A Priori


Cintaku padamu adalah sebuah a priori.

Dan kita akan duduk berdampingan menertawakan kebodohan semua orang di dunia ini, sebab kita merasa kitalah yang terhebat dan maha mengetahui di antara semua yang hidup. Kita mencintai, dan karena itu maka kita adalah superior. Kita bebas, dan oleh karena itu kita tidak peduli terhadap dunia.

Atau apakah justru kita yang telah menyalahi hukum alam? Mereka bilang semua yang tidak normal akan punah oleh hukum alam. Tetapi, apa pula hukum alam itu? Bukankah normal itu hanya sekadar persoalan mayoritas? Apakah normal selalu berarti benar, ataukah normal hanya sekadar pembenaran? Seperti halnya para penderita skizofrenia dengan wahamnya, demikian pula kita dengan delusi kita terhadap dunia yang gila ini.

Ah, betapa inginnya aku mengintip isi pikiranmu, mencoba memandang dunia dari sudut pandangmu, dan melihat diriku dari matamu. Sebab kita berdua sangat berbeda dan aku sangat mencintaimu (benar, itu “dan”, bukan “tetapi”) sehingga sungguh mati aku ingin tahu apakah di matamu, aku seindah dirimu yang kulihat melalui mataku.

.

Cintaku padamu adalah sebuah a priori.

Sayup-sayup suara Jamie Cullum mengalun di latar belakang, “…and the difference is you…” Tahukah kau, aku lebih menyukai versi Jamie Cullum ini dibandingkan dengan versi-versi terdahulunya. Mungkin karena aku wanita, dan dia lelaki. Aku wanita, dan aku mencintaimu sebagaimana seorang wanita mencintai seorang lelaki; dan pada satu titik, aku sadar bahwa cinta ini bisa menghancurkan kita berdua. Namun siapa yang peduli? Setiap jam, setiap menit, setiap detik, puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang lahir dan mati; dan apa peduli mereka terhadap sepasang anak manusia yang sedang menikmati kesempatan mencintai dan dicintai?

Jika setiap nyawa adalah penting, maka arti penting itu sendiri akan menjadi tidak bermakna. Jika setiap nyawa adalah penting, dengan logika yang sama kita dapat mengatakan bahwa setiap nyawa juga adalah tidak penting. Seperti halnya kita menjalani proses kehidupan sekaligus menjalani proses menuju kematian dalam sekuens waktu yang sama.

.

Cintaku padamu adalah sebuah a priori.

Apakah kau tahu rasanya menjadi seseorang yang dituntut untuk selalu mengerti? Ketika semua orang tidak merasa perlu untuk menjelaskan alasan-alasan dan sikap mereka padamu, dan hanya berharap kau akan memahami mereka. Pada awalnya kau akan bertanya-tanya “mengapa?” dan merasa mungkin kau kurang membuka diri terhadap sahabat-sahabatmu, atau mungkin kau bukan orang yang tepat untuk diajak bercerita. Kemudian, akan tiba saatnya ketika kau akhirnya berhenti bertanya dan berhenti peduli, bukan karena hati nuranimu sudah tumpul, melainkan karena kau menyadari bahwa mereka telah berhenti peduli lama sebelum kau sendiri akhirnya memutuskan untuk berhenti peduli.

Apakah kau tahu rasanya menjadi seseorang yang dituntut untuk selalu mengerti? Sebab orang-orang menganggap dirimu sudah dewasa hanya karena umurmu sudah kepala dua, dan oleh karena itu maka mereka menganggap kau tentunya harus lebih mengutamakan logika ketimbang perasaan, dan “menolak untuk mengerti” hanyalah sisa-sisa dari ketidakdewasaan yang harus dibuang jauh-jauh. Lalu akhirnya kau belajar untuk menumpulkan perasaan, dan berusaha untuk selalu merasionalisasi setiap emosi yang datang menghampiri. Kau mulai mengatakan bahwa semua emosi itu hanyalah akibat dari aktivitas neurotrasmiter dan hormon-hormon yang ada, dan oleh karenanya mereka adalah tidak logis, dan kegiatan “merasakan” adalah salah satu kelemahan manusia. Kau belajar untuk merasionalisasi hati.

