Dari Kay Untuk Jay


“Mengapa orang menikah, Jay? Bagaimana mereka tahu bahwa itulah saatnya untuk menikah dan mengikat janji sehidup semati dengan seseorang? Aku tahu mereka berkata waktu bisa menyembuhkan luka hati. Namun, semakin sering aku mencintai, semakin paham pula aku bahwa cinta itu bisa pudar. Ketika cinta luntur dan objek cinta kita berganti, kita lalu melihat ke belakang dan bertanya-tanya, mengapa dulu kita bisa jatuh cinta pada orang tersebut. Kita melihat ke masa depan dan bersyukur dulu tidak jadi menikah dengan orang yang salah.”

“Mengapa orang menikah, Jay? Bagaimana mereka tahu bahwa pernikahan kali ini adalah pernikahan yang tepat dengan orang yang tepat pada waktu yang tepat? Apakah mereka tidak takut mengulang kesalahan masa lalu? Apakah cinta sedemikian membutakannya sehingga mereka lupa bahwa mereka telah berkali-kali pernah patah hati, namun juga telah berkali-kali sembuh untuk kemudian dapat mencintai lagi? Dan jika luka hati bisa sembuh dan kita bisa mencintai seberapa kali pun yang kita inginkan, lantas mengapa menutup kesempatan itu dengan menikahi orang yang kita cintai pada suatu waktu?”

“Aku tidak bilang bahwa cinta itu palsu, Jay. Aku hanya mau bilang bahwa cinta itu tidak abadi, dan pernikahan pun demikian. Jika cinta hilang, bagaimana mereka mempertahankan pernikahan tanpa cinta itu? Apakah mereka terpaksa bertahan demi apa yang disebut harga diri dan tanggung jawab? Ataukah mereka membangun persahabatan platonik dan puas menghabiskan sisa hidupnya dengan semua itu?”

“Mengapa mesti bertahan jika tidak bahagia, Jay? Mengapa mesti bersikeras mempertahankan suatu ikatan jika ada kemungkinan kita masih bisa mencintai setelah terlepas dari ikatan itu? Mengapa tidak menerima hipotesis bahwa seseorang bisa saja membuat keputusan yang salah dalam hidupnya, dan bahwa kita senantiasa diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu? Pantaskah kita bersikukuh mengingkari kemungkinan untuk mengejar kebahagiaan lain hanya demi mempertahankan kehormatan suatu lembaga duniawi?”

“Jay, haruskah kita mencintai orang yang kita nikahi? Atau, haruskah kita menikahi orang yang kita cintai? Pada suatu titik, pada suatu masa, alangkah bahagianya apabila kedua orang itu adalah satu orang yang sama, sehingga kita bisa mencintai orang yang kita nikahi, dan menikahi orang yang kita cintai. Tapi bukankah tidak ada momen yang kekal? Manusia berubah. Bagaimana kita mencegah supaya satu orang itu tidak menjadi dua orang yang berbeda?”

“Jay, mencintai seseorang adalah upaya manusiawi setiap orang untuk kembali ke masa kanak-kanak. Sewaktu kita masih kecil, dipaksa makan sayur pun kita enggan, padahal sudah diberi tahu manfaat sayur itu apa. Kita lebih memilih permen, es krim, dan mi instan, meskipun kita selalu menjadi sakit tenggorokan setelahnya. Demikianlah kita mencintai seseorang, Jay. Kita mencintai dengan penuh kebebasan, tanpa mau mendengar nasihat orang lain, tanpa menakar pertimbangan baik-buruk, benar-salah. Mencintai seseorang tidak membuat kita menjadi tidak peduli terhadap segala rintangan dan konsekuensinya; mencintai seseorang hanya membuat kita menjadi tidak gentar terhadap segala rintangan dan konsekuensi itu.”

“Mencintai dan patah hati berulang-ulang tidak pernah membuat kita kapok, bukan, Jay? Mengapa? Karena kita tahu bahwa kita akan sembuh setelahnya. Dan karena kebahagiaan mencintai satu orang untuk suatu waktu itu terlalu indah untuk dilewatkan. Seperti layaknya anak-anak yang akan tetap memanjat kursi meskipun sudah pernah jatuh dari sana. Mereka menikmati itu. Demikian pula kita menikmati cinta, sebab mencintai adalah sebuah petualangan yang mengasyikkan untuk menemukan diri sendiri.”

“Cintailah aku seperti itu, Jay. Cintailah aku dengan bebas, karena kau tidak gentar dengan semua kemungkinan yang terjadi. Cintailah aku tanpa peduli apakah aku balas mencintaimu atau tidak, sebab cinta yang mengharap balasan adalah cinta yang sia-sia. Cintailah aku dengan sepenuh hatimu pada suatu masa dalam hidup kita, sebab aku pun akan demikian.”

“Aku akan mencintaimu dengan bebas, karena aku tidak gentar dengan semua kemungkinan yang terjadi. Aku akan mencintaimu tanpa peduli apakah kau balas mencintaiku atau tidak, sebab cinta yang mengharap balasan adalah cinta yang sia-sia. Aku akan mencintaimu dengan sepenuh hatiku pada suatu masa dalam hidup kita, sebab aku tahu kau pun akan demikian.”

“Dan jika kelak tiba saatnya cinta itu pudar dan menghilang, biarkanlah. Relakanlah. Lepaskanlah. Jika kita memutuskan untuk berhenti saling mencintai, belajarlah untuk hidup tanpa aku sebagaimana aku akan belajar untuk hidup tanpamu, sebab toh sebelum ini kita juga pernah hidup sendiri-sendiri, dan kita baik-baik saja. Jangan memaksakan cinta untuk kembali, sebab kita bukanlah budak cinta, dan cinta pun bukan budak kita. Bukankah tidak ada hal yang abadi? Demikian pula dengan cinta. Jika ia tinggal lama, berbahagialah. Namun jika ia hanya singgah sebentar, lantas kenapa? Tidak ada yang salah dengan cinta yang hanya sesaat. Jangan merasa bersalah jika kita kehilangan cinta, sebab cinta itu bebas; ia datang dan pergi sesuka hatinya, dan jika kita mengurungnya terlalu lama, ia akan lupa bagaimana caranya untuk terbang.”

“Cintailah aku dengan sepenuh hatimu, Jay. Untuk saat ini saja. Urusan kemarin, atau besok, atau sepuluh tahun dari sekarang, itu urusan nanti. Kita hanya bisa berharap bahwa dengan membebaskan cinta untuk datang dan pergi sesuka hatinya, ia akan senang kembali pada kita. Demikianlah seharusnya kita mencintai, Jay; dengan bebas, tanpa pamrih, dan tanpa dibayang-bayangiketakutan bahwa cinta itu akan berakhir – bukan karena cinta takkan pernah berakhir, melainkan karena kita tidak gentar meskipun ia nantinya akan berakhir juga.”

…And I don’t know why but with you I’d dance in a storm in my best dress, fearless.
– Taylor Swift, Fearless

“Love doesn’t make us careless; it makes us fearless, despite all the obstacles and consequences.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s