Sebuah Teriakan untuk Perdamaian (dan Kemanusiaan) [A Cry for Peace (and Humanity)]


01cc404a17e54985b4d6a8a3d3bcbd1e61678bc507

 

Aku menolak untuk membenci orang-orang yang belum pernah kutemui
I refuse to hate people I have never met

Aku menolak untuk menghakimi orang-orang yang bahkan tak kukenal
I refuse to judge people I don’t even know

Aku menolak untuk menghukum anak-anak atas dosa yang dilakukan orangtua mereka
I refuse to punish children for the sins their parents did

Aku menolak untuk menistakan suatu kaum hanya karena sejarah menulis demikian
I refuse to condemn a population just because the history said so

Aku menolak untuk menagih utang darah pada generasi-generasi penerus
I refuse to demand from the descendants, the blood debt of their ancestors

Aku menolak untuk menyatakan perang terhadap manusia, sebab yang keliru adalah ideologi
I refuse to declare wars to humans, since it’s the ideology which is wrong

Aku menolak untuk menyebarkan isu-isu permusuhan atas nama persaudaraan
I refuse to spread hate issues for the sake of brotherhood

Aku menolak untuk mengabarkan berita-berita munafik demi kepentingan sepihak
I refuse to tell hypocritical rumors for a group’s benefit

 

Aku menolak untuk menjawab kebencian dengan kebencian
I refuse to answer hatred with hatred

Aku menolak untuk membalas amarah dengan amarah
I refuse to respond anger with anger

Aku menolak untuk memilih keadilan di atas pertumpahan darah
I refuse to choose justice resulting from bloodshed

Aku menolak untuk menerima perdamaian tanpa kebebasan
I refuse to accept peace without freedom

Aku menolak untuk berkata sebelum mendengarkan
I refuse to speak before listening

Aku menolak untuk bersaksi sebelum menyaksikan sendiri
I refuse to testify before seeing for myself

Aku menolak untuk bertindak sebelum berpikir secara bijaksana
I refuse to act before thinking wisely

Aku menolak untuk membunuh hati demi solidaritas fanatik
I refuse to kill conscience for a fanatic solidarity

 

Terlalu lama kita membenci dan dibenci karena apa yang bukan identitas kita
Too long we have hated and been hated for what we are not

Dan terlalu sering kita memuja dan dipuja karena apa yang juga bukan identitas kita
And too often we have praised and been praised also for what we are not

Terlalu banyak kita mencaci apa yang kita lihat dengan sebelah mata
Too much we scold what we only see with one eye

Dan terlalu enteng kita mengelu-elukan apa yang kita dengar dengan satu telinga
And too easily we admire what we only hear with one ear

Kita bukanlah sekadar seraut wajah di tengah keramaian
We are more than a face in the crowd

Kita bukanlah sekadar sebuah angka di dalam statistik
We are more than a number in the statistics

Aku manusia, kau manusia, dia manusia, kita manusia, kalian manusia, mereka manusia
I am human, you are human, he/she is human, we are humans, you all are humans, they are humans

Manusia yang kadang tidak menganggap manusia lain sebagai manusia
Humans who sometimes do not see other humans as humans.

 

Mengapa meneruskan lingkaran balas dendam dan membayar air mata dengan darah?
Why keep repeating the cycle of revenge, and paying tears with blood?

Mengapa tak memutus arus permusuhan dan mengganti keji dengan kasih?
Why not breaking the hostility, and replacing hatred with love?

Masih kurangkah kita belajar, bahwa pertempuran-pertempuran besar memang membuahkan kehormatan – namun pernahkah kita hitung berapa banyak nyawa yang ikut terbuang?
Have we not learnt yet, that the greatest wars result in honor – but have we noticed how many people have been killed?

Masih kurangkah kita pahami, bahwa pertempuran-pertempuran besar memang melahirkan pahlawan – namun lupakah kita akan mereka yang namanya tak pernah tertulis dalam buku sejarah?
Have we not understood yet, that the greatest wars make heroes – but have we forgotten those whose names will never be written in history?

Sebab apalah artinya kemenangan di medan tempur, apabila untuk memperolehnya kita harus mengorbankan hati nurani?
What’s in a victory in the battlefield, if we have to sacrifice our conscience in order to achieve it?

Apalah artinya kehormatan yang berasal dari kemenangan, apabila untuk memperolehnya kita harus menginjak-injak derajat kemanusiaan?
What’s in the honor of winning, if we have to step over humanity in order to get it?