Apakah kau tahu rasanya menjadi seseorang yang dituntut untuk selalu mengerti? Ketika mereka semua akhirnya berusaha menjelaskan alasan-alasan dan sikap-sikap mereka padamu selama ini, disertai dengan alasan-alasan rasional dan kata-kata, “kau tentunya mengerti” sebab bagi mereka, kau adalah seorang yang tangguh dan rasional karena mampu menyepelekan perasaan-perasaan pribadimu, tanpa menyadari bahwa merekalah yang telah melatihmu untuk membekukan hati. Kemudian, karena menyangka kau telah menjadi seseorang yang tidak terpengaruh oleh emosi, maka mereka akan mulai menumpahkan segala emosi-emosi mereka padamu, tanpa merasa perlu untuk menutup-nutupi ataupun menjaga perasaanmu, sebab mereka yakin bahwa kau adalah orang yang kuat dan pasti mampu mengatasinya sendirian.

Padahal, mereka tidak tahu bahwa diam-diam kau masih menyimpan anak kecil itu di sana, di sebuah sudut terpencil yang jauh dari permukaan, dan bahwa ia masih dapat ikut mendengar apa yang mereka sampaikan padamu. Mereka tidak tahu bahwa di balik dinding tinggi yang tampaknya kokoh itu, hanya ada seorang anak kecil yang diam-diam mendamba untuk melepaskan diri ke dunia luar. Mereka tidak tahu, bahwa pada saat-saat tertentu, anak kecil itu meringkuk di sudut dan menutup kedua telinganya dengan tangan, memohon mereka untuk berhenti berbicara dan kau untuk berhenti mendengarkan, namun mereka tidak mengenal anak kecil itu, dan kau pun telah terlatih untuk mengabaikannya. Mereka tidak tahu, bahwa kadang-kadang lebih baik sendiri daripada bersama orang yang menganggap kau adalah orang lain yang bukan dirimu.

Mereka tidak pernah tahu, sebab kau menyembunyikannya dengan begitu baik – bahkan kadang kau mempercayai ilusimu sendiri. Mereka tidak akan tahu, dan mereka tidak mau tahu.

Lalu kau datang – dan kau mengerti – padahal aku tidak pernah memintamu untuk mengerti. Kau datang dan memahami hal-hal mengenai diriku yang bahkan aku sendiripun tidak tahu ada di sana. Kau mengerti, dan kau tidak menyesal karena telah mengerti.

.

Cintaku padamu adalah sebuah a priori.

Apakah cinta itu? Apakah cinta adalah takdir, atau nasib? Apakah cinta harus dicari, atau akan datang sendiri seiring berjalannya takdir atau nasib? Aku tidak tahu, dan aku tidak perlu tahu. Bagiku, cinta adalah pilihan, dan jika takdir atau nasib memang ada dan berkata lain, maka aku akan mengintervensi takdir dan nasib itu untuk menemukanmu.

.

Cintaku padamu adalah sebuah a priori.

Para pujangga dan penyair sejak lama telah menyitir bait-bait mengenai patah hati dan sakitnya cinta; bukankah tema lagu yang paling banyak disenandungkan adalah lagu patah hati? Tetapi dasar manusia keras kepala, mereka takkan benar-benar percaya sebelum mencoba dan mengalami sendiri. Maka jadilah banyak orang jatuh cinta, dan oleh karenanya banyak pula yang patah hati. Sekian persen dari mereka berhasil, dan orang-orang ini dijadikan harapan bagi mereka yang belum mencoba, atau sedang berada di tengah jalan, seperti halnya pasien tumor otak yang menggantungkan harapan dan mimpi-mimpinya pada tingkat keberhasilan operasi sepuluh persen; padahal bukankah lebih masuk akal jika melihat dari sudut pandang yang sembilan puluh persennya?

