Melepaskan Ke-Aku-an


Salah satu hal yang sering saya renungkan sehubungan dengan agama formal saya ialah mengenai ke-aku-an. Katanya, sang Buddha menganjurkan kita untuk melepaskan ke-aku-an. Masalahnya, ke-aku-an itu apa? Apakah ke-aku-an itu berarti keberadaan “aku” sebagai manusia, ataukah kesadaran mengenai adanya “aku”? Apakah “aku” itu sekadar nama, atau lebih dari sekadar nama?

Meskipun William Shakespeare pernah menuliskan “What’s in a name?” dalam salah satu karyanya, namun saya kira konteksnya berbeda. Kebanyakan orang mengutip kata-kata orang lain tanpa menyertakan keterangan dalam konteks apa pernyataan tersebut dikeluarkan. Lalu, sehubungan dengan pernyataaan Shakespeare tadi, orang akan berkata bahwa nama tidaklah penting. Saya setuju. Sampai suatu titik, nama memang tidak terlalu penting, sebab “A rose by any other name would smell as sweet.” – namun saya memaknai perkataan Shakespeare tersebut sebagai suatu ironi terhadap “Montague” dan “Capulet”, alih-alih terhadap “Romeo” dan “Juliet”.

What’s in a name? That which we call a rose – by any other name would smell as sweet.
– William Shakespeare

Saya memilih untuk mengartikan “melepaskan ke-aku-an” sebagai “meminimalisasi ego”. Ego (sense of self) sendiri dibentuk dari sekumpulan data-data yang kita susun menjadi identitas personal. Masalahnya, sampai di mana kita membatasi identitas personal kita? Apakah sekadar nama, umur, dan jenis kelamin? Ataukah kita lebih menyukai ASL (age, sex, location) seperti halnya saat kita melakukan random chat dengan orang yang belum dikenal? Mungkin juga, kita menggunakan isi KTP sebagai pedoman untuk menyusun identitas personal. Atau lebih. Suami si anu, anak si itu, teman si ini, pendukung kelompok anu, anggota asosiasi ini, ikatan organisasi profesi itu, dan sebagainya.

Ego dibentuk oleh diri sendiri dengan pengaruh internal maupun eksternal, namun menurut saya, kita selalu bisa mengatur apa-apa saja yang kita pilih untuk menjadi identitas ego kita. Dengan melatih diri untuk mengontrol ego, barulah kita bisa meminimalisasinya.

Mungkin kita sudah sering mendengar apa yang disebut sebagai ego defense mechanism (mekanisme pertahanan ego), di mana pada tingkat bawah sadar kita melakukan suatu aksi mempertahankan diri (ego) terhadap stimuli yang dapat mengancam ego. Ketika kita menambahkan label-label pada diri kita dan menyatukannya dengan ego pribadi, maka akan semakin banyak beban yang harus dipikul.

Label-label maupun stigma-stigma yang seharusnya hanya menjadi identitas kolektif, kita leburkan ke dalam identitas personal kita, sehingga jika terdapat reaksi negatif terhadap hal-hal itu, kita akan bersikap reaktif (dan bukannya responsif) terhadap stimulus tersebut; sebab kita menganggap bahwa diri kita pribadi-lah (dan bukannya kelompok/identitas kolektif) yang diserang. Kita melakukan mekanisme pertahanan ego terhadap identitas kolektif yang terlanjur kita satukan dengan identitas pribadi kita.

Saya bukannya mengatakan bahwa identitas kolektif itu tidak penting. Identitas kolektif diperlukan untuk memberi kita suatu “sense of belonging”, di mana kita merupakan anggota dari suatu kelompok yang lebih besar. Pertanyaannya adalah sampai sejauh mana kita meleburkan identitas kolektif tersebut ke dalam identitas personal kita? Seandainya kita bisa pintar-pintar memisahkan antara identitas personal dan identitas kolektif, saya yakin kita akan menjadi jauh lebih bijaksana dan objektif dalam menyikapi berbagai persoalan, karena alih-alih menganggap semua reaksi negatif sebagai serangan personal terhadap pribadi kita, kita akan mampu melihat bahwa semua itu tak lebih dari penilaian dan kritikan masyarakat terhadap suatu kelompok/afiliasi yang, kebetulan kita adalah salah satu anggotanya. Saya ingin bertanya, memangnya tidak capek ya, mempertahankan sedemikian banyak hal yang sebenarnya tidak perlu-perlu amat dipertahankan dengan sebegitu membabi-butanya?

Seperti kata orang bijak “Barangsiapa yang mengikat, ia pulalah yang dapat melepaskan.” Semakin banyak kita membuat ikatan, semakin banyak pula ikatan yang harus kita lepaskan kelak. Kita menghabiskan hidup untuk membuat ikatan-ikatan antara diri kita dengan dunia luar, entah itu ikatan keluarga, pertemanan, pernikahan, ikatan dengan suku/agama/ras/golongan tertentu, dan sebagainya – kemudian menjadikan ikatan-ikatan tersebut sebagai identitas dari “aku”. Toh pada suatu titik dalam kehidupan kita, semua ikatan itu pun harus kita lepaskan, sebab tidak ada yang abadi di dunia ini, begitu pula dengan ikatan-ikatan. Ketika akhirnya semua ikatan itu terpaksa kita lepaskan, akankah esensi “aku” juga ikut hilang?

Mungkin inilah yang dimaksud Siddharta ketika ia (katanya) mengajarkan untuk melepaskan diri dari segala bentuk keterikatan. Dulu saya kira Siddharta mengarahkan kita kepada prinsip nihilisme. Mungkin saya salah. Mungkin, yang dimaksud dengan melepaskan keterikatan dan melepaskan ke-aku-an ialah untuk mengajak kita belajar memisahkan “diri” dari segala identitas personal maupun kolektif secara sukarela, sebelum kita akhirnya harus dipaksa untuk melepaskannya. Dengan meminimalisasi ego, akan timbul kerendahan hati dan objektivitas serta kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan. Dengan menjadi “aku” yang bebas dari pelabelan dan penempelan stigma, akan lebih mudah untuk memahami diri sendiri dan berdamai dengan dunia luar – sebab, bahkan konsep “aku” pun adalah sesuatu tidak kekal, dan pada suatu saat, toh kita harus melepaskannya juga.

“Sabbe sankhara anicca
Sabbe sankhara dukkha
Sabbe dhamma anatta

(All conditioned things are impermanent,
All conditioned things are suffering,
All things are without a self.)

…when one sees this with wisdom, one turns away from suffering.

– Dhammapada

“The anitya doctrine is, again, not quite the simple assertion that the world is impermanent, but rather that the more one grasps at the world, the more it changes.”
– Alan W. Watts

Advertisements

2 thoughts on “Melepaskan Ke-Aku-an

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s