikis, maupun sosial mengecilkan nilai diri kita sebagai manusia, sebab sebelum kita menjadi bagian dari sebuah komunitas yang didasarkan atas pengkategorian superfisial, toh pertama-tama kita adalah individu-individu yang berbeda-beda juga – dan sebaik-baiknya individu adalah mereka yang mampu bersikap adil tanpa harus menghakimi.

“Mereka yang masih gemar meributkan perbedaan dan mendiskriminasi adalah mereka yang belum mengenal luasnya dunia.”
“Those who still like to fuss about differences and discriminate are those who have not seen the extent of the world.”

“Ujian keberanian adalah ketika kita menjadi bagian dari minoritas. Ujian toleransi adalah ketika kita menjadi bagian dari mayoritas.” – Ralph W. Sockman
“The test of courage comes when we are in the minority. The test of tolerance comes when we are in the majority.” – Ralph W. Sockman

“Jika sebuah negara tidak menghargai hak-hak minoritas dan hak-hak asasi manusia, termasuk hak-hak perempuan, maka negara tersebut tidak akan mungkin memperoleh stabilitas dan kemakmuran.” – Hillary Clinton
“If a country doesn’t recognize minority rights and human rights, including women’s rights, you will not have the kind of stability and prosperity that is possible.” – Hillary Clinton

“Kapanpun Anda merasa menjadi bagian dari suatu mayoritas, itulah saatnya untuk berhenti dan merenung sejenak.” – Mark Twain
“Whenever you find yourself on the side of the majority, it is time to pause and reflect.” – Mark Twain

01bacbd0e2b0a9b950348d5272593ca6f49f8207cd

Advertisements

3 thoughts on “Laporan Minoritas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s