Kepuasan semu yang berasal dari lunasnya dendam, akan selalu dihantui perasaan takut akan datangnya hari pembalasan
The fake pleasure from taking vengeance, will always be haunted by the fear of the judgment day

Kesombongan angkuh karena merasa diri paling benar, akan menutup mata hati dari kebenaran sejati
The cocky arrogance from thinking oneself is the only one who is right, will cloud the heart from the genuine truth

Barangkali kita lupa, bahwa setiap peperangan selalu menuntut korban dari kedua belah pihak
We might have forgotten, that every war requires victims from each sides

Barangkali kita juga lupa, bahwa di kedua belah pihak, kita tidak boleh menghakimi berdasarkan hitam dan putih semata
We might have also forgotten, that in both sides, we shall not judge them simply as black and white

Air mata dan darah takkan pernah berhenti mengalir jika senantiasa dibalas dengan air mata dan darah
Tears and blood will never stop being shed if they keep being avenged with tears and blood

Dan meskipun raga telah mati, namun dendam akan terus hidup selama ia tidak dihapus dari dalam sanubari
And even though the body dies, vengeance will keep on living as long as it hasn’t been removed from our heart

 

Mungkin sudah saatnya kita meletakkan senjata dan berhenti menebarkan permusuhan
Maybe it’s time to put down the weapons and stop spreading hostility

Mungkin sudah saatnya kita berhenti menyebarkan bibit-bibit kebencian dan merenung sejenak
Maybe it’s time to stop unleashing hatred and take a time to do some reflection

Mungkin sudah saatnya kita melepas amarah yang membutakan nurani, dan kemudian berhenti menghakimi mereka yang tak sepaham
Maybe it’s time to let go of the blinding anger and stop judging those who disagree with us

Mungkin sudah saatnya kita berhenti meneriakkan peperangan, dan mengulurkan tangan untuk menghapus air mata mereka yang terlanjur menjadi korban
Maybe it’s time to end the cries of war, and reach out a hand to wipe the tears from their crying eyes

Mungkin sudah saatnya kita membasuh luka-luka mereka yang mengucurkan darah, yang dulunya kita anggap sebagai musuh bebuyutan
Maybe it’s time to clean the bloody wounds, of those who we thought as enemies

Mungkin sudah saatnya kita menanggalkan jubah berdebu yang penuh dengan prasangka, untuk kemudian kembali berlaku sebagai manusia
Maybe it’s time to take off the veil of prejudice and start acting like humans

Mungkin sudah saatnya kita mengikhlaskan mereka yang telah pergi, agar tak perlu lagi tertumpah darah untuk memerahkan tanah yang kita pijak
Maybe it’s time to let go of the deceased, so that there will be no more blood to stain the ground

Mungkin sudah saatnya kita memaafkan sesama kita yang berseberangan, karena mungkin mereka pun belum memaafkan diri mereka sendiri
Maybe it’s time to forgive those who stand against us, because maybe they haven’t even forgiven themselves

Mungkin sudah saatnya kita mengambil cermin dan berkaca: sudah manusiakah kita?
Maybe it’s time to take a mirror and look into it: are we humans yet?

 

Aku tidak memihak salah satu kubu dalam peperangan
I do not pick side in wars

Bukan karena aku bijak, maupun karena aku seorang pengecut
Not because I am wise, nor I am a coward

Aku tidak memihak salah satu kubu dalam peperangan
I do not pick side in wars

Karena aku adalah manusia.
Simply because I am a human.

 

Mereka yang senantiasa mencari jalan keluar melalui peperangan takkan menemukan kedamaian di dalam sanubari.
Those who always seek for solution through wars will never find peace within.

 

“Perdamaian tidak dapat diwujudkan melalui kekerasan, melainkan hanya dapat dicapai melalui pemahaman.”
“Peace cannot be achieved through violence; it can only be attained through understanding.”
– Ralph Waldo Emerson

 

“Kelembutan (tanpa kekerasan) adalah ciri kekuatan; kekerasan adalah ciri keputusasaan dan kelemahan.”
“Non-violence is a sign of strength; violence is a sign of desperation and weakness.”
– Dalai Lama

Advertisements

6 thoughts on “Sebuah Teriakan untuk Perdamaian (dan Kemanusiaan) [A Cry for Peace (and Humanity)]

  1. bagus. saya setuju bahwa kita harus menyebarkan semangat perdamaian.
    tapi pada beberapa hal, menurutku ini masih naif.
    karna kata Dante di Inferno: “neraka diciptakan untuk orang-orang yang memilih netral di saat krisis moral”

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s