Solidaritas vs Objektivitas


lifes-dichotomy-8014Life’s Dichotomy” by Anjali Raj Yadav

.

Kita hidup dalam dunia yang mencintai dikotomi. Entah itu dikotomi baik vs jahat, benar vs salah, barat vs timur, normal vs aneh, kita vs mereka – sepertinya masyarakat dunia saat ini sangat menggemari pembagian “hitam” vs “putih” yang dibatasi dengan sebuah garis tebal yang haram hukumnya untuk dilanggar.

Kita dipaksa untuk memilih: hitam atau putih? Tidak boleh kedua-duanya, tidak boleh abu-abu. Pertanyaannya, apakah dunia sesederhana itu? Tentu tidak. Seiring dengan perkembangan peradaban manusia dan teknologi, kita tidak cocok lagi untuk menyederhanakan segala sesuatunya berdasarkan dikotomi hitam dan putih semata, sebab manusia itu subjektif – apa yang “hitam” bagi Anda belum tentu hitam bagi saya, dan apa yang “putih” bagi saya belum tentu putih bagi Anda.

Menyederhanakan persoalan dan membagi dunia menjadi hitam dan putih sama saja dengan malas berpikir dan enggan mengkaji persoalan yang ada. Berpikir “kalau bukan hitam, tentu putih” berarti menolak mengakui adanya kehadiran warna-warna lain bahkan selain abu-abu. Jika Anda mengklaim bahwa manusia lebih tinggi derajatnya dibandingkan makhluk hidup lain karena manusia diberi akal untuk berpikir, maka sayang sekali ketika kemudian anugerah kodrati itu Anda ingkari dengan menyederhanakan cara berpikir Anda ke dalam dikotomi hitam dan putih.

.

Saya ingin membahas lebih jauh mengenai salah satu dikotomi yang saya amati akhir-akhir ini, yakni solidaritas vs objektivitas. Apabila Anda termasuk dalam anggota suatu kelompok yang otomatis memberi Anda sebuah identitas kolektif, seberapa jauh Anda bisa menilai kelompok Anda secara objektif?

Seperti tulisan saya sebelumnya mengenai memisahkan antara identitas personal dengan identitas kolektif, bagi beberapa orang yang belum mampu memisahkan keduanya, bersikap objektif terhadap kelompok sendiri adalah sama dengan tidak solider. Padahal, menilai suatu kelompok secara objektif adalah penting bagi kemajuan kelompok itu sendiri pada khususnya dan keseluruhan masyarakat pada umumnya.

Akhir-akhir ini, jika kita bersikap kritis terhadap kelompok kita, rasa-rasanya selalu ada yang mencap, “Kenapa kamu begitu? Kok tidak solider? Kalau kamu solider harusnya kamu bela kelompokmu dong.” Prinsip “right or wrong my group” ini adalah prinsip yang menyesatkan. Pada saat kita mengkritik atau menunjukkan kekurangan kelompok kita dengan maksud agar kekurangan tersebut diperbaiki (sebab kita tentunya menginginkan yang terbaik bagi kelompok yang kita pilih untuk menjadi salah satu dari identitas kolektif kita), kita malah disebut “membuka aib” atau “pengkhianat”. Cara berpikir macam apa itu?

Prinsip semacam ini melarang kita untuk berpikir secara bebas dan objektif sebagai seorang individu yang memiliki kehendak bebas. Lantas, dengan kerangkeng pikiran seperti itu, mau dibawa ke mana masa depan bangsa ini? Menyinggung sedikit mengenai revolusi mental, sebagus dan semaju apapun revolusi mental “eksternal”-nya, namun kalau revolusi mental “internal”-nya belum maju-maju, ya sama saja bohong. Sebab sebaik-baiknya sebuah perubahan adalah perubahan yang dimulai dari diri sendiri.

Kembali ke masalah solidaritas vs objektivitas, menurut saya solidaritas yang sejati bukanlah membela membabi buta dengan prinsip “right or wrong my group” itu. Bagi saya, itu solidaritas yang menjerumuskan. Menurut saya, menilai secara objektif dari sudut pandang orang luar tidaklah melanggar solidaritas, sebagaimana halnya solidaritas tidaklah membatasi objektivitas. Janganlah kita mengerdilkan arti solidaritas dengan memaksanya tunduk di bawah pelabelan kelompok yang kaku. Ini bukan masalah “kalau objektif, ya tidak solider,” melainkan mengupayakan bagaimana agar solidaritas dan objektivitas itu tetap bisa berjalan berdampingan.

Kadangkala solidaritas membutakan penilaian kita terhadap suatu hal, sehingga kita menolak menerima kenyataan bahwa kelompok kita pun tentunya memiliki fakta-fakta negatif di samping fakta-fakta positifnya. Kadang pula, solidaritas terbentuk hanya karena kita memiliki kepentingan bersama (pribadi) yang bertentangan dengan kepentingan orang banyak, sehingga kita mati-matian membela “kelompok” kita hanya supaya kepentingan kita pribadi dapat terpenuhi.

Seorang dosen saya pernah mengatakan, “Kamu mau lihat bagaimana kalau kepentingan pribadi/kelompok lebih diutamakan daripada kepentingan bersama/umum? Lihat saja sel-sel kanker. Mereka bertumbuh dan berkembang dengan menolak kontrol dari pusat; mereka tidak mengikuti aturan dan terus membelah diri hanya demi kepentingan kelompoknya; mereka memonopoli makanan dan merugikan sel-sel lain. Dan dari sel-sel kanker yang jumlahnya hanya sepersekian dari keseluruhan tubuh itu, mereka bisa tumbuh dan menghancurkan seluruh tubuh kita.”

Demikian pula halnya dengan kita. Apabila kita menolak untuk merendahkan ego dan memandang suatu persoalan secara objektif, atau apabila kita bersembunyi di balik dalih solidaritas hanya agar kita bisa menyelamatkan diri sendiri, maka celakalah kita. Sudah saatnya kita mengganti cara berpikir kita menjadi lebih luas dan lebih terbuka, dengan mengesampingkan ego dan dengan mempertimbangkan segala sudut pandang, sebab menurut saya, solidaritas yang sejati tidaklah terbatas pada “karena kita sekelompok maka saya akan membela”, melainkan “membenarkan jika benar, dan mengatakan salah jika salah, namun tetap menjaga tali silaturahmi baik dalam kondisi senang maupun susah”, dan bukannya seperti oportunis yang jika (terbukti) kalah kemudian meloncat-loncat dari satu kubu ke kubu lainnya yang dirasa menguntungkan.

Fakta tetaplah fakta. Persepsi tidak mengubah fakta, hanya menghadirkan variasi kebenaran dalam berbagai versi. Seperti kata teman saya, “The truth is one; its version is many.” Jangan biarkan identitas kolektif menguasai kita di balik topeng solidaritas. Percayalah pada akal dan hati nurani Anda sendiri. Jangan takut untuk meragu, sebab sesungguhnya ada banyak orang yang ingin meragu, tetapi dibungkam, atau tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.

.

10553519_771956812861466_1371789540869680587_n

Advertisements

2 thoughts on “Solidaritas vs Objektivitas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s