Demikianlah kata Taylor Caldwell, “It is human nature to instinctively rebel at obscurity or ordinariness.” Manusia memang diciptakan memiliki naluri untuk menentang segala sesuatunya. Karena itulah para skeptis tetap berdoa, dan karena itulah manusia tetap mencintai. Namun, tidakkah kau pikir bahwa kita ini sebenarnya munafik? Sebab setiap orang yang religius sekalipun akan tetap meyakini bahwa mereka dapat mengubah takdir Tuhan dengan adanya kehendak bebas, seperti halnya kau akan tetap minum obat ketika jatuh sakit ketimbang hanya pasrah dan berdoa – kau pasti mencari jalan untuk mempertahankan diri. Karena itulah aku tidak percaya bahwa manusia jatuh ke dalam dosa ketika Adam dan Hawa memakan buah pengetahuan terlarang, ataupun ketika manusia dipencarkan ke berbagai penjuru mata angin bersamaan dengan runtuhnya Menara Babel dan terpecahnya bahasa. Yang kuyakini adalah manusia jatuh ke dalam dosa ketika kita melihat tindakan-tindakan jahat yang terjadi di depan mata kita, namun kita memilih untuk mengabaikannya dan tidak melakukan apa-apa.

.

Cintaku padamu adalah sebuah a priori.

Tahukah kau pertanyaan paling klise yang selalu ditanyakan oleh orang-orang yang sedang dimabuk asmara? Itu adalah “Mengapa kau mencintaiku?” Dan aku sungguh berharap, kau takkan cukup mabuk untuk menanyakan pertanyaan itu padaku, sebab aku sendiri pun tidak tahu apa jawabannya.

.

Cintaku padamu adalah sebuah a priori.

Mungkinkah cintaku padamu akan tetap bertahan setelah satu, lima, atau sepuluh tahun mendatang? Kau adalah sebuah buku yang tertutup, dan aku baru saja mulai membuka halaman-halamannya. Setiap lembar yang kubaca, ada sedikit hal yang kupelajari tentang dirimu, bukan hanya hal-hal sepele seperti apa warna favoritmu atau apa makanan kesukaanmu, melainkan juga hal-hal yang lebih dalam mengenai cara berpikirmu dan pandanganmu terhadap dunia. Sejauh ini, kau adalah buku favoritku.

.

Cintaku padamu adalah sebuah a priori.

Ketika kau datang, dan kau mengerti – padahal aku tidak pernah memintamu untuk mengerti – maka saat itulah aku tahu, ada beberapa hal yang tidak perlu dijelaskan dengan logika. Ada beberapa hal yang tidak memerlukan bukti-bukti empiris maupun pembuktian hipotesis ilmiah, seperti halnya sebuah postulat tidak memerlukan itu semua. Ada beberapa hal yang pantas untuk hanya dirasakan, meskipun hal itu bertentangan dengan akal sehatku. Ada hal-hal yang kadangkala layak kita percayai, seperti halnya pasien yang menggantungkan impiannya pada tingkat keberhasilan sepuluh persen, meskipun aku kerap mengingatkannya akan kemungkinan sembilan puluh persen yang lain.

.

Cintaku padamu adalah sebuah a priori.

Jangan bertanya mengapa; jangan pula bertanya sampai kapan, sebab cinta yang didefinisikan dan dirasionalisasi adalah cinta yang dibatasi.

Advertisements

2 thoughts on “A Priori

  1. Keren yang terakhir, “Jangan bertanya mengapa; jangan pula bertanya sampai kapan, sebab cinta yang didefinisikan dan dirasionalisasi adalah cinta yang dibatasi.” 😀 Terus menulis Oma!!!